MOJOK.CO“Kenapa tidak dibagikan saja?” kamu menggugat. Kamu pikir ide itu tak terpikir? Bayangkan, jika kamu yang cuma nonton bisa sakit hati, apalagi petani sayur dan peternak telur sendiri.

Setiap kali ada berita, ada video yang viral, menggambarkan petani sayur, buah-buahan, sampai peternak telur dan ayam memusnahkan hasil panen mereka atau menghancurkan bibit yang harusnya mereka rawat, respons kalian yang bukan petani selalu mudah ditebak. Marah. Menyayangkan. Yah, sudah tentu menyayangkan. Kita bangsa yang buang nasi berair saja tak tega, sampai bela-belain tetap memakannya dengan diolah dulu jadi nasi goreng. Apalagi membuang banyak sekali sayur segar, buah-buahan yang sudah ranum, dan berkilo-kilo telur siap olah. Perasaanmu itu niscaya tambah tercabik-cabik jika yang dimusnahkan bibit ayam. Iya, ada kasus anak ayam berusia 3-10 hari dimusnahkan karena pasar kelebihan stok dan peternak tak mampu memberi pakan.

Tapi coba kamu ambil posisi sebagai petani sayur atau peternak telur. Jika orang yang cuma menonton saja sakit hati, tentu perasaanmu lebih hancur. Apa yang lebih tragis dari orang yang menghancurkan hasil kerjanya sendiri? Kamu membuang tulisan jelekmu yang tak dimuat di mana-mana itu saja tidak tega kan?

Tapi aku tak akan menyalahkanmu yang awam. Aku akan coba jelaskan mengapa semua itu bisa terjadi. Dan aku berharap, semoga kamu sebagai konsumen bisