Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tiga Jenis Sidang yang Seharusnya Disiarkan Langsung di Televisi

Aditia Purnomo oleh Aditia Purnomo
16 Oktober 2016
A A
Beberapa Sidang yang Harus Disiarkan Langsung di Televisi

Beberapa Sidang yang Harus Disiarkan Langsung di Televisi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sidang kasus Jessica Kumala Wongso sedikit lagi mencapai klimaks.

Setelah menemani hari masyarakat kita selama beberapa pekan ini, siaran langsungnya bakal membuat hati sebagian kita kembali sepi. Rating tinggi dan pemasukan yang lumayan besar buat stasiun televisi jelas membuat mereka bakal berpikir untuk membuat serialnya.

Bisa saja, apapun vonis hakim serial adalah jawabannya. Jika Jesica dinyatakan bersalah, maka sang pengacara Otto Hasibuan bakal membela dengan mengajukan banding. Kalau tidak, ya bapaknya korban yang mengajukan banding.

Dan hal ini bakal menjadi seru, bagi stasiun televisi, apalagi kalau kasusnya dibawa hingga ke Mahkamah Agung. Bakal mendatangkan keuntungan besar.

Kalaupun tidak mau dibuat serialnya, saya rasa stasiun televisi bisa menampilkan sidang-sidang lainnya yang saya rasa tidak kalah menarik dan menghibur. Ya, kalaupun tidak terlalu menghibur, saya rasa ada gunanya televisi menyajikan sidang-sidang yang informatif buat masyarakat. Yang begini ini juga bisa mendatangkan rating tinggi.

Maka, setelah melalui telaah tingkat tinggi sebagai seorang akademisi di fakultas komunikasi (baca: dakwah), saya mengajukan beberapa sidang ini agar segera disiarkan secara langsung oleh para pemilik frekuensi.

Sidang Perceraian

Yang pertama dan jelas diutamakan tentunya adalah sidang perceraian. Entah sidang cerai artis siapa atau masyarakat biasa.

Dari yang saya dengar, seorang kenalan pengacara pernah menyatakan kesaksiannya melihat beberapa hal penting di sidang perceraian. Belio melihat betapa para korban perceraian adalah mamah-mamah muda, entah anak satu, dua, atau belum punya yang mana yang paling aduhai.

Bayangkan, mereka, para mamah muda itu, menjadi korban dari sebuah peristiwa tidak menyenangkan bernama perceraian.

Ketika resmi bercerai, bisa saja mereka sedikit lega karena beban biaya pengacara tak lagi membengkak. Tapi setelah itu, mereka bakal merasakan sepi dan kurangnya kehangatan dari seorang teman. Itu belum ditambah sentimen negatif masyarakat terhadap predikat janda yang didapatnya. Betapa tidak enaknya perceraian itu.

Selain itu, agar tidak dipandang seksis atau sebagainya, sudah barang tentu korban dari sudut lainnya adalah para duda yang bisa jadi tak kalah keren dari Mike Lewis atau siapalah. Karena agak sulit membayangkan para mamah muda itu dicerai seorang lelaki dengan tampang seperti saya. Sangat tidak mungkin saya rasa.

Di sanalah stasiun televisi masuk untuk memberi pencerahan pada mereka. Dengan menampilkan sidang cerai para korban, mereka bisa menyampaikan pada khalayak kalau bakal ada satu calon ‘jomblo’ yang bisa digebet. Bakal ada satu calon ‘jomblo’ yang bisa mereka perjuangkan untuk bahagia.

Saya yakin, program ini bakal mendapat respon baik dari masyarakat dan rating. Sudah membantu para jomblo untuk mendapatkan pasangan hidup, tayangan ini juga bakal membuat harkat pengacara kasus cerai lebih tinggi bayarannya. Hahay.

Sidang Tilang

Lalu sidang kedua yang saya rekomendasikan adalah sidang tilang.

Iklan

Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo tentang pemberantasan pungli di lingkaran pemerintahan, sidang ini saya rasa bakal mengedukasi masyarakat soal tidak diperlukannya calo dalam proses sidang tilang. Kenapa banyak orang menggunakan calo untuk mengurus perkara tilang, bisa jadi karena mereka tidak tahu bagaimana proses sidang tilang itu sendiri.

Sebagai anak muda dari Fakultas Dakwah di Universitas Islam, sogok-menyogok dan memberi pungutan liar di dunia tilang adalah haram hukumnya bagi saya. Karenanya, ketika pernah kena tilang, saya memutuskan untuk mengikuti sidang saja ketimbang pakai calo.

Ternyata, mau ikut sidang saja kita harus berjibaku dengan ratusan orang untuk mendapatkan tempat di hadapan hakim. Sudah repot antre dan menunggu agak lama, ternyata sidang yang dihadapkan pada kita hanyalah begitu saja. Cuma ditanya tahu kesalahan atau tidak, lalu diberi vonis dan disuruh bayar. Begitu saja, selesai.

