Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bahayanya Media di Indonesia Kutip Berita Cina Anti-Halal dari Media Barat

Novi Basuki oleh Novi Basuki
14 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Duh, berita Cina kampanye anti-halal ternyata menunjukkan media kita masih bergantung pada referensi Barat. Baik itu Detik, Tempo, Kumparan, bahkan sampai NU Online.

Tampaknya, apa yang berkaitan dengan Islam versus komunis hampir bisa dipastikan akan selalu membikin riuh dan—tentu saja—laku. Apalagi kalau lakonnya ditambah satu lagi: si aseng Cina, baik negaranya maupun bangsanya.

Dijamin sudah, tingkat kekonyolannya bakal tak kalah saing dengan drama Pak Prabowo Subianto beserta laskar pembela agama sekelas Amien Rais, Fadli Zon, Fahri Hamzah wa ṣahbihi ajma‘īn yang ramai-ramai “mau dibohongi pakai” pengeroyokan si cantik Ratna Sarumpaet.

Beberapa hari terakhir, misalnya, hampir semua portal berita daring arus utama tanah air seperti Detik, Tempo, Republika, Kumparan, dan banyak lagi yang lainnya, serempak menayangkan artikel soal Partai Komunis Cina yang—kata media-media tersebut—menggelar kampanye anti barang-barang halal di Xinjiang.

Kita tahu, Xinjiang adalah wilayah luas nan kaya sumber daya alam di Cina barat laut yang penduduknya mayoritas bersuku Uighur. Kebetulan, kaum Uighur di sana banyak yang beragama Islam. Meski mayoritas, namun bukan berarti semua penduduknya muslim. Dan, dilihat dari sejarahnya, Uighur yang semula umumnya menganut Buddha, baru beralih ke Islam setelah kerajaan-kerajaan Buddhis dibumihanguskan tentara-tentara muslim dari Kerajaan Islam di Xinjiang bagian selatan.

Jadi mesti diakui, berbeda dengan Islam di wilayah Cina lainnya, Islam di Xinjiang memang lekat dengan pemaksaan—untuk tidak bilang kekerasan—sejak baheula sampai sekarang.

Oke, kembali ke permasalahan awal. Terkhusus soal perkembangan Islam di Cina secara keseluruhan, terus terang SBY, eh saya, prihatin terhadap masih kelewat bergantungnya media nasional kita pada referensi-referensi dari tangan kedua. Maksudnya, bukan pada sumber-sumber primer mutawatir yang bersanad langsung dari Cina.

Maklum, boleh jadi hal demikian disebabkan oleh keterbatasan beberapa orang untuk memahami bahasa Cina—baik bahasa Cina modern maupun bahasa Cina kuno yang tak ada titik koma dan harakatnya ala Alquran rasm al-‘Ustmānī.

Atau, bisa saja ini dikarenakan bias ideologi yang menjadikan mereka meragukan independensi atau netralitas literatur-literatur asal Cina sehingga yang lebih dikedepankan ialah informasi-informasi dari media-media asing yang utamanya berbahasa Inggris.

Celakanya, pemberitaan media asing soal Cina—terlebih perihal daerah agamis yang sensitif semisal Xinjiang dan Tibet—cenderung migrain alias berat sebelah, karena tak jarang dibuat bombastis padahal melenceng dari keadaan sebenarnya akibat pengutipan yang sepotong-sepotong.

Celakanya, berita-berita gaduh ihwal Cina sejenis itu yang demen didaur ulang oleh media-media kita. Lalu, dimamahlah oleh masyarakat kita yang religius plus anti komunisnya masyallah tapi tingkat literasinya sangat menyesakkan dada.

Hal seperti itu terjadi terus sampai jadilah lingkaran setan: komunis dan Cina yang selalu layak dikambinghitamkan. Yang salah siapa? Jelas komunis, Cina, dan Jokowi yang dekat sama aseng! Siapa lagi kalau bukan mereka?

Dalam konteks berita tentang kampanye anti barang-barang halal di Xinjiang, contohnya, NU Online yang mengutip Reuters menulis, “Otoritas China meluncurkan kampanye anti produk yang berlabel halal di Provinsi Xinjiang dengan alasan untuk memerangi ekstremisme dan menghentikan pengaruh Islam dalam kehidupan sekuler di China.” Di “sebuah pertemuan pada Senin (8/10) lalu,” lanjutnya, “para elit Partai Komunis [Cina di] Urumqi Xinjiang memimpin para kadernya untuk bertekad bertarung melawan ‘pan-halalisasi’.”

Apa itu “pan-halalisasi”? Mboh! Yang penting heboh.

