Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Video

Motivasi Hidup Ala Dabwok: Hijrah Nggak Harus Ninggalin Musik

Redaksi oleh Redaksi
17 Mei 2025
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di episode Sebat Dulu kali ini, Alit Jabang Bayi dan Patub ‘Letto’ ngobrol santai bersama Dabwok, seorang musisi Jogja yang memutuskan untuk hijrah, tapi ogah ninggalin musik yang sudah jadi nafas hidupnya sejak lama. Biasanya, hijrah identik dengan meninggalkan dunia lama. Namun, Dabwok memilih jalan berbeda dengan arah yang lebih jelas.

Perjalanan hidupnya bukan kaleng-kaleng. Sebelum menemukan titik balik, Dabwok sempat gelisah berkepanjangan. Ia pernah tenggelam dalam fase hidup yang penuh kekosongan dan nyaris pamit dari dunia. Tapi justru dari titik gelap itulah kesadaran muncul secara perlahan yang membuat ia putar stir untuk hijrah. Bukan cuma soal tampilan dan buat gaya-gayaan, tapi tentang jujur dengan diri sendiri dan mencari makna hidup yang lebih dalam.

Iklan

Yang membuat menarik, Dabewo tidak memutus hubungan dengan masalalunya sebagi musisi. Sebaliknya, ia Justru menyatukannya dengan semangat hijrah yang baru, musik yang dulunya jadi pelarian kini malah jadi jalan dakwah. Ia percaya dakwah nggak harus lewat ceramah panjang, namun dengan lagu yang tulus justru lebih ngena. Pandangan ini jadi angin segar buat mereka yang galau antara jadi diri sendiri atau ikut arus tren rohani.

Kini, Dabwok aktif sebagai solois dan bagian dari Yogyakarta Hadroh Clan (YKHC), grup hadroh yang mengusung kesenian Islam dengan sentuhan kekinian. Lewat YKHC, Dabwok membuktikan hijrah bukan berarti menghapus masa lalu. Justru, itu jadi fondasi untuk hidup yang lebih jujur dan bermakna.

Simak obrolan inspiratif mereka dalam episode terbaru Sebatdulu sampai habis dan temukan kisah penuh makna tentang perjalanan hijrah Dabwok dalam menemukan jati diri.

Tags: hijrahMotivasiMusiksebatduluykhc

Terpopuler Sepekan

kesehatan mental dan stigma odgj mojok.co

Indonesia Darurat Depresi pada Remaja: Jangan Pernah Takut Mencari Bantuan Masalah Kesehatan Mental

31 Juli 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta godok aturan pelarangan perdagangan HPR. MOJOK.CO

Yogyakarta bakal Susul Korea Selatan, Larang Perdagangan Daging Anjing demi Cegah Penyakit Menular

4 Agustus 2026
Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder MOJOK.CO

Dari Kebun Binatang Surabaya, Kita Belajar Cara Penguasa Melakukan Social Murder

31 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

Konsultasi Publik di Bandung Hasilkan Masukan Strategis Konservasi Elang Jawa 2026-2036

3 Agustus 2026
belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.