Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Lima Jenis Aktivis Anti-mainstream

Puthut EA oleh Puthut EA
1 Mei 2015
A A
Lima Jenis Aktivis Anti-mainstream

Lima Jenis Aktivis Anti-mainstream

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Stereotip aktivis itu penuh keringat dan daki, ngotot mau menang sendiri, selalu kekurangan uang, senantiasa bersedih, dan sejumlah hal lain yang mendekati hal itu, mestinya segera dibuang jauh. Dunia aktivis bisa kebalikan dari itu semua: wangi, necis, berdompet tebal, dan berhahahihi dengan kaum selebritas. Mojok Institute menggolongkan mereka yang serba ‘wah’ itu sebagai aktivis anti-mainstream. Setidaknya mereka dibagi menjadi lima golongan.

1. Aktivis Pramuka

Maksud aktivis Pramuka ini bukan aktivis yang memakai seragam coklat Praja Muda Karana itu. Melainkan diambil dari salah satu lagu Pramuka yang terkenal, yang dinyanyikan dari mulai golongan Siaga sampai Pandega: Di sini senang, di sana senang. Maksudnya, aktivis jenis ini adalah aktivis yang gaul. Bisa diterima semua kelompok, mau yang kiri mentok sampai kanan pol. Mulai dari yang minum lapen sampai minum wine. Mau ngumpul di sevel oke, di kafe mahal juga oye. Mereka ada di mana-mana asal di tengah situasi yang menggembirakan.

Di sini senang, di sana senang.

2. Aktivis Adalah

Aktivis jenis ini adalah aktivis yang menyembunyikan identitas sesungguhnya. Banyak orang tidak tahu di mana mereka tinggal, dari mana mendapat uang, dan pekerjaan sesungguhnya apa. Mobil mereka gonta-ganti, sering berada di berbagai kota, jam terbang tinggi.

Kalau ditanya, mereka bisnis apa, jawaban mereka selalu: “Adalah pokoknya…” atau “Adalah yang penting cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga…” atau “Adalah asal ada yang bisa disisihkan untuk organisasi…”. Begitulah yang sering terjadi, maka memang mereka layak disebut ‘Aktivis Adalah’.

3. Aktivis Impor

Aktivis impor ini maksudnya sekelompok aktivis Indonesia yang kerja atau tinggal atau kuliah di luar negeri. Biasanya aktivis model begini ini galaknya minta ampun. Semua yang terjadi di Indonesia salah, jelek, buruk, hancur, seakan tanpa masa depan. Mereka juga menganggap semua aktivis yang tinggal di Indonesia kalau tidak brengsek ya penakut, kalau tidak ya bodoh.

Ketika pulang ke Indonesia, mereka selalu membanding-bandingkan dengan negeri tempat tinggal sementara mereka yang aduhai, tertib, bersih, beradab, dan demokratis. Mereka menghujat semua hal yang terjadi di Indonesia lewat hape atau laptop sambil makan donat.

4. Aktivis Palugada

Palugada adalah akronim dari ‘apa lu mau, gua ada’, aktivis bergerak berdasarkan orderan isu. Kalau hari ini ada yang ngorder nyikat KPK, mereka akan dengan keras mengkritik KPK. Kalau besok dapat orderan sebaliknya, mereka segera berbalik membela KPK. Kalau dapat orderan menjelekkan Jokowi mereka akan melakukannya. Kalau orderan datang sebaliknya, mereka juga melakukannya. Tinggal soal ‘ketemu di angka berapa’.

Biasanya aktivis model ini punya banyak kartu nama.

5. Aktivis Jempol Perkasa

Iklan

Ini jenis aktivis yang mengikuti semua isu. Semua hal seakan menjadi beres kalau mereka berkomentar lewat Facebook atau Twitter. Mereka tidak perlu berorganisasi, tidak butuh rapat, tidak mau turun di dunia nyata—mengorganisir, misalnya. Mereka hanya butuh tiga hal: sinyal, pulsa, dan kedua jempol yang makin perkasa.

Begitulah.

Sekarang pertanyaan saya: Anda kalau mau jadi aktivis anti-mainstream, pilih menjadi yang nomor berapa?

Terakhir diperbarui pada 1 November 2018 oleh

Tags: AktivisAnti-mainstreamMojok Institute
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Ragam

Rekaman Kekerasan dalam Patung-patung Dolorosa Sinaga

30 Oktober 2024
Aktivis Lulus Molor Sudah Nggak Zaman MOJOK.CO
Kampus

Sudah Nggak Zamannya Aktivis Lulus Molor, Harus Membuktikan Diri Lulus Cepat IPK Tinggi Meski Sibuk-sibuknya di Organisasi

1 Maret 2024
Mahasiswa Mojok.co
Kilas

Sosiolog UGM: Tidak Turun ke Jalan Bukan Berarti Mahasiswa Apolitis 

24 November 2022
Diagnosis Saya Sebagai Mahasiswa Kedokteran Tentang Penyakit yang Diderita Pejabat Wakanda MOJOK.CO
Pojokan

Beda Polisi Wakanda dengan Polisi Indonesia

16 Oktober 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

21 April 2026
perubahan iklim, cuaca ekstrem mojok.co

Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim

24 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.