Baca cerita sebelumnya di sini.

“Mbak, mau ke mana?”

Mulut Larasati diam saja, tapi tangannya sibuk melipat dan menata baju-baju. Sebuah koper kuning terbuka di lantai. Dua pasang sepatu yang terbungkus plastik putih sudah menempati sudutnya.

“Mbak…. Aku ikut Mbak Laras. Aku ikut, Mbak…”

Anak remaja itu terus merengek-rengek sambil sesekali berusaha meraih tangan Larasati. Wajahnya memerah menahan tangis. Larasati berkali-kali menepiskan tangan adiknya itu.

Sang adik berhenti merengek ketika Larasati mulai memasukkan baju yang telah dilipatnya ke dalam koper. Anak itu duduk di lantai, bersandar ke pintu tripleks. Ia menangis tanpa suara.

Larasati berusaha tidak memberikan hatinya untuk apa pun yang hendak ia tinggalkan di rumah ini. Ia ingin pergi tanpa beban. Cinta Larasati untuk adik lelakinya belum saatnya dibuktikan.

***

Nurin melihat manik mata Larasati dalam-dalam. Ia masih mencoba mencari canda atau amarah yang mungkin disimpan sahabatnya. Meski ia mendengar keseriusan dalam suara Larasati yang tenang, ia tetap berharap semua yang Larasati katakan tak benar adanya.

Selama mengenal Larasati, tak sekali pun ia pernah melihat gadis itu mengambil keputusan besar dengan begitu berani. Larasati yang dikenalnya selama ini adalah seorang gadis rumahan, kurang pergaulan, dan tak pernah bisa menentukan pilihan-pilihannya secara meyakinkan.

“Kamu nanti tinggal sama siapa di sana?” tanya Nurin cemas.

“Katanya ada mess. Tapi sepertinya aku akan mencari tempat kos saja. Aku lebih suka tinggal sendirian,” jawab Larasati pelan dan mantap.

“Tunggu…. Uangmu sudah habis semua lo, Ras. Aku tidak bisa membekali apa-apa. Kamu nanti makan apa selama belum gajian?”

“Tidak mengapa. Aku terbiasa puasa. Yang penting tempat tinggal sudah ada.”

“Ya, tapi kamu tidak punya siapa-siapa di sana. Kalau ada apa-apa, tak ada tempat untukmu datang.”

“Nanti akan banyak teman, tidak masalah.”

“Teman? Orang seperti kamu tidak akan bisa berteman dengan cepat. Di sini saja, ratusan orang jumlahnya, hanya aku yang bisa berteman denganmu.”

Larasati tersenyum dan diam saja. Nurin terus bicara, mengungkapkan segala yang ia khawatirkan atas sahabatnya. Bagaimana ia tidak khawatir melihat seseorang yang ke luar kota saja tak pernah, tiba-tiba mengatakan akan pindah ke luar pulau? Atas dasar apa ia harus percaya bahwa Larasati akan baik-baik saja di sebuah tempat baru yang sangat jauh?

Namun Larasati tampaknya memang sudah sangat yakin dengan keputusannya. Ia merasa sudah sampai pada titik belok hidupnya. Ia harus segera mengambil langkah supaya tetap waras dan tak terjebak dalam keadaan yang terus berputar dalam lingkatan setan.

Tawaran managernya untuk mengisi posisi baru di anak perusahaan tempatnya bekerja ia ambil. Lokasinya di luar pulau. Tidak terpencil, tapi jauh sekali dari tempatnya tinggal saat ini. Larasati lupa ia telah berdoa apa selama ini. Terlalu banyak yang ia minta dari Tuhan, terlalu sering ia  mengadukan apa saja. Gadis itu merasa, tawaran bekerja di luar pulau ini adalah jawaban atas doanya. Ia bahkan tak mengambil jeda untuk mengiyakan tawaran itu.

Baca juga:  Il Faut d'Abord Durer

***

Beberapa malam Gayatri jatuh tertidur dalam tangis. Entah kapan terakhir ia menangisi anak-anaknnya. Mungkin malah belum pernah. Rasanya selama ini ia terlalu sibuk meratapi nasib dan kesulitan demi kesulitan yang merundung hidupnya. Semesta hidup Gayatri berpusat pada dirinya sendiri. Membangun keluarga bersama Darman tidak memberinya kebahagiaan, tapi ia terlalu takut melepaskan lelaki bajingan itu.

Jika hari ini ia menangis, boleh jadi itu pun adalah air mata untuk dirinya sendiri. Ia takut menghadapi hari-hari ke depan tanpa Larasati. Ia baru sadar ada hal tak dapat ia lakukan tanpa anak gadisnya. Selama ini Gayatri selalu mengecilkan peran anaknya, hanya karena yang bisa Larasati lakukan tidak sebesar khayalannya.

Larasati akan pergi jauh. Gayatri menangis. Ia begitu ketakutan jika suatu saat kesulitan, siapa yang akan menolongnya. Ia memikirkan dirinya sendiri lebih banyak daripada memikirkan keselamatan anaknya kelak di tempat yang baru.

Anak gadisnya berpamitan dengan dingin. Meninggalkannya dengan setumpuk kecemasan.

“Biaya sekolah Adik tetap jadi tanggung jawabku, Bu. Tidak usah khawatir,” ucap Larasati seolah tahu apa yang Gayatri pikirkan.

