MOJOK.CO – Peristiwa yang menimpa Yurizal menyadarkan kita pada satu kenyataan pahit: pendidikan tinggi, gelar bergengsi, dan kecakapan akademik tidak selalu berjalan beriringan dengan kemampuan memperlakukan orang lain dengan empati.
Nama Yurizal Tri Chaerawan atau Rizal menjadi perbincangan di media sosial setelah keluhannya ketika menunggu kamar rumah sakit justru mendapat komentar tidak pantas dari sejumlah tenaga kesehatan. Kalimat seperti “Potong aja nadinya” dan “Ke ruang jenazah aja, kosong noh” tentu bukan respons yang pantas diterima seorang pasien.
Beberapa hari setelah mengunggah keluhan tersebut, Yurizal meninggal dunia. Kepergiannya memantik kemarahan publik sekaligus menyisakan pertanyaan: bagaimana kalimat sekejam itu dapat keluar dari orang-orang berpendidikan tinggi yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan?
Tulisan ini tidak bermaksud membahas kronologi kasus Yurizal secara terperinci. Namun, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan kecakapan akademik tidak otomatis membuat seseorang mampu memperlakukan manusia lain dengan empati.
Bagi saya sebagai orang tua, kenyataan itu memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman. Selain sibuk mengajari anak membaca, berhitung, dan mengejar prestasi, sudahkah kita membantu mereka mengenali perasaan sendiri dan menghargai pengalaman orang lain?
Empati bukan sekadar mengasihani
Bila ditanya bagaimana mengajarkan empati kepada anak, sebagian orang tua mungkin menjawab dengan menunjukkan video anak-anak kelaparan atau mengajak anak merayakan ulang tahun di panti asuhan.
Kegiatan berbagi tentu tidak otomatis keliru. Masalah muncul ketika kehidupan orang lain dipertontonkan hanya agar anak merasa lebih beruntung. Orang yang sedang mengalami kesulitan akhirnya diperlakukan sebagai alat peraga moral. Kita berdiri sebagai pihak yang lebih tinggi, sedangkan mereka ditempatkan sebagai objek yang perlu dikasihani.
Pola serupa dapat ditemukan dalam tayangan televisi dan media sosial. Kesulitan orang miskin dieksploitasi, lalu mereka ditampilkan sebagai sosok tidak berdaya yang menunggu diselamatkan seorang “pahlawan”. Kita mungkin tersentuh dan menangis, tetapi belum tentu memahami apa yang mereka rasakan.
Empati berbeda dari rasa kasihan. Rasa kasihan dapat menciptakan jarak antara pihak yang dianggap lebih beruntung dan mereka yang dipandang menderita. Sementara itu, empati menempatkan manusia sebagai subjek yang setara, lengkap dengan pikiran, perasaan, pengalaman, dan pilihan hidupnya sendiri.
Dalam kasus komentar nirempati nakes yang sedang santer, jelas para oknum nakes tersebut juga perlu kembali belajar bahwa pasien bukan sekadar objek dan mereka bukanlah sosok superior yang boleh berbicara sesukanya. Juga, unggahan biasa seorang pasien di media sosial bukanlah objek yang pantas mendapat limpahan kekesalan para nakes terhadap sistem kesehatan yang masih penuh kekurangan di sana-sini. Marahnya ke pemerintah aja!
Lantas, apa sebenarnya empati?
Tinjauan dari perspektif neurosains yang dilakukan Jean Decety dan Camille Holvoet menunjukkan bahwa empati dibangun oleh beberapa kemampuan. Di antaranya adalah mengenali emosi, membedakan pengalaman diri dan orang lain, melihat suatu peristiwa dari perspektif orang lain, serta mengelola respons emosional ketika menghadapi perasaan orang lain.
Dengan demikian, mengajarkan empati tidak cukup dengan menunjukkan penderitaan seseorang lalu berkata, “Kasihan, ya.” Anak perlu dibantu memahami apa yang terjadi di dalam dirinya sebelum belajar memahami dunia emosi orang lain.
Anak juga membutuhkan kosakata emosi untuk bekal empati
Banyak orang tua mendaftarkan anaknya les membaca, matematika, hingga bahasa asing sejak usia dini. Semua itu penting. Namun, jangan sampai karena ingin anak segera pintar, juara olimpiade, dan menjadi komisaris pada usia muda, kita melupakan kemampuan yang lebih mendasar: mengenali emosi.
Literasi emosi bahkan dapat diajarkan sebelum anak mengenal abjad. Ketika anak marah karena dilarang bermain, orang tua bisa berkata, “Kamu marah karena masih ingin bermain, ya?” Begitu pula ketika anak merasa kecewa, takut, malu, kesepian, atau cemas.