Iklan

Padahal, jika media yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama itu—dan media-media yang melansir berita serupa—tidak grusa-grusu dan sudi bertabayun untuk menelusuri bejibun info valid bin sahih dari media berbahasa Mandarin, tak sulit menemukan eksplanasi detail bahwa tidaklah tepat menuding pemerintah komunis Cina “meluncurkan kampanye anti produk yang berlabel halal di Provinsi Xinjiang” atau pula di tempat lainnya.

Dan, kalau media-media ini mau meluangkan waktu sejenak membaca perubahan Peraturan Daerah Otonom Uighur Tentang Deradikalisasi (Xinjiang Weiwuer Zizhiqu Qujiduanhua Tiaoli) yang disahkan oleh “para elite Partai Komunis [Cina di] Urumqi Xinjiang” dalam “sebuah pertemuan pada Senin (8/10) lalu” itu, niscaya akan mafhumlah kita apa definisi “pan-halalisasi” yang termaktub di bab 2 ayat 6.

Baiklah, saya comotkan isi lengkapnya: “Fanhua qingzhen gainian, jiang qingzhen gainian kuoda dao qingzhen shipin lingyu zhi wai de qita lingyu, jie bu qingzhen zhi ming paichi, ganyu qita ren shisu shenghuo de.”

Terjemahan ugal-ugalannya kira-kira begini: “‘Pan-halalisasi’ yakni diperluasnya ruang lingkup konsep halal pada bidang selain produk konsumsi; dan laku mendiskriminasi juga mengintervensi kehidupan sekuler orang lain karena dipandang tidak sesuai dengan ajaran Islam.”

Kalimat itulah yang tidak dikutip utuh—kalau bukan dipelintir—oleh media-media Barat yang kemudian dimakmumi oleh media-media kita. Saya hakulyakin dari situ Tuan dan Puan bisa memahami bahwa yang akan dan sedang dilawan oleh pemerintah komunis Cina adalah menjamurnya kategorisasi halal yang tidak pada tempatnya.

Na‘am, pelabelan halal di Cina sekarang, persis seperti di Indonesia, mulai merambat secara liar pada benda-benda nonesensial yang tidak ada sangkut pautnya dengan makanan dan minuman, melainkan meluas pada pakaian, perabotan, alat elektronik, dan benda-benda mati lainnya.

Pemerintah komunis Cina menengarai, sembrononya dikotomi halal-haram itu merupakan salah satu tanda tumbuhnya benih-benih radikalisme dan ekstremisme agama. Sebaliknya, radikalisme dan ekstremisme agama dikhawatirkan menyuburkan Islamophobia di kalangan masyarakat Cina yang acap dicap kafir kafah karena hidup di negara ṭāġūt oleh mereka.

Pendek kata, kelompok radikalis dan ekstremis inilah yang intinya mau diganyang. Sebab, selain hobinya bikin keharmonisan di sini jadi terganggu, mereka—seperti tulis Profesor Beijing Foreign Studies University Xue Qingguo dalam esai bahasa Arabnya di harian Al-Hayat edisi 30 Agustus 2017—telah membuat:

“Citra Islam berubah dari agama yang terbuka ke yang tertutup, dari yang toleran ke yang intoleran, dari yang moderat ke yang ekstrem, dari yang memudahkan ke yang menyulitkan, dari yang pernah menorehkan prestasi luar biasa di semua cabang ilmu ke yang bahasannya tidak melebihi perihal jenggot, cadar (niqāb), pakaian, dan lain-lain.”

Pemerintah komunis Cina tak mau stabilitas dan keharmonisan negerinya diusik oleh para radikalis dan ekstemis walau dengan cara seremeh-temeh bagaimana pun.

Memangnya Tuan dan Puan mau Indonesia diganggu gerombolan para pembela agama garis kaku macam itu? Kalau enggak mau, selamat, berarti Tuan dan Puan sepemikiran dan layak jadi simpatisan aseng!

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: anti-halalcinaDetikhalaljokowiKomuniskumparanNahdlatul Ulamanu onlineprabowoRepublikareuterssbyXianjiang
Novi Basuki

Novi Basuki

Kandidat Doktor di Sun Yat-sen University, Guangdong, Cina.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO
Kabar

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Caruban—sebagai ibu kota dari Madiun—barangkali terkesan tidak bagus-bagus amat. Tapi bikin jatuh hati lewat hal-hal sederhana MOJOK.CO

Caruban Madiun Memang Tidak Bagus-bagus Amat, Tapi bikin Jatuh Hati Lewat Hal-hal Sederhana

13 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.