• 635
    Shares

MOJOK.CO – Meteor Garden muncul kembali pada 2018 untuk tante-tante yang besar di zaman Orde Baru. Tante Diana mengulasnya untuk pecinta Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu, dan Vanness Wu.

Orang bilang, 17 tahun adalah waktu yang cukup untuk menjadikan seseorang dianggap dewasa dan punya kendali atas perbuatannya. Namun rupanya, jarak 17 tahun yang dibentangkan antara Meteor Garden 1 yang tayang pada tahun 2001 sampai Meteor Garden Remake tahun 2018 ini tidak bisa mendewasakan khayalan delusional para perempuan yang masa mudanya tersesat oleh pesona F4.

Bagi para perempuan usia 25-40 tahunan saat ini, Meteor Garden adalah sebuah kunci untuk membuka kotak pandora kenangan masa muda dan gairah puber pertama. Saya ingat betul, dulu saya terbirit-birit pulang tarawih duluan demi nonton Meteor Garden 2 yang ending-nya jelek betul itu.

Pagi hari saat berangkat sekolah naik sepeda 5 kilometer, mulut saya akan berbusa-busa menceritakan kembali adegan demi adegan yang saya tonton malam sebelumnya. Kalau ingat ini, saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya kepada teman-teman saya yang mau-maunya meladeni ocehan saya. Saya yakin mereka muak, tapi juga kasihan melihat anak kampung yang begitu memuja pria-pria Taiwan nun jauh di sana. Saat itu rasanya, menjadi TKW ke Taiwan demi bertemu F4 adalah sebuah cita-cita yang sungguh mulia.

Kemudian beberapa bulan lalu, demi memenuhi ambisi nostalgia dan menghabiskan kuota, saya nonton ulang lagi seri Meteor Garden, semua episode, dari awal hingga akhir, dan perspektif saya mengenai seri ini berubah drastis. Kalau dulu saya begitu terpesona pada sosok Dao Ming Shi yang tampan, kaya, dan dominan, maka kini saya melihat dia sebagai sosok lelaki kekanakan yang abusive dan sama sekali nggak prospektif untuk dinikahi.

Lho, kan dia kaya? Yakin kamu sanggup menghadapi emaknya yang jahatnya naudzubillah itu? Wong mertua komen masakanmu kurang asin aja kamu baper, mertua nyuruh kamu cuci piring aja merasa diperbudak, kayak gitu kok merasa sanggup menghadapi emaknya Dao Ming Shi. Halah, Mbelgedhes.

Ketika desas-desus Meteor Garden akan dibuat versi remake-nya tahun ini, saya enggak terlalu antusias menunggunya, karena saya yakin persepsi saya terhadap sosok pria ideal sudah berubah ditempa zaman dan pengalaman. Pria yang mau bantuin cuci piring itu lebih romantis daripada pria yang dengan bodohnya nunggu kamu datang sambil hujan-hujanan dan enggak berteduh lalu masuk angin. Kan merepotkan. Maka, ketika episode pertama muncul di Viu tanggal 16 Juli kemarin, saya sempat lupa dan baru menontonnya siang hari. Rupanya, mereka benar-benar me-remake serial ini, dan hasilnya melebihi ekspektasi saya.

Baca juga:  Es Krim Viennetta dalam Kenangan Orang Miskin Orde Baru

Kalau dalam Meteor Garden 2001 kita langsung akan disuguhi sosok F4 yang populer di kampus cuma karena dua hal: tampan dan kaya, maka sosok F4 yang dimunculkan dalam Meteor Garden 2018 ini sedikit berbeda.

Mereka populer di kampus karena masing-masing punya skill mumpuni, pintar, dan tergabung dalam klub pemain kartu bridge yang tak terkalahkan. Ya, wajar lah kalau kemudian mereka populer dan dominan. Tapi, dominannya F4 yang baru ini bukan yang intimidatif dan mengarah kriminal seperti versi awal.