Memberi nama pada emosi bukan berarti membenarkan setiap perilaku anak. Anak tetap perlu memahami batasan. Namun, sebelum belajar mengelola perasaan, ia harus tahu perasaan apa yang sedang dihadapinya.
Saya teringat ketika membacakan buku berjudul Petualangan Sekeping Kancing kepada putri saya. Buku itu berkisah tentang sebuah kancing yang terlepas, diabaikan, dan dilupakan. Setelah berpetualang ke berbagai tempat, si Kancing akhirnya bertemu Bonita, seorang anak yang membuatnya merasa berguna dengan menjadikannya bagian penting dari sebuah boneka.
Setelah cerita berakhir, saya bertanya kepada putri saya, “Apakah kamu pernah merasa diabaikan seperti Kancing?”
Ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Katanya, setiap kali saya marah, ia merasa seperti si Kancing. Tangisnya pecah dan cerita panjang mengalir dari mulutnya.
Jawaban itu membuat saya terdiam. Saya membacakan buku tersebut dengan niat mengajari anak memahami perasaan tokohnya. Ternyata, sayalah yang sedang diajari melihat kemarahan sendiri dari sudut pandang anak.
Anak mungkin sudah mengenal kata “senang” dan “sedih”, tetapi perasaan diabaikan jauh lebih rumit. Di dalamnya dapat tersimpan kesepian, kecewa, cemas, marah, malu, sekaligus takut.
Jika anak hanya mengenal kata “sedih”, semua pengalaman yang kompleks itu akan masuk ke satu map besar bernama Sedih. Ia akan kesulitan memahami dan menjelaskan kebutuhannya karena tidak memiliki kosakata yang cukup. Jika memahami emosinya sendiri saja sulit, bagaimana kita berharap ia mampu memahami perasaan orang lain?
Membaca buku saja tidak cukup
Buku dapat membawa anak memasuki pengalaman yang belum pernah dialaminya. Melalui tokoh fiksi, anak dapat mengenal rasa kehilangan, kecemburuan, kegagalan, kesepian, dan ketakutan tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.
Namun, membaca saja tidak cukup. Pendidikan tinggi membuat seseorang membaca banyak bahan akademik, tetapi membaca untuk menguasai pengetahuan tidak selalu sama dengan membaca untuk memahami manusia lain.
Karena itu, jangan buru-buru menutup buku setelah cerita berakhir. Ajak anak berbicara. Bantulah anak merefleksikan cerita yang ia baca. Tanyakan hal-hal yang bisa menambah kosakata dan literasi emosinya. Misalnya:
“Apa perasaanmu setelah baca buku tadi?”
“Tadi tokohnya kenapa?”
“Menurutmu kenapa tokohnya memilih melakukan itu?”
“Kalau kamu jadi tokohnya, kamu bakal melakukan apa?”
“Kamu pernah nggak merasakan hal yang sama?”
Jangan hanya bertanya, “Apa pesan moralnya?”
Pertanyaan tentang pesan moral sering membuat anak sibuk mencari jawaban yang dianggap benar. Padahal, percakapan tentang perasaan dapat membantunya memahami bahwa orang lain mungkin melihat dan merasakan suatu kejadian secara berbeda.
Menumbuhkan empati tentu bukan pekerjaan simsalabim. Empati tidak dapat dijejalkan ke kepala seperti nama organ tubuh atau rumus geometri. Ia tumbuh perlahan melalui pengalaman, percakapan, teladan, dan kualitas hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya.
Kita juga tidak bisa menyerahkan semua tugas ini kepada guru di sekolah. Bagaimanapun, peran orang tua lebih besar dan utama. Menurut studi, kemampuan berempati merupakan kombinasi antara gen bawaan dan kualitas pengasuhan.
Sepintar apa pun kelak anak kita, setinggi apa pun sekolahnya, sebanyak apa pun gelarnya, semua itu kehilangan arti apabila ia gagal memanusiakan sesama.
Di tengah interaksi media sosial yang semakin mudah mengubah penderitaan orang menjadi bahan olok-olok, barangkali keterampilan paling penting bukan hanya menciptakan teknologi agar manusia dapat berjalan di planet lain. Keterampilan paling penting adalah bersedia berhenti sejenak, lalu mencoba berjalan dengan sepatu orang lain.
Turut berduka cita untuk keluarga Yurizal. Semoga almarhum mendapat ketenangan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Penulis: Urfa Qurrota ‘Ainy
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Alasan Mengapa Orang Bisa Tidak Memiliki Empati Sampai Meminta Orang Miskin Jangan Punya Anak














