Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Rekaman Kekerasan dalam Patung-patung Dolorosa Sinaga

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
30 Oktober 2024
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pameran seni rupa bertajuk “Patung dan Aktivisme” di Jogja menjadi bentuk perlawanan dari seorang seniman Dolorosa Sinaga dan Budi Santoso untuk menolak kekerasan. Mereka ingin sejarah kelam tentang isu kemanusiaan terus menggema.

***

Pameran “Patung dan Aktivisme” digelar dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Senin (28/10/2024) di Jogja National Museum. Saya hadir di sana pukul 16.00 WIB, sembari mengikuti diskusi bersama Rocky Gerung, Enin Supriyanto, dan Melati Suryodarmo tentang aktivisme dan seni.

Saya menyusuri ruang pameran sampai lantai tiga. Setiap menaiki tangga, saya sudah disuguhi dengan tulisan-tulisan perlawanan, misalnya “Kami menolak lupa” atau “Kami lelah dengan kekerasan”. 

Menolak kekerasan lewat pameran seni rupa 

Karya patung milik Dolorosa Sinaga dan Budi Santoso seolah mengajak saya mengingat berbagai peristiwa sosial, politik, krisis ekonomi, kekerasan massal, krisis iklim dan lingkungan hidup di muka bumi. Karyanya menunjukkan pengalaman korban yang miris menghadapi kekerasan dari kalangan atas.

Pameran tiga dimensi itu mengangkat isu soal ketidakadilan, penindasan yang dipertontonkan, dan kemunafikan dalam struktur sosial yang menyesakkan. Saya seperti melihat pengalaman kaum yang tergusur dan terpinggirkan secara langsung dari 53 karya yang ditampilkan.

Karya Dolorosa Sinaga <yoastmark class=

Patung-patung yang merupakan korban kekerasan itu seolah berteriak dan bergeliat untuk bangkit membuka tabir catatan sejarah kelam. Beberapa karya Dolorosa Sinaga yang dipajang berjudul “Di Ambang Batas”, “The Wailings”, “I, The Witness”, “Seri Tiga Penyintas”, dan sebagainya.

Salah satu karya yang terpajang adalah “Tragic Tendency”. Karya ini menunjukkan perempuan dengan tangan terikat pada kerangka besi dengan posisi tubuh yang lunglai dan tak berdaya. Kerangka besi menyimbolkan pembangunan yang gencar di era sekarang.

Sementara, perempuan hanya bisa menjadi pekerja di sektor industri. Mereka ditempatkan dalam pekerjaan-pekerjaan yang tidak membutuhkan keterampilan upah yang rendah. Pembagian kerja itu diciptakan oleh laki-laki.

Menyuarakan isu perempuan dan anak di Gaza

Mata saya terpana ketika melihat karya “Lives Matter!” dari Dolorasa di lantai dua. Secara umum, karya itu menggambarkan rasa kemanusiaan Dolorosa terhadap kekerasan sekaligus genosida di Gaza.

“Karya ini sebagai doa kemanusiaan yang saya kirimkan kepada Benjamin Netanyahu (Perdana menteri Israel) dan Hamas, supaya mereka berhenti membunuh perempuan dan anak,” ucapnya kepada Mojok saat ditemui di Jogja National Museum pada Senin, (28/10/2024).

Dalam karya tersebut, Dolorosa membuat 80 sosok perempuan dengan bentuk yang berbeda. Dia merasa jumlah itu sudah cukup untuk menunjukkan surplus energi kepeduliannya terhadap perempuan dan anak di Gaza.

Karya Dolorosa Sinaga <yoastmark class=

Patung-patung perempuan itu terbuat dari bahan aluminium foil dan fiberglass, yang membuatnya berkilau di bawah sinar lampu. Mereka berjejer di atas instalansi berbentuk altar lilin berbahan kayu, seperti yang bisa kita temui di gereja. 

Sosok Widji Thukul menjadi ikon di pameran seni rupa Jogja

Saya melanjutkan perjalanan sampai ke lantai tiga, ruangan terakhir pameran patung. Di sana, saya bertemu dengan seorang kawan bernama Yanna Suryana (23) yang terlihat takjub melihat karya berjudul “Hanya Satu Kata: Lawan!”.

Karya Dolorosa itu menunjukkan sosok Widji Thukul, seorang penyair kiri yang diculik tahun 1996. Hingga kini, belum ada kejelasan soal kabar Widji. Namun, melihat sejarahnya, Widji tak terlepas dari tindak kekerasan karena perlawanannya kepada kebijakan pemerintah yang buruk. Melalui bentuk tubuh Widji yang kurus, dia ingin memperlihatkan bahwa masih ada harapan di tengah penderitaan.