Di versi awal, itu parah banget sih. Mereka ngerjain orang-orang yang enggak mereka suka sampai di-DO. Jadi heran itu kampusnya kenapa bisa jadi kampus terbaik kalau mahasiswanya disiksa terang-terangan di kampus. Nah, versi baru ini ceritanya justru mereka ditantang banyak orang yang ingin membuktikan kalau F4 itu bisa dikalahkan. Saking banyaknya yang nantang, sampai-sampai ada waiting list dan ada undangan khususnya berupa kartu joker. Halu banget emang.

Versi baru Meteor Garden juga tidak mengeksploitasi jurang perbedaan antara old money dan sobat misqueen. Sanchai diceritakan berasal dari keluarga sederhana. Ibunya penyedia katering, dan ayahnya karyawan kantoran biasa. Ia masuk kampus jurusan Ilmu Gizi supaya bisa meneruskan usaha ibunya dengan lebih baik. Beda banget sama Sanchai versi lawas yang masuk kampus bergengsi karena emaknya ingin dia kelak dapat suami kaya-raya. Ya, doa ibu memang mujarab sih. Toh, pada akhirnya Sanchai benar-benar dapat suami kaya raya. Tapi, kalau ingat motivasi ibunya itu, saya merasa ibunya bagai germo yang akan memberikan anak gadisnya kepada penawar tertinggi.

Baca juga:  Belajar Kritik Satire bersama Tommy Soeharto

Menonton serial drama dengan puluhan episode dan durasi panjang memang butuh energi dan fokus yang luar biasa, dan salah satu faktor utama yang memengaruhinya adalah tingkat ketampanan para aktornya. You know kan, perempuan tuh selalu merasa iri dengan perempuan lainnya. Itulah kenapa para pemirsa perempuan baik-baik saja kalau aktris drama favoritnya tidak cantik atau B ajah. Tapi, kalau aktornya enggak ganteng? Hell, no! It’s a big deal! Dan akan sangat berpengaruh dalam keberlangsungan mengikuti alur cerita sampai episode terakhir.

Jadi, siapakah sebenarnya makhluk visual itu?

Nah, karena Meteor Garden ini semacam fantasi puber pertama generasi tante-tante dan mereka yang sekarang menyandang gelar mamah muda, maka casts Meteor Garden Remake dengan aktor remaja usia kuliah rasanya terlalu cimit-cimit dan kurang menggoda. Meski tingginya di atas 185 cm, tapi postur mereka dianggap kurang berisi dan kurang lakik. Mukanya lumayan cakep dan manis, tapi tetap saja sulit sekali meruntuhkan standar ideal yang sudah dibentuk oleh F4 lawas.

Sebut saja Klepon, seorang perempuan Jakarta berusia 28 tahun yang telah menikah. Dia rindu melihat lengan kekar Mei Zhuo dan bibir tipisnya yang dulu sering dipulas lip gloss.

“Cakepan yang duluuu.. Aku gemesch pengen gigit-gigit lengannya Mei Zhuo,” begitu komentarnya sambil meremas bantal dengan penuh nafsu.

Ciplukan, seorang ibu muda beranak dua, juga merasakan hal yang sama. Dia jadi seperti naksir berondong SMA, dan merasa berdosa karenanya. Apalagi mengingat anaknya yang pada saat bersamaan masuk sekolah hari pertama, ia merasa tak lagi muda.

Memang hal yang sulit untuk mengganti kharisma F4 versi awal. Meski sinematografinya bagus, latarnya indah, cerita lebih rasional, adegan demi adegan yang lebih smooth, soundtrack yang juga enak didengar dan mudah dikenali (plus instrumentasi lagu-lagu lawas F4 yang disisipkan dalam beberapa adegan), Meteor Garden 2018 akan sulit menyaingi versi lawas. Karena bagi para tante-tante delusional macam saya, Jerry Yan, Vic Zhou, Ken Zhu, dan Vanness Wu adalah harga mati imajinasi.