Sementara itu, Darman tak peduli dengan kepergian Larasati. Baginya, Larasati adalah anak yang tak pernah bisa ia manfaatkan. Tak berguna. Laki-laki itu tetap saja pulang dan pergi tanpa menanyakan kabar anak-anaknya. Jangankan mendoakan, bertanya hendak ke mana pun tidak.

Larasati sudah sangat terbiasa dengan keadaan itu. Gadis itu akan tetap pergi, bagaimanapun reaksi orang tua atau teman-temannya. Apalagi saat pagi terakhir sebelum pergi, ia masih saja menyaksikan ibunya meludahi kopi yang hendak disajikan untuk bapaknya.

Makin mantap ia melangkah tanpa menoleh lagi, meski adiknya terisak-isak melepasnya.

***

Tempat baru tidak buruk. Larasati hanya perlu sedikit menyesuaikan diri dengan bahasa dan makanannya. Dua hal itu bukan perkara besar karena Larasati tidak perlu banyak bicara saat bekerja dan ia juga bukan tipikal orang yang pilih-pilih makanan.

Benar kata Nurin, di tempat barunya, Larasati kesulitan berteman. Setelah beberapa waktu berlalu, ia tak jua mendapatkan teman bahkan untuk sekadar makan siang bersama di kantin. Keseharian yang dilaluinya hanya seputar tempat kerja, mess, dan pinggir danau buatan bekas galian tambang. Larasati makin menjadi penyendiri.

Namun kesendirian itu bukan hal yang membuat Larasati tak betah. Sebaliknya, ia sangat menyukai keadaan ini. Keadaan saat ia bisa menikmati waktu dan bicara hanya dengan hatinya sendiri. Ia merasa makin memahami mahluk apa saja yang selama ini ada dalam dirinya. Satu per satu keluar dan berhadapan dengan sisi dirinya yang lain.

Baca juga:  Maaf, Aku Bukan Witfana yang Kamu Cari

Cungkup yang melingkupi jiwa Larasati mulai terbuka. Dalam kesendirian di tempat asing, ia menemukan dirinya sendiri. Gadis itu mulai bisa mengendalikan kesedihan-kesedihannya. Perasaan tertekan yang beberapa kali melahirkan bisikan untuk menyakiti diri sendiri, perlahan mulai menghilang.

Larasati datang ke tempat ini dengan penerimaan diri yang kurang. Pelan-pelan ia mulai bisa menerima dan mencintai dirinya sendiri.

Jika sebelumnya Larasati menciptakan dunia di kamarnya sendiri dengan beberapa perhiasan emas di tangan dan jemarinya, sekarang Larasati tak memerlukan itu semua untuk menciptakan semesta bagi jiwanya. Pinggir danau buatan ini adalah tempat yang sangat Larasati sukai jika ingin bertemu dengan dirinya sendiri. Danau ini sepi, tenang, dan terbuka, namun tidak membuat Larasati merasa diawasi oleh orang lain.

Pekerjaannya tak banyak berbeda dengan pekerjaan di tempat sebelumnya. Kerja robot yang tak menuntut banyak usaha di luar tenaga dan kedisiplinan. Larasati punya modal cukup jika hanya itu yang dibutuhkan.

Sebulan tepat ia bekerja di tempat baru, ia baru menghubungi adiknya. Padanya ia berjanji akan memberi kabar. Hanya pada adiknya, tidak pada ibu dan bapaknya.

“Mbak, senang di situ, ya? Aku ikut ya, Mbak. Aku mau menyusul saja,” ucap adiknya di ujung sambungan.

“Jangan dulu, Dek. Mbak belum punya tempat yang baik. Kamu selesaikan dulu saja sekolahmu. Gampang nanti kalau mau ikut Mbak ke sini,” sahutnya.

“Aku tidak betah di sini, Mbak. Setelah Mbak pergi, rumah jadi kacau.”

“Ya kamu belajar, lah, mengatur rumah. Jangan main melulu.”

“Bukan itu. Bapak sering bawa teman-teman dan mabuk di rumah.”

“Dari dulu memang begitu, kan, Dek…”

“Tapi sekarang lebih sering.”

“Ya sudah, kamu bantu saja Ibu cuci piring dan menyapu tiap hari.”

“Ibu kurang sehat, Mbak. Sekarang Ibu sudah tidak kuat mindring jauh-jauh,”

“Ambil sedikit kiriman Mbak untuk beli obat buat Ibu.”

“Katanya Ibu ingin Mbak menikah.”

Bercakap dengan adiknya sebenarnya menimbulkan sedikit nyeri di ulu hati. Ia merasakan rindu, meki tak yakin benar jika itu benar-benar rindu. Mungkin saja itu rasa bersalah atau penyesalan karena dulu ia membiarkan saja adiknya patah hati ditinggal olehnya tanpa penjelasan.

Ia segera menyudahi percakapan begitu adiknya menyebut kata “menikah”. Larasati sungguh tak ingin melakukannya. Ia tak ingin punya suami atau anak.

Larasati selalu berpikir, sebaiknya darah turunan Darman yang ada dalam dirinya musnah saja. Tak perlu ada Darman lagi di kemudian hari.

Apalagi jika Darman itu harus hadir di dunia melalui perantara dirinya.

Baca cerita berikutnya di sini.



Tirto.ID
Loading...

No more articles