Jika kemudian sidang tilang disiarkan secara langsung di televisi, bisa jadi agenda sidang yang gitu-gitu saja berubah jadi lebih menarik. Nantinya adegan-adegan dalam sidang bakal berubah, nggak lagi menjemukan seperti sidang tilang selama ini.

Siapa tahu, nanti bakal ada nota pembelaan setebal 4000 halaman yang dibacakan pelanggar agar terbebas dari jeratan denda. Siapa tahu.

Lagipula, hal positif yang bakal dirasakan masyarakat dari disiarkannya sidang tilang secara langsung adalah pemahaman tentang itu sendiri. Nantinya informasi soal tilang bukan lagi monopoli para calo dan agenda Presiden Jokowi soal pemberantasan pungli bukan sekadar gertak sambal.

Kelak juga bakal beredar buku-buku soal tutorial mengikuti sidang tilang yang baik di toko buku yang jelas membuat penerbit dan penjual buku senang. Luar biasa kan?

Sidang Skripsi

Yang prioritas memang selalu disebut terakhir, apa itu? Betul: sidang skripsi.

Sebagai ajang untuk membuktikan kualias intelektual seorang calon sarjana, sidang skripsi kerap dianggap angker bagi para mahasiswa tingkat akhir. Seorang teman, ketika menghadapi sidang ini, bahkan harus tidak bisa tidur karena grogi dan datang kesiangan karenanya.

Kegentaran ini terjadi karena mereka tidak tahu bagaimana jalannya sidang. Belum lagi desas-desus yang menakutkan soalnya, membuat nyali mereka makin ciut untuk menghadapi sidang ini. Saya sendiri tidak tahu bagaimana jalannya sidang, apalagi rasa takut untuk menghadapinya karena memang belum pernah merasakannya.

Karena itu, siaran langsung untuk sidang skripsi adalah sebuah terobosan baru di dunia pertelevisian agar negara ini dapat mencetak para sarjana berkualitas.

Agar nantinya tidak ada lagi mahasiswa seperti Eddward S. Kennedy yang harus blingsatan menjelang sidang. Serta supaya sidang skripsi menjadi satu program akademik yang membahas argumen-argumen akademis dipandu oleh para pimpinan sidang.

Kalaupun tidak ratingnya nggak terlalu besar, ya tak apa, karena tayangan ini adalah bagian dari tugas media sebagai alat edukasi masyarakat. Dan kalau nantinya stasiun tv swasta nggak mau, siapa tahu TVRI bersedia menayangkan. Siapa tahu pula setelah siaran langsung sidang skripsi tayang, saya jadi ada semangat buat memperjuangkan lulus. Siapa tahu.

Setelah membaca tulisan di atas, saya yakin ada beberapa teman yang kecewa karena sidang kasus-kasus perburuhan, agraria, atau yang menjadi persoalan kerakyatan tidak ditampilkan. Nantinya, pandangan mereka terhadap saya yang dianggap sebagai aktivis bakal berubah. Peduli setan.

Karena bagi saya, sidang-sidang kasus perjuangan kerakyatan adalah sesuatu yang penting. Tidak mungkin kita bisa mengharap sidang kriminalisasi aktivis buruh atau sidang kriminalisasi petani bakal disiarkan.

Wong diberitakan oleh mereka saja tidak, kok ya mau kita berharap pada media…

Lagipula, apa yang ditayangkan oleh televisi itu tidak ada yang penting. Mungkin ya menghibur bagi sebagian orang, tapi ya tetap tidak bermanfaat. Lagipula mana yang lebih penting, sidang Jesicca atau kasus penggusuran bukit duri? Dan mana yang disiarkan? Jelas yang tidak penting, kan?

Sudahlah, matikan saja televisimu.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: jessicasidangskripsi
Aditia Purnomo

Aditia Purnomo

Asli Tangerang, tinggal di Jogja. Tukang review hape baru. Pernah ganti hape 50 kali dalam 3 tahun.

Artikel Terkait

Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO
Edumojok

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Garap skripsi modal copas karena alasan sibuk di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tak punya duit buat bayar joki. Lulus PTN tepat waktu tapi berakhir kena karma MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi Modal Copas karena Sibuk di Ormek dan Tak Kuat Bayar Joki, Lulus PTN Tanpa Kendala tapi Sengsara Tak Bisa Kerja

13 April 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
daftar isi dan daftar pustaka skripsi.MOJOK.CO
Kampus

Daftar Isi dan Daftar Pustaka: “Sepele” tapi Bikin Saya Nyaris Tak Lulus Kuliah, Menyesal Tak Pernah Mempelajari Cara Membuatnya

5 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO

Jadi PNS di Desa Luar Jawa Lebih Sejahtera daripada di Kota, Ilmu Nggak Sia-sia dan Nggak Makan Gaji Buta

20 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Dulu PD Paling Tampan dan Jadi Idaman saat Naik Motor Suzuki Satria FU, Kini Malah Geli dan Malu karena Ternyata Jamet

22 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.