Negara absen saat lulusan perguruan tinggi cari kerja yang layak
Di sini sering kali yang luput dari diskusi publik: pemerintah nyatanya tidak cukup berupaya sungguh-sungguh menyediakan lapangan kerja formal. Padahal di saat yang sama, negara terus menarik pajak dengan rajin.
Kenaikan PPN menjadi 12 persen yang mulai berlaku awal 2025 adalah ironi yang lengkap bagi kelas menengah yang sedang compang-camping karena diminta menanggung lebih banyak beban fiskal, sementara lapangan kerja yang layak tidak kunjung ditambah oleh kementerian maupun lembaga-lembaga terkait.
Keberadaan Pasal 27 ayat (2) UUD 1945, yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan,” dan Pasal 28D ayat (2): “Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja,” jadi sekadar mantra manis dalam konstitusi namun miskin implementasi.
Menurut saya ini adalah kontradiksi kebijakan dari negara. Saat negara butuh penerimaan pajak yang besar untuk membiayai program pembangunan, tapi lupa bahwa basis pajak yang kuat hanya bisa tumbuh jika kelas menengahnya tidak terus-menerus terkikis.
Gengsi karena tekanan lingkungan sosial
Ada satu lapisan lagi yang membuat situasi ini makin pelik: gengsi. Bourdieu kembali hadir dengan konsepnya, symbolic capital. Ia menjelaskan bahwa prestise, kehormatan, dan pengakuan sosial adalah bentuk modal yang nyata, bukan sekadar perasaan.
Gelar sarjana selama ini bukan hanya soal kemampuan intelektual, melainkan juga simbol status yang menjadi penanda bahwa seseorang layak diperhitungkan dalam hierarki sosial.
Maka ketika seorang sarjana bekerja sebagai karyawan kafe, jualan online, atau jadi ojol, yang terasa bukan hanya kehilangan penghasilan yang diharapkan, melainkan kehilangan symbolic capital yang selama bertahun-tahun dibangun.
Generasi Z yang berbondong-bondong work from café pun tak selalu soal gaya hidup; sebagian dari mereka tidak punya pilihan ruang kerja lain yang terjangkau, namun tetap harus tampak “sesuai ekspektasi” di mata lingkungan sosialnya.
Masalahnya, sekali lagi bukan mereka tidak mau kerja keras. Namun, akibat standar sosial tentang “pekerjaan yang layak” belum ikut menyesuaikan diri dengan realitas pasar kerja yang sudah jauh berubah.
Seni bertahan hidup yang negaranya nggak bisa membuat kelas menengah tumbuh
Ketika seorang sarjana memilih jalan yang tidak linear atau yang tidak sesuai jurusan, tidak berkantor, pun gajinya tidak bisa dipamerkan di reuni, itu bukan kegagalan. Dalam kerangka Bourdieu, itu adalah strategi bertahan dalam field yang aturan mainnya sudah berubah. Mereka sedang mencari cara baru untuk mengonversi modal yang mereka miliki, di medan yang tidak lagi berpihak kepada mereka.
Inilah adaptasi sesungguhnya. Sebuah kreativitas yang lahir dari ketiadaan pilihan. Tampaknya perlu mengganti narasi usang yang dinormalisasi. Tidak lagi menyebut “sarjana kok kerjanya begitu,” melainkan: luar biasa, mampu bertahan di ekosistem yang tidak ramah ini.
Sebab seni bertahan hidup, di negara yang kelas menengahnya terus menyusut dan lapangan kerja yang layak tidak kunjung tumbuh, adalah keahlian tersendiri. Bourdieu sudah menjelaskan semua ini sejak 1986, kita saja yang memilih tidak mendengar. Lalu mau berharap pada siapa saat negara makin jauh terasa di denyut nadi rakyatnya?! Wallahu alam bisshawab.
Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung dan opini menarik lainnya di Esai Mojok.














