Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Adu Nyali Paling Sinting: Sepenggal Cerita Tentang Blok M, Jakarta Selatan

Saleh Abdullah oleh Saleh Abdullah
23 November 2023
A A
Preman Blok M Jakarta Selatan.MOJOK.CO

Ilustrasi - Blok M Jaksel: Lokasinya Dekat Markas Besar Polisi, Tapi Premanisme Tak Pernah Mati (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Adu nyali paling sinting di Blok M, Jakarta Selatan

Dua pentolan Blok M, yang mewakili 2 wilayah etnis, Maluku dan arek Jawa Timur, mendiang Buce Rumamuri dan mendiang Karno, adalah legenda Jakarta Selatan. Hingga awal 2000-an, kedua nama ini, masih bisa diendus. Kelompok-kelompok mereka tidak bersaing, malah cenderung bekerja sama. Buce dan Karno bahkan saling menghormati. Sangat akrab. 

Satu sore, Buce dan Karno menyepakati sebuah rencana gila. Keduanya sedang menonton dari jauh para marinir yang sedang latihan voli di Bulungan. Karno membuka tantangan. “Buc, nanti kalau para marinir itu selesai main, kita culik salah satunya. Kita gebukin, terus kita lepas. Tapi kita berdua jangan ada yang lari. Kita tunggu. Kalau di antara kita ada yang lari duluan, dia pengecut.” Buce “membeli” tantangan itu. 

Mereka menyusup masuk Bulungan, menculik seorang marinir, menggebukinya, lalu melepasnya. Karuan saja si marinir memanggil kawan-kawannya sesama marinir. Adegan selanjutnya bisa dibayangkan. 

Rupanya Karno sudah lari duluan tanpa diketahui Buce. Dia meninggalkan Buce digebukin pasukan marinir. Mungkin memang berniat ngerjain Buce, Karno rupanya sudah menghubungi saudara Buce yang perwira menengah marinir juga. Sang perwira datang pas saat Buce digebukin para marinir. Perkelahian tak seimbang itu dilerai. 

“Anjing si Karno. Gila, itu Pasukan Katak yang kita gebukin!” Cerita Buce. Tidak ada dendam pada Buce. Semua kembali normal. Buat Buce, peristiwa itu seperti “humor tinggi” yang bisa diceritakan dengan ringan sambil tertawa. 

Legos, penguasa Blok M

Pada kurun 1970-an sampai 1980-an, terdapat banyak geng di Jakarta. Di antara yang terkenal adalah Berland, geng pemuda komplek pensiunan tantara berpangkat rendah di Matraman, Jakarta Pusat. Siliwangi Boys Club, juga geng para pemuda anak-anak tantara di Jalan Siliwangi, dekat Lapangan Banteng. Geng Sartana (Sarinah-Tanah Abang) yang menjadi penguasa di 2 wilayah tersebut.  

Di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, ada Legos (Lelaki Goyang Senggol). Tiga nama anggota Legos yang pernah aktif di pentas politik nasional adalah Mangara Siahaan aktif di PDIP; Leo Tomasoa yang dekat dengan Ali Moertopo dan menjadi politisi Golkar; Julius Usman yang pernah ikut mendirikan PUDI (Partai Uni Demokrasi Indonesia) jelang berakhirnya Orde Baru dan di masa reformasi Julius nyebrang ke PDIP. Buce juga anggota Legos, yang ikut mendirikan PUDI. Hanya, Buce tidak tertarik masuk ke gelanggang politik praktis setelah Orde Baru tumbang.

Tidak hanya irisan ke partai politik, Legos dan anggotanya, Julius Usman dan Buce Rumamuri, ikut terlibat dalam gerakan sosial Malari 1974. Julius Usman sempat ditangkap dan dipenjara bersama aktivis Malari lain. 

Legos dan kehidupan para anggotanya juga menjadi inspirasi dari seorang penulis yang juga anak Legos paruh waktu, Teguh Esha. Dari Legos, sebagian besar inspirasi didapat Teguh untuk menulis kisah yang populer tahun 70-an hingga setelahnya, yaitu “Ali Topan Anak Jalanan”. 

