Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy oleh Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy
7 Agustus 2026
A A
Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Ilustrasi Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Peristiwa yang menimpa Yurizal menyadarkan kita pada satu kenyataan pahit: pendidikan tinggi, gelar bergengsi, dan kecakapan akademik tidak selalu berjalan beriringan dengan kemampuan memperlakukan orang lain dengan empati.

Nama Yurizal Tri Chaerawan atau Rizal menjadi perbincangan di media sosial setelah keluhannya ketika menunggu kamar rumah sakit justru mendapat komentar tidak pantas dari sejumlah tenaga kesehatan. Kalimat seperti “Potong aja nadinya” dan “Ke ruang jenazah aja, kosong noh” tentu bukan respons yang pantas diterima seorang pasien.

Beberapa hari setelah mengunggah keluhan tersebut, Yurizal meninggal dunia. Kepergiannya memantik kemarahan publik sekaligus menyisakan pertanyaan: bagaimana kalimat sekejam itu dapat keluar dari orang-orang berpendidikan tinggi yang bekerja di bidang pelayanan kesehatan?

Tulisan ini tidak bermaksud membahas kronologi kasus Yurizal secara terperinci. Namun, peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dan kecakapan akademik tidak otomatis membuat seseorang mampu memperlakukan manusia lain dengan empati.

Bagi saya sebagai orang tua, kenyataan itu memunculkan pertanyaan yang tidak nyaman. Selain sibuk mengajari anak membaca, berhitung, dan mengejar prestasi, sudahkah kita membantu mereka mengenali perasaan sendiri dan menghargai pengalaman orang lain?

Empati bukan sekadar mengasihani

Bila ditanya bagaimana mengajarkan empati kepada anak, sebagian orang tua mungkin menjawab dengan menunjukkan video anak-anak kelaparan atau mengajak anak merayakan ulang tahun di panti asuhan.

Kegiatan berbagi tentu tidak otomatis keliru. Masalah muncul ketika kehidupan orang lain dipertontonkan hanya agar anak merasa lebih beruntung. Orang yang sedang mengalami kesulitan akhirnya diperlakukan sebagai alat peraga moral. Kita berdiri sebagai pihak yang lebih tinggi, sedangkan mereka ditempatkan sebagai objek yang perlu dikasihani.

Pola serupa dapat ditemukan dalam tayangan televisi dan media sosial. Kesulitan orang miskin dieksploitasi, lalu mereka ditampilkan sebagai sosok tidak berdaya yang menunggu diselamatkan seorang “pahlawan”. Kita mungkin tersentuh dan menangis, tetapi belum tentu memahami apa yang mereka rasakan.

Empati berbeda dari rasa kasihan. Rasa kasihan dapat menciptakan jarak antara pihak yang dianggap lebih beruntung dan mereka yang dipandang menderita. Sementara itu, empati menempatkan manusia sebagai subjek yang setara, lengkap dengan pikiran, perasaan, pengalaman, dan pilihan hidupnya sendiri.

Dalam kasus komentar nirempati nakes yang sedang santer, jelas para oknum nakes tersebut juga perlu kembali belajar bahwa pasien bukan sekadar objek dan mereka bukanlah sosok superior yang boleh berbicara sesukanya. Juga, unggahan biasa seorang pasien di media sosial bukanlah objek yang pantas mendapat limpahan kekesalan para nakes terhadap sistem kesehatan yang masih penuh kekurangan di sana-sini. Marahnya ke pemerintah aja! 

Lantas, apa sebenarnya empati?

Tinjauan dari perspektif neurosains yang dilakukan Jean Decety dan Camille Holvoet menunjukkan bahwa empati dibangun oleh beberapa kemampuan. Di antaranya adalah mengenali emosi, membedakan pengalaman diri dan orang lain, melihat suatu peristiwa dari perspektif orang lain, serta mengelola respons emosional ketika menghadapi perasaan orang lain.

Dengan demikian, mengajarkan empati tidak cukup dengan menunjukkan penderitaan seseorang lalu berkata, “Kasihan, ya.” Anak perlu dibantu memahami apa yang terjadi di dalam dirinya sebelum belajar memahami dunia emosi orang lain.

Anak juga membutuhkan kosakata emosi untuk bekal empati

Banyak orang tua mendaftarkan anaknya les membaca, matematika, hingga bahasa asing sejak usia dini. Semua itu penting. Namun, jangan sampai karena ingin anak segera pintar, juara olimpiade, dan menjadi komisaris pada usia muda, kita melupakan kemampuan yang lebih mendasar: mengenali emosi.

Iklan

Literasi emosi bahkan dapat diajarkan sebelum anak mengenal abjad. Ketika anak marah karena dilarang bermain, orang tua bisa berkata, “Kamu marah karena masih ingin bermain, ya?” Begitu pula ketika anak merasa kecewa, takut, malu, kesepian, atau cemas.

Memberi nama pada emosi bukan berarti membenarkan setiap perilaku anak. Anak tetap perlu memahami batasan. Namun, sebelum belajar mengelola perasaan, ia harus tahu perasaan apa yang sedang dihadapinya.

Saya teringat ketika membacakan buku berjudul Petualangan Sekeping Kancing kepada putri saya. Buku itu berkisah tentang sebuah kancing yang terlepas, diabaikan, dan dilupakan. Setelah berpetualang ke berbagai tempat, si Kancing akhirnya bertemu Bonita, seorang anak yang membuatnya merasa berguna dengan menjadikannya bagian penting dari sebuah boneka.

Setelah cerita berakhir, saya bertanya kepada putri saya, “Apakah kamu pernah merasa diabaikan seperti Kancing?”

Ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Katanya, setiap kali saya marah, ia merasa seperti si Kancing. Tangisnya pecah dan cerita panjang mengalir dari mulutnya.

Jawaban itu membuat saya terdiam. Saya membacakan buku tersebut dengan niat mengajari anak memahami perasaan tokohnya. Ternyata, sayalah yang sedang diajari melihat kemarahan sendiri dari sudut pandang anak.

Anak mungkin sudah mengenal kata “senang” dan “sedih”, tetapi perasaan diabaikan jauh lebih rumit. Di dalamnya dapat tersimpan kesepian, kecewa, cemas, marah, malu, sekaligus takut.

Jika anak hanya mengenal kata “sedih”, semua pengalaman yang kompleks itu akan masuk ke satu map besar bernama Sedih. Ia akan kesulitan memahami dan menjelaskan kebutuhannya karena tidak memiliki kosakata yang cukup. Jika memahami emosinya sendiri saja sulit, bagaimana kita berharap ia mampu memahami perasaan orang lain?

Membaca buku saja tidak cukup

Buku dapat membawa anak memasuki pengalaman yang belum pernah dialaminya. Melalui tokoh fiksi, anak dapat mengenal rasa kehilangan, kecemburuan, kegagalan, kesepian, dan ketakutan tanpa harus mengalami semuanya secara langsung.

Namun, membaca saja tidak cukup. Pendidikan tinggi membuat seseorang membaca banyak bahan akademik, tetapi membaca untuk menguasai pengetahuan tidak selalu sama dengan membaca untuk memahami manusia lain.

Karena itu, jangan buru-buru menutup buku setelah cerita berakhir. Ajak anak berbicara. Bantulah anak merefleksikan cerita yang ia baca. Tanyakan hal-hal yang bisa menambah kosakata dan literasi emosinya. Misalnya:

“Apa perasaanmu setelah baca buku tadi?” 

“Tadi tokohnya kenapa?”

“Menurutmu kenapa tokohnya memilih melakukan itu?”

“Kalau kamu jadi tokohnya, kamu bakal melakukan apa?”

“Kamu pernah nggak merasakan hal yang sama?”

Jangan hanya bertanya, “Apa pesan moralnya?”

Pertanyaan tentang pesan moral sering membuat anak sibuk mencari jawaban yang dianggap benar. Padahal, percakapan tentang perasaan dapat membantunya memahami bahwa orang lain mungkin melihat dan merasakan suatu kejadian secara berbeda.

Menumbuhkan empati tentu bukan pekerjaan simsalabim. Empati tidak dapat dijejalkan ke kepala seperti nama organ tubuh atau rumus geometri. Ia tumbuh perlahan melalui pengalaman, percakapan, teladan, dan kualitas hubungan anak dengan orang-orang terdekatnya.

Kita juga tidak bisa menyerahkan semua tugas ini kepada guru di sekolah. Bagaimanapun, peran orang tua lebih besar dan utama. Menurut studi, kemampuan berempati merupakan kombinasi antara gen bawaan dan kualitas pengasuhan. 

Sepintar apa pun kelak anak kita, setinggi apa pun sekolahnya, sebanyak apa pun gelarnya, semua itu kehilangan arti apabila ia gagal memanusiakan sesama.

Di tengah interaksi media sosial yang semakin mudah mengubah penderitaan orang menjadi bahan olok-olok, barangkali keterampilan paling penting bukan hanya menciptakan teknologi agar manusia dapat berjalan di planet lain. Keterampilan paling penting adalah bersedia berhenti sejenak, lalu mencoba berjalan dengan sepatu orang lain.

Turut berduka cita untuk keluarga Yurizal. Semoga almarhum mendapat ketenangan dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Penulis: Urfa Qurrota ‘Ainy
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Alasan Mengapa Orang Bisa Tidak Memiliki Empati Sampai Meminta Orang Miskin Jangan Punya Anak

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2026 oleh

Tags: anakempatinirempatiorang tuaparenting
Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy

Urfa Qurrota Ainy Qurrota Ainy

Urfa Qurrota Ainy adalah seorang ibu dan penulis cerita anak, di samping sejumlah genre lainnya, termasuk kesehatan mental. Karya-karyanya diterbitkan di Let’s Read Asia, Elex Media, dan Buku Mojok. Kalau sedang malas menulis, biasanya ia bantu-bantu suami petik cabai dan sayur di kebun.

Artikel Terkait

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO
Esai

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Anak Tantrum di Kereta Ekonomi bikin Saya Iba ke Ortu. MOJOK.CO
Catatan

Tangisan Anak Kecil di Kereta Ekonomi Bikin Saya Sadar di Usia 25, Betapa Kasih Ibu Diuji Lewat Rasa Lelah

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
Lahir di lingkungan NU tapi justru menemukan kedamaian di Muhammadiyah. MOJOK.CO

Tumbuh di Desa dengan Tradisi Keagamaan yang Kental, Saya Justru Menemukan Kedamaian di Muhammadiyah dengan Rasionalitasnya

3 Agustus 2026
Derita lansia pakai cashless seperti QRIS. MOJOK.CO

Derita Lansia Tak Bisa Beli Roti Hanya karena QRIS yang Menghantui

4 Agustus 2026
Ilustrasi perantau dari desa.MOJOK.CO

Tangis Sunyi Para Perantau: Uang Habis Untuk Hidupi Keluarga, tapi Dicap Durhaka karena Jarang Pulang dan “Tak Hadir” di Orang Tua

3 Agustus 2026
belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026
Olive Chicken di Jogja sama saja dengan Karen Chicken di Surabaya. MOJOK.CO

Olive Chicken Menyelamatkan Lidah Orang Surabaya dari Kuliner Khas Jogja yang Overrated

6 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.