• 4K
    Shares

MOJOK.CO – Apa jadinya jika kelanjutan Dilan 1991 malah berakhir dengan keputusan hijrah Dilan dan Miliea? Mendadak Dilan jadi kayak si Fahri Ayat-ayat Cinta? Kuapok.

Dilan dalam Dilan 1991 merupakan remaja yang bad namun romantis itu perlahan mulai mengikuti kajian seorang ustaz. Berawal dari kegemarannya berselancar dunia maya, Dilan dipertemukan dengan sebuah video singkat mengenai pentingnya hijrah.

Pada akhirnya Dilan sadar, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Maka dengan mengucap bismillah, Dilan 1991 pun dilanjutkan dengan keputusan si bad boy berhijrah. Judul pun berganti dari Dilan 1991 jadi Dilan 1440 H.

Kini Dilan sudah mulai berhijab, eh, berhijrah. Dia pun sudah mulai meninggalkan aktivitas mesranya dengan Milea. Keputusan berat pun diambil. Milea, gadis cantik idaman para lelaki itu pun harus diputus.

Ya gimana? Pacaran itu kan haram. Apalagi pacaran dalam cerita fiksi. Udah haram, fiktif lagi.

Awalnya memang berat, namun demi totalitas hirah, Dilan berani untuk mengambil langkah fenomenal serta tak terduga. Meninggalkan segala kemegahannya di Dilan 1990 dan Dilan 1991 menuju Dilan 1440 H.

“Kalau memang dia jodohku, nanti pun akan kembali berjumpa,” Dilan membatin di atas sajadah.

Milea pun kaget dan tidak bisa menerima keputusan kekasih. Meski sempat merasa berat dan diserang galau hebat, namun Milea pun perlahan ikhlas dan mulai melupakan Dilan.

Situasi kemudian tidak berubah hingga akhirnya mereka selesai SMA dan melanjutkan kehidupan masing-masing di bangku kuliah. Dilan kini sudah makin alim dan relijiyes. Aktivitasnya pun kini seputar masjid, majelis, dan meja ruang rapat. Pokoknya Dilan yang Dilan 1440 H benar-benar beda dengan Dilan 1991.

Ya, Dilan kini sudah menjadi aktivis di lembaga keislaman kampusnya.

Sementara Milea, masih saja tidak berubah. Dia masih berada dalam dunianya. Hanya berkutat pada tugas kuliah, pacaran, nongkrong, dan drakoran. Hingga suatu ketika Milea mendapat sebuah pencerahan karena potongan video dakwah di Instagram.

Lama-kelamaan Milea makin rajin follow akun-akun Instagram beberapa ustaz yang digandrungi milenial. Dan Alhamdulillah, Milea mulai rajin mendengarkan tausiyah-tausiyah online ustaz pujaannya.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Iqbaal Ramadhan

Merasa tak cukup, Milea akhirnya tergerak untuk mengikuti kajian keagamaan secara langsung. Mulanya dia mengikuti Lembaga keislaman kampusnya. Kini, walau perlahan Milea sudah mulai berubah. Miliea yang tadinya belum berjilbab akhirnya memutuskan untuk menutup auratnya secara sempurna.

Melihat ada gelagat yang berubah dari mantan SMA-nya itu, Dilan pun kembali mengenang masa lalunya. Sampai akhirnya Dilan kembali jatuh cinta dengan Milea pujaannya.

Tak mau kehilangan cintanya. Dilan pun berdiskusi dengan guru ngajinya. Lalu Dilan pun memutuskan untuk menikahi Milea.

Sempat terkejut akan keputusan Dilan. Milea pun akhirnya menyetujui lamaran ini. Tentu setelah istikhoroh dan proses meyakini kedua orang tuanya. Tepat memasuki semester tujuh. Dilan dan Milea pun akhirnya meniqaaaa.

Ijab pun sudah diucapkan. Hal-hal yang tadinya haram kini sudah menjadi halal bahkan berpahala. Selesai resepsi pernikahan, Dilan berkata kepada Milea.

“Mil, Kamu tau yang berat itu apa?”

“Tahu dong, rindu kan? Itu kan udah kamu bilang pas di jilid pertama, gimana sih?” jawab Milea.