Yanna mengaku telah mengetahui sosok Widji Thukul sejak SMA dari buku-buku sejarah. Meskipun menempuh kuliah di Jurusan Pendidikan, Yanna juga tertarik dengan seni. Dia pernah mengikuti ekstrakurikuler teater.

Iklan

“Saya suka dengan puisi-puisi Widji Thukul, dia mampu mengekspresikan keresahannya, marahnya lewat kata-kata. Kalimatnya sering kali menohok,” ucap mahasiswa Universitas Atma Jaya itu.

Seorang maestro pematung sekaligus aktivis yang menolak kekerasan

Widji Thukul adalah satu dari lima figur historis laki-laki dalam karya Dolorosa Sinaga. Empat figur lainnya, yaitu Abdurrahman Wahid, Dalai Lama, Soekarno, serta Eduard Douwes Dekker atau yang terkenal dengan nama pena Multatuli. 

Dolorosa memang terkenal dengan karya-karyanya yang berbicara soal perjuangan perempuan, meski begitu dia tak menampik untuk menyuarakan isu soal solidaritas, keragaman budaya, hak asasi manusia (HAM), dan menolak kekerasan.

“Di benak saya, perempuan yang harus dibela. Tapi kemudian saya melihat tokoh kemanusiaan, sosok yang melawan rezim militer, figur yang mengumandangkan perdamaian dunia dan membuka pikiran bahwa penindasan manusia harus dihentikan,” ucapnya.

Perempuan asal Sibolga, Sumatera Utara itu bercerita, sikapnya yang terkesan “membangkang” sudah muncul sejak dia kecil. Misalnya, ada aturan dalam keluarga jika perempuan harus memakai baju seperti rok, berwarna cerah, dan sebagainya. Namun, aturan ada untuk dilanggar. 

Karya Dolorosa Sinaga <yoastmark class=

“Saya kemudian bergaul dengan kawan-kawan aktivis untuk melawan ketidakadilan dan menentang kekuasaan otoriter, dan rasanya semua itu sudah mengalir dalam darah saya,” kata dia.

Menginginkan pameran seni rupa di Jogja untuk perubahan

Dolorosa memilih berkarya lewat patung. Bagi lulusan St. Martins School of Art itu masyarakat bisa mendapatkan pengalaman yang berbeda lewat patung. Sebab, patung membutuhkan ruang. 

“Ketika seseorang melihat patung, maka yang terjadi adalah peristiwa di mana volume dan ekspresi patung itu menjadi ‘hidup’,” ucap Dolorosa yang juga merupakan alumni dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini lebih dikenal dengan Institut Kesenian Jakarta.

Dolorosa yakin seni bisa mendidik orang untuk menghormati perbedaan, apalagi sebagai medium perlawanan terhadap kekusaan. Melalui pameran yang dia gelar, Dolorosa ingin menggalang kesadaran masyarakat untuk melakukan perubahan.

“Creativity is a joy forever, Art is love, art is power. Fear no power,” ucapnya.

Dolorosa memastikan karya-karyanya akan terus memperlihatkan tentang kepedulian dan pembelaanya terhadap kaum perempuan yang tertindas. Dia punya cita-cita membangun milisi seni karena merasa berkewajiban untuk melibatkan diri pada aktivitas seni.

“Sungguh saya ingin mewujudkan suatu keadaan di mana jumlah seniman di Indonesia harus lebih besar dari jumlah tentara yang ada di negara ini. Dengan demikian, maka saya bisa meyakini bahwa bangsa Indonesia akan tumbuh sebagai bangsa yang ‘less violence’”.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor:  Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 8 Rekomendasi Kongres Ulama Perempuan II: Sorot Isu Kekerasan Terhadap Perempuan, Lingkungan, Hingga Kemanusiaan

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2024 oleh

Tags: Aktivisaktivis HAMJogjakekerasan perempuanKekuasaanPameranpameran seni rupapatungSeni rupaseni rupa jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Magang pemerintah, rencana mendirikan Universitas Republik Indonesia (URI) dinilai belum bisa jadi solusi fenomena pengangguran dari lulusan perguruan tinggi (sarjana). Apalagi selama ini kuliah cuma dibekali teori MOJOK.CO

Magang Pemerintah Belum Jadi Solusi Pengangguran dari Lulusan Perguruan Tinggi, Apalagi Kuliah cuma Dibekali Teori

18 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia MOJOK.CO

Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

18 Agustus 2026
Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.