MOJOK.COMenangnya Gibran dan Bobby di pilkada masing-masing yang dianggap sebagai bentuk dinasti politik tak bisa dimungkiri punya banyak nilai positif.

Beberapa hari yang lewat, Koran Tempo merilis cover yang sangat menarik sebagai respons kemenangan Gibran dan Bobby di masing-masing pilkada yang mereka ikuti. Ilustrasinya berupa gambar Jokowi dan istrinya sedang menggandeng Gibran dan Bobby seperti selayaknya siluet logo lama program Keluarga Berencana itu.

Bedanya, tulisan Keluarga Berencana diganti menjadi Keluarga berjaya. Para pengkritik pemerintah atau sebut saja kaum nyinyiriyun sudah barang tentu sangat puas. Mereka seakan mendapat suplai amunisi untuk menyindir dinasti politik yang sedang terbangun di dalam lingkungan keluarga Presiden.

Kalau melihat dari sudut pandang yang lain, dinasti politik yang terjadi dalam keluarga Presiden ini sebetulnya hanya merealisasikan ungkapan dalam bahasa Arab: syubanul yaum rijalul ghod. Pemuda hari ini pemimpin di masa depan. Namun karena pepatah ini berasal dari Arab, tentu harus ada sedikit modifikasi di sana sini agar sesuai dengan konteks keindonesiaan kita. Sebab tentu saja kita bukanlah kadrun yang apa-apa harus dari arab, iya kan?

Balik ke peribahasa tadi. Pemuda dalam konteks bahasa Arab tadi bisa kita terjemahkan dalam istilah anak dan mantu, sedangkan pemimpin dimaknai sebagai capres dan cawapres. Jadi intinya, peribahasa tadi bisa kita maknai dengan anak dan mantu hari ini merupakan capres dan cawapres di masa yang akan datang. Cakep, kan? Nah, jalan menuju capres dan cawapres itu tentu bisa dilalui melalui jalur kontestasi politik, salah satunya pilkada.

Baca juga:  Benarkah Berhenti Merokok Bisa Membuat Kita Kaya?

Tentu saja tak ada yang salah kalau seorang anak presiden nyalon walikota, dan menang pula. Toh wajar adanya sebagaimana anak yang jadi artis karena bapaknya juga artis, atau anak yang jadi atlet karena bapaknya seorang atlet, atau anak yang jadi guru karena terinspirasi oleh bapaknya yang juga jadi guru? Sekali lagi apa masalahnya? Itu lho, Nabi Ibrahim, dua anaknya juga jadi nabi, dan berlanjut sampai cucu-cucunya yang banyak juga yang jadi nabi. Sekali lagi, nggak ada salahnya.

Kendati demikian, tetap saja para nyinyiriyun nggak tahu atau tidak mau tahu bahwa dinasti politik itu sebetulnya nggak jelek-jelek amat. Ibarat makanan dalam lomba MasterChef, dinasti politik bukanlah makanan yang layak dilepeh dan langsung dibuang ke tempat sampah. Apalagi dalam aturan bernegara kita. Dinasti politik bukanlah barang haram yang wajib dijauhi dan ditolak wujudnya. Ingat, sang penjaga konstitusi kita yaitu MK pernah menggugurkan pasal tentang adanya larangan dinasti politik ini karena dinilai melanggar konstitusi kita.

Seandainya para nyinyiriyun mau diam, tarik napas dan bertafakur sejenak, niscaya mereka akan mendapati bahwa sesungguhnya di dalam praktik-praktik dinasti politik, ada nilai-nilai positif yang bisa diambil dan diterapkan.

Di antara efek positif dari dinasti politik tersebut, salah satunya adalah adanya kestabilan dalam tata kelola pemerintah.

Sudah jadi rahasia umum bahwa beberapa kepala daerah justru menjadi oposisi pemerintah pusat. Tentu hal ini menjadi batu ganjalan bagi pusat dalam menjalankan agenda pemerintahannya. Konon, dalam undang-undang omnibus law beberapa waktu lalu, ada pasal atau ayat yang menerangkan bahwa pemimpin daerah bisa dipecat kalau tidak kooperatif dengan pemerintah pusat. Hal ini menjadi bukti bahwa kekhawatiran pemerintah sudah dalam tahap gumush bin kezel dengan perlawanan raja-raja kecil di daerah-daerah yang notabene merupakan pejabat yang berada di level bawah mereka.