“Nggak ya… Kata Imam Ghozali yang berat itu adalah amanah. Dan amanah ku sekarang adalah menjagamu, membuatmu tersenyum dan bahagia.”

Milea pun tersipu malu. Sambil tetap bersyukur Dilan tidak berubah dengan segala ucapan manisnya.

***

Suatu hari, mereka pernah terpisah. Karena urusan perkuliahan dan perdakwahan. Dilan sempat sejenak pergi ke luar kota. Dilan pun membuka HP-nya dan mengirim pesan ke istri tercinta.

“Kabar kamu gimana, Mil?”

“Kamu sehat?”

“Kamu dah makan?”

“Kamu mau keluar nggak hari ini?”

Milea yang masih typing ini heran dengan banyaknya pertanyaan dari suaminya.

“Kenapa kamutu nanya-nya banyak banget c? Ini lagi mau dibales.”

“Hmm, sebab nabi pernah bersabda, istafti qolbak yang artinya bertanyalah pada hatimu,” balas Dilan.

Milea pun salah tingkah sendirian di dalam kamarnya.

Sa aelu.

***

Karena musim kampanye sudah masuk. Milea sedikit heran dengan sikap suaminya. Dilan yang dulu dikenal aktivis ini kok malah jarang bahas soal pilpres di media sosialnya. Milea pun bertanya kepadanya.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Mami Nikita Mirzani

“Kamu kok jarang update status tentang pilpres?”

“Ah, males debat terus. Kata ulama al khuruj minal khilaf mustahab,” kata Dilan.

“Apa tuh artinya?” tanya Milea penasaran.

Dilan melanjutkan penjelasannya.

“Artinya itu, keluar dari hal-hal yang diperselisihkan atau diperdebatkan adalah hal yang disenangi, tapi …”

“Tapi apa?” Milea makin penasaran.

“Tapi kalo keluar dari hatimu, bagiku itu sesuatu yang diharamkan.”

Milea pun mencubit pipi Dilan.

Emes emes deh.

***

Seperti biasanya Milea dengan segala kesibukannya, masih menyempatkan diri  membuat sarapan untuk suami. Dilan pun duduk dan bersiap makan masakan buatan istrinya.

“Makan sepiring berdua aja yuk? Biar bisa ngamalin hadis Nabi,” kata Dilan.

Milea pun tersenyum dan menuruti ucapan suaminya. Sambi melahap makanan mereka pun membicarakan berbagai hal.

“Hm, tadi kamu ngomong hadis kan? Emang bedanya hadis sama sunnah apa sih? Akutu sering denger tapi kadang suka bingung,” tanya Milea.

“Oh itu mah gampang. Kalo hadis itu segala sesuatu yang Nabi ucapkan, lakukan, dan perbolehkan,” kata Dilan.

“Kalo sunnah apa?” tanya Milea.

“Kalo sunnah itu kek gini nih,” Dilan pun mencium kening Milea sambil berkata, “ini namanya sun-ah”.

Acara makan-makan pun bubar.

***

Dilan pun pulang ke rumah kontrakannya. Amanahnya sebagai ketua lembaga keislaman kampus begitu menyita waktunya. Milea yang melihat suaminya tampak lesu mencoba untuk menghibur Dilan.

Milea ingat kan sebuah hadis, “senyummu kepada saudaramu adalah sebuah sedekah.”

“Hei, koq lesu gitu minta shodaqohnya dong,” kata Milea bercanda.

Mendengar hal itu. Dilan malah menarik istrinya lalu mengajaknya ke kamar.

Milea pun terkejut dengan sikap suaminya.

“Loh koq malah ke sini? Maksud akutu minta senyummu. Kan kata Nabi senyum itu sedekah.”

“Oalah, kirain sedekah yang mana. Karena kata Nabi pun setiap hubungan badan yang dilakukan suami istri itu bernilai sedekah.”

“Yaudah jadinya gimana nih? Kita dah terlanjur di sini,” tanya Dilan meneruskan.

Milea pun tersipu malu kemudian mengangguk tanda mengiyakan.

Lampu padam, film bubar, lalu penonton di bioskop pun misuh-misuh semuanya.