Ali Topan kemudian difilmkan, juga dibuat lagu oleh Guruh Sukarnoputra yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Chrisye. Iwan Fals, yang berteman dengan salah satu dedengkot dan musisi jalanan Blok M, Anto Baret (asli Jawa Timur), mengawali karier musisinya sebagai pengamen, juga dari Blok M. 

Jangan pernah tidak mengundang Legos di pesta apapun, apalagi pesta ulang tahun. Bahaya!

Tidak hanya pusat Blok M, Jakarta Selatan, yang menjadi wilayah kekuasaan Legos. Beberapa wilayah sekitarnya juga mereka pegang. 

Satu malam, sebuah pesta ulang tahun di sebuah rumah di Jalan Dharmawangsa akan digelar. Sialnya, perwakilan Legos tidak diundang ke pesta tersebut. Yang punya hajat adalah seseorang yang kemudian menjadi tokoh politik nasional. 

Buce dan Legos tersinggung. Tiga orang wakil para jagoan Blok M, termasuk Buce, datang ke pesta tersebut. Buce mengenakan jas overcoat panjang. Di balik jas overcoat, di punggungnya, dia menyelipkan sebilah kampak yang menjadi ciri khas Buce. 

Memasuki rumah, Buce membuka overcoat-nya. Polos, hanya pakai sempak! Pengunjung pesta yang kebanyakan adalah para elite terkejut. Ada yang berteriak. Dengan tenang, Buce dan rombongan menuju meja prasmanan. Sebagian tamu sudah ngacir keluar rumah, pulang. Usai makan dan minum ala kadarnya, Buce menghampiri sebuah pot besar tanaman yang ada di dalam ruangan tamu. Ia kencing di pot itu. Parah! 

Iklan

Pesannya jelas. Bikin pesta di sekitar Blok M tidak mengundang para pentolannya, itulah yang akan terjadi. 

Ketika Ali Said menjadi Jaksa Agung (1973-1981), untuk mengendalikan para jagoan Blok M, dia memberikan sebuah bangunan untuk jadi tempat usaha. Lokasinya persis di sisi utara terminal bus. Bangunan itu kemudian menjadi “Bar dan Night Club” yang dikelola para pentolan Blok M. Tidak jelas nama bar itu. Sepertinya tanpa nama. Kini bar itu sudah beralih fungsi. 

Gedung Bundar Kejaksaan dipantau terus

Tahun 1996. Sri Bintang Pamungkas, Julius Usman, Buce Rumamuri, Jus Soema di Pradja, saya, dan lain-lain, nekat mendirikan Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI). Pendirian yang dianggap tantangan terbuka bagi Orde Baru. 

Kecuali Buce dari yang saya sebut tadi, 3 orang (Bintang, Julius, dan saya) ditangkap dan ditaruh di penjara Gedung Bundar Kejaksaan Agung, yang berdampingan dengan SMA Bulungan. Kami dituduh subversif, dengan ancaman tertinggi, hukuman mati. 

Lalu tibalah surat itu yang dikirim masuk ke penjara melalui kurir. Pengirimnya Buce. Isinya: 

“Leh, lu bilang ke si Bintang dan si Ustadz (Julius), kalian tenang-tenang aja di penjara. Keadaan di luar sudah krisis. Kayaknya, bentar lagi Suharto jatuh. Jangan kuatir dengan logistik. Restoran Padang di Melawai bakal ngirimin makanan yang enak-enak buat kalian. Gedung Bundar ada di wilayah kami. Kami monitor full kalian.” 

Dan betul, setiap mendapat jatah makan, selalu saja kami dapat makanan berlogo Rumah Makan Padang di Melawai dalam kardus catering. Lauk-lauknya mewah untuk ukuran tahanan politik. Entah bagaimana Buce mengatur semua itu.

Penulis: Saleh Abdullah

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Gultik Blok M: Saksi Bisu Pergaulan Anak Muda, Perkembangan Musisi, dan Kehidupan Orang di Jakarta Selatan dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 23 November 2023 oleh

Tags: Blok MBuce Rumamuribulunganjakarta selatanJulius UsmanJus Soema di Pradjamalariperistiwa malariSri Bintang Pamungkas
Saleh Abdullah

Saleh Abdullah

Artikel Terkait

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO
Urban

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.