Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

3 Jenis Manusia di Pusaran Isu Tiga Periode Presiden

Zainal Arifin Mochtar oleh Zainal Arifin Mochtar
25 Juni 2021
A A
3 Jenis Manusia di Pusaran Isu Tiga Periode

3 Jenis Manusia di Pusaran Isu Tiga Periode

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Isu tiga periode jadi wacana kontroversial belakangan ini. Dan berikut klasifikasi tiga jenis manusia yang ada di dalamnya.

Jangan pernah sepelekan judul-judul buku for beginners, for dummies, dan berbagai buku sejenisnya, buku-buku yang pernah laku pada zamannya.

Iya, zaman-zaman di mana industri buku sedang banyak main di permukaan. Menang di judul dan sampul, serta sesederhana mungkin agar mudah dicerna. Kalau sekarang? Entahlah, tanyakan saja ke Kepala Suku Mojok, dia lebih ngerti soal tren buku.

Nah, apakah tulisan ini bermakna sama dengan buku yang tren pada zamannya tersebut? Silakan Anda nilai nanti, tapi sebelum ke sana, mari mengenal manusia-manusia yang terlibat dalam isu “tiga periode” ini. Isu yang sama-sama sederhana dan mudah dicerna.

Isu tiga periode merupakan wacana yang banyak dibicarakan belakangan. Ada yg kelihatannya ngebet membawa presiden ke tiga periode, ada yg berusaha menahan diri supaya kelihatan nggak kepengin, dan ada yang berusaha menolaknya.

Tiga genre besar ini jangan sampai dianggap saling menegasi. Tidak juga, bisa jadi ketiga-tiganya malah jadi satu narasi besar nantinya.

Pertama, yang sangat ngebet tiga periode

Dalam genre ini ada beberapa jenis. Ada yang memang benar-benar cinta mati. Tak peduli berbagai survei internasional soal indeks persepsi korupsi atau pun indeks demokrasi yang makin jeblok di Indonesia.

Jenis ini semacam “malu tak gentar”. Pokoknya, harus maju tiga periode. Namanya juga cinta, tahi kambing pun berasa coklat. Jatuh hati pada jargon, “dia adalah kita.” Padahal “kita” di jargon itu juga terbatas di kalangan tertentu saja.

Ada juga yang sebenarnya nggak perduli, tetapi dia membawa itu demi mencari cara mendapatkan perhatian. Ini yang oleh sang kandidat pelaku tiga periode dikatakan sebagai bagian dari cari muka.

Tipe ini juga adalah jenis pedagang. Ada semacam untung rugi di kepalanya dalam dorongan tiga periode. Berhasil atau tidak pun sebenarnya nggak peduli.

Hal yang paling penting baginya sudah dicatat sebagai anjing setia—walau bisa jadi tidak setia-setia amat. Kesetiaan bukanlah tujuan, tapi hanya menjadi semacam tiket untuk apa yang sebenarnya ia diincar. Jangan lupa, bismillah.

Ada juga yang sebenarnya benar-benar mau menjerumuskan belaka. Mendukung tiga periode adalah cara untuk mengagregasi kebencian pada calon tiga periode. Sasarannya adalah semakin memperburuk citra yang telah buruk tersebut.

Tipe ini adalah tipe musang berbulu domba. Menggunting dalam lipatan. Semakin buruk citranya, maka semakin mungkin yang lain akan dilirik.

Bahkan ada yang separtai dengan pendukung presiden yang sekarang. Pokoknya, mempromosikan tiga periode adalah usaha untuk membuka kesempatan bagi calon yang lain. Lumayan lah.

Iklan

Ada lagi yang bertipe pencari kesempatan. Khususnya yang merasa mustahil terpilih dalam sebuah ajang pilpres langsung. Sudah kandidat berkali-kali dan selalu spesialis finalis meski finalis antar dua peserta.

Bagaimana cara terpilih? Satu-satunya cara adalah dengan berpasangan dengan sang tiga periode. Aman. Tidak perlu berkeringat banyak, modal sudah besar.

Nah, untuk mengikis kemungkinan tetap jadi finalis lagi meski berpasangan dengan sang tiga periode, bisa jadi hingga mengubah konstitusi, misalnya presiden dipilih di Parlemen. Aman. Kantong tak perlu bocor amat untuk nyuap pemilu berdapil nasional, cukup 575 anggota perwakilan partai dan 136 anggota Perwakilan daerah.

