Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
19 Januari 2026
A A
Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa MOJOK.CO

Ilustrasi Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Ketika Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia tertinggal karena korupsi merajalela, bukan karena kurang insinyur

Pemerintah bilang kita perlu mengejar ketertinggalan dalam studi bidang sains dan teknologi atau saintek. Tapi ketertinggalan yang mana? Indonesia tidak tertinggal karena kurang insinyur. Indonesia tertinggal karena korupsi merajalela, birokrasi tidak efisien, dan masyarakat tidak kritis. Semua itu adalah persoalan yang solusinya ada di ranah ilmu sosial.

Siapa yang akan menganalisis kebijakan publik jika kita hanya punya data scientist tanpa policy analyst? Siapa yang akan memediasi konflik agraria jika kita hanya punya arsitek tanpa antropolog? Siapa yang akan menjaga keberagaman budaya jika kita hanya punya programmer tanpa sejarawan?

Yang lebih mengerikan lagi, kebijakan ini mengirim pesan bahwa pemikiran kritis, refleksi filosofis, dan sensitivitas budaya adalah kemewahan yang tidak perlu dibiayai negara. Padahal, justru inilah fondasi peradaban yang sehat. Teknologi tanpa filsafat melahirkan distopia. Kemajuan tanpa etika melahirkan bencana.

Artikel Daston juga mengingatkan kita tentang peran “failure and ignorance” dalam pembentukan pengetahuan. Sains berkembang bukan hanya melalui kesuksesan, tapi juga melalui kegagalan dan pengakuan atas ketidaktahuan. 

Namun, dalam narasi developmentalis seperti yang dianut pemerintah saat ini, kegagalan dianggap tabu, dan ketidakpastian harus dieliminasi. Padahal, justru ilmu sosial-humaniora yang mengajarkan kita untuk nyaman dengan ambiguitas, untuk menghadapi kompleksitas tanpa jatuh ke dalam solusi teknis yang simplistis.

Universitas dengan keunggulan sosial-humaniora semakin terpinggirkan karena ditinggalkan LPDP

Kebijakan 80:20 ini juga akan memperdalam ketimpangan struktural. Kampus-kampus dengan program STEM yang kuat akan semakin kuat. Universitas dengan keunggulan di sosial-humaniora akan semakin terpinggirkan. Mahasiswa dari jurusan eksakta akan semakin percaya diri melamar beasiswa, sementara mahasiswa sosial-humaniora akan berpikir dua kali sebelum mencoba.

Dalam jangka panjang, ini akan menciptakan generasi yang pincang: kuat di satu kaki, lemah di kaki lainnya. Indonesia akan punya banyak engineer yang pintar membangun infrastruktur, tapi minim pemikir yang mampu mempertanyakan: infrastruktur untuk siapa? Pembangunan untuk apa? Kemajuan menuju ke mana?

Lebih jauh lagi, kebijakan ini mengabaikan apa yang Daston sebut sebagai “mutual constitution” dari berbagai bentuk pengetahuan. STEM dan sosial-humaniora tidak berkembang secara terpisah, melainkan saling membentuk satu sama lain. 

Misalnya, perkembangan statistik di abad ke-19 tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan negara modern untuk mengelola populasi (biopolitik). Perkembangan ilmu komputer tidak bisa dipisahkan dari teori informasi yang berakar pada linguistik dan filsafat bahasa. Ketika kita memutus konstitusi mutual ini, kita melemahkan kedua-duanya.

Jalan keluar: keseimbangan, bukan dominasi

Yang Indonesia butuhkan bukan dominasi STEM atas sosial-humaniora, tapi keseimbangan. Bukan kompetisi, tapi kolaborasi. Negara maju seperti Jerman, Jepang, dan Singapura tidak maju karena hanya fokus di STEM. Mereka maju karena membangun ekosistem pendidikan yang holistik, di mana sains dan humaniora berjalan beriringan.

Jika pemerintah benar-benar ingin mengejar ketertinggalan, alokasi LPDP seharusnya 50:50, atau minimal 60:40. Beri ruang yang adil untuk semua disiplin ilmu. 

Biarkan mahasiswa filsafat, sastra, dan komunikasi juga mendapat kesempatan sama untuk belajar di luar negeri, membawa perspektif baru, dan memperkaya wacana intelektual Indonesia.

Daston menutup artikelnya dengan menekankan bahwa history of knowledge harus melampaui history of science—bukan menggantikannya, tapi memperkayanya. Sama halnya, Indonesia harus melampaui fetisisme STEM—bukan menghapusnya, tapi menempatkannya dalam ekosistem pengetahuan yang lebih luas dan seimbang.

Karena pada akhirnya, bangsa yang maju bukan bangsa yang hanya pandai membuat robot, tapi bangsa yang tahu untuk apa robot itu diciptakan. Dan pertanyaan “untuk apa” itu, sejak dulu hingga sekarang, adalah wilayah filsafat, sosiologi, dan humaniora.

Iklan

Negara ini tidak hanya butuh teknisi. Negara ini juga butuh pemikir. Dan pemikir itu tidak lahir dari laboratorium sains, melainkan dari tradisi kritis yang dijaga oleh ilmu sosial dan humaniora. 

Wallahu a’lam bisshawab.

Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2026 oleh

Tags: beasiwabeasiwa LPDPLorraine DastonLPDPpemikiran kritisSTEM
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO
Edumojok

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO
Sehari-hari

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO
Sosok

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO
Edumojok

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Supra Fit: Motor Honda yang Bikin Kecewa dan Gak Bikin Bangga MOJOK.CO

Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.