Baca juga:  Maaf Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf, tapi Cebong dan Kampret Wajib Dilestarikan

Dengan adanya dinasti politik ini, hambatan tersebut sedikitnya bisa berkurang atau bahkan hilang sama sekali. Dalam agama sudah jelas, melawan orang tua merupakan dosa yang teramat besar. Betapa banyak ayat Alquran dan sabda-sabda nabi tentang kemuliaan orang tua dan perintah untuk taat dan berbuat baik terhadap mereka. Berkata “ah” saja dilarang apalagi sampai menolak perintah orang tua yang juga perintah pemimpinnya. Ditambah lagi sedari kecil kita sudah disuguhi cerita tentang bahayanya melawan ibu bapak kita. Dari dongeng si Kintan sampai dongeng Malin Kundang. Tentu Gibran tak ingin martabak yang ia jual mendadak berubah menjadi batu.

Dengan hal-hal pendukung semacam ini, tentunya pemerintah pusat akan bisa lebih tenang dalam menjalankan roda pemerintahannya. Pemerintah daerah yang dipimpin kerabatnya bisa dengan mudah menstempel dan menyetujui berbagai kebijakan mereka

Manfaat lain dari dinasti politik adalah efektifitas penyerapan aspirasi dari daerah ke pemerintah pusat.

Dalam beberapa kasus misalnya, pemda kerap kali mengeluhkan ketidakpekaan pusat dalam hal kebijakan. Nah, dinasti politik hadir untuk mengurai rumitnya komunikasi di antara dua pihak tersebut. Ilustrasi sederhananya, kalau anak anda sendiri meminta sesuatu, sebagai bapak, tentu Anda akan sangat mengupayakan supaya keinginan anak Anda itu terwujud. Beda kalau anak orang lain yang meminta kepada Anda. Walaupun sampai merengek dan menangis darah pun, belum tentu Anda akan menuruti permintaannya.

Baca juga:  3 Sosok Pengganti Megawati Sukarnoputri

Maka, berbahagialah warga Medan dan Solo. Boleh jadi wilayah Anda akan mendapat keuntungan dengan naiknya Pangeran Gibran dan Pangeran Bobby dalam singgasana walikota tempat tinggal Anda. Solo sebagai kota budaya yang modern, tangguh, gesit, kreatif dan sejahtera, juga Medan yang berkah sebagaimana janji-janji daripada Gibran dan Bobby tentu bukan lagi hanya sekedar mimpi.

Yang terakhir. Anda pasti sudah tahu, selama ini, dalam setiap APBD yang ada, selalu muncul yang namanya anggaran perjalanan dinas. Bisa dibayangkan berapa rupiah yang harus habis setiap kali pemerintah daerah sowan ke pemerintah pusat?

Sekarang, dengan adanya dinasti politik, maka tidak perlu lagi yang namanya anggaran perjalanan dinas. Rapat-rapat antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat bisa dilaksanakan lewat grup WA keluarga.

Kalau selama ini grup WA keluarga identik sebagai tempat menjamurnya hoaks atau tempat pabrikasi jokes bapack-bapack semisal “Lele, lele apa yang ada di jalan? lelepon umum, hehehe”, maka, di tangan keluarga bapak presiden, grup WA keluarga bisa menjadi sarana untuk membangun bangsa dan negara.

Bayangkan, hanya melalui WA, sebuah keluarga bisa mencari solusi dari permasalahan ratusan ribu anak bangsa. Jelas ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang keluarga, hanya keluarga Presiden yang mampu dan bisa melakukan hal ini.

Ingat, visi kita adalah Indonesia maju. Maju anaknya, maju mantunya.

BACA JUGA Kenapa Langkah Gibran Dianggap Bermasalah? dan tulisan Dinar Zul Akbar lainnya.