Setidaknya cukong bisa dapat fasilitas “paket hemat”. Tipe ini adalah macam pembalap, lihat celah dikit, rasanya langsung mau memanfaatkan.

Kedua, pihak yang kelihatannya menolak

Ini terlalu kelihatan. Kemungkinan cuma dua, benar-benar menolak atau pura-pura menolak. Silakan Anda menilai apakah benar-benar menolak atau tidak.

Meski begitu, sebenarnya mudah saja membacanya. Andai memang menolak, ia tentunya akan memerintahkan partai pendukungnya mengakhiri polemik. Ia bisa mengatakan untuk mengakhiri sepenuhnya. Sayangnya, itu tidak dilakukan.

Bahkan dalam beberapa hal terlihat bersandiwara. Seperti ketika menolak menandatangai revisi UU lembaga pemberantas korupsi. Walau tak sepenuhnya benar, menarik juga melihat pendapat yang mengatakan jika ia mengatakan sesuatu, cobalah lihat dari sebaliknya, atau coba baca tulisan soal konsisten dalam inkonsistensi.

Ketiga, sepenuhnya menolak

Tentu ada yang menolak karena percaya pada demokrasi presidensial yang harus diikuti pembatasan masa jabatan presiden, serta menghindarkan godaan presiden untuk menjadi otoriter, akibat lama memegang jabatan.

Tapi sungguh, jangan sangka, apakah para penolak ini sepenuhnya demokrat sejati? Apakah para penolak ini sejatinya memang pasti dari golongan yang mengetahui bagaimana George Washingthon mengusung dua periode sebagai bagian dari upaya demokratis? Nggak juga. Belum tentu.

Bisa jadi para penolak ini adalah orang-orang  yang merasa kesempatannya ditutup sama sosok tiga periode. Bisa jadi orang merasa harusnya akan segera duduk di singgasana, eh kok malah ada yang pengin jadi tiga periode. Ini bukan soal demokratis, tapi soal takut nggak dapat giliran.

Apakah ketiganya adalah jenis manusia mandiri? Belum tentu, bisa jadi saling berkelindan di antaranya. Bahkan bisa jadi ia sedang mencoba memperbodoh kita semua dengan berbagai ide termasuk perpanjangan masa jabatan oleh karena keadaan darurat covid.

Hebatnya, keadaan darurat ini direspons hanya dengan mengeluarkan perpu khusus soal ekonomi-perbankan, serta kemungkinan khusus amandemen konstitusi masa jabatan. Iya, gerakan untuk memperbodoh kita semua. Mengejar semacam herd stupidity.

Nah terakhir, dari semua jenis ini Anda berada di mana? Jangan malu, ngaku aja.

Lagipula, saya bicarakan ini di negeri antah berantah kok. Bukan Indonesia, bukan.

Lagian, Indonesia itu kan penuh dengan negarawan santun yang nggak saling cakar. Nggak ada geger gedhen hanya untuk jabatan presiden yang fana dan penuh senda gurau.

Para politisi Indonesia juga nggak kasak-kusuk mikirin jabatan padahal covid sedang mengepung. Pejabatnya sibuk memikirkan cara alat dan sistem pertahanan negara sehingga penganggaran yang ribuan triliun itu nggak akal ada kaitannya dengan 2024.

Pokoknya tenang saja, negeri gemah ripah loh jinawi ini dikaruniai para politisi yang hanya memikirkan rakyat. Nggak percaya? Jangan bangun dulu, teruslah bermimpi. Mumpung mimpi masih gratis dan belum ada pajaknya.

BACA JUGA Bukan Prabowo, Ganjar, Apalagi Puan yang Jadi Kuda Hitam Pilpres 2024 dan tulisan Zainal Arifin Mochtar lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 25 Juni 2021 oleh

Tags: 2024coviddprherd stupidyparlemenprabowopuantiga periode
Zainal Arifin Mochtar

Zainal Arifin Mochtar

Dosen hukum tata negara Universitas Gadjah Mada. Pegiat antikorupsi di Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
nelangsa korban PHK Michelin dan Blibli. MOJOK.CO
Ragam

Ekonomi Masyarakat Belum Pulih Sejak Pandemi Covid, Kini Makin Menderita karena PHK di “Negeri Konoha”

5 November 2025
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Jurusan Ilmu Politik di UHO mengecewakan. MOJOK.CO
Kampus

Nekat Kuliah Jurusan Ilmu Politik di Kampus Akreditasi B, Berujung Menyesal Tak Dengar Nasihat Ortu

3 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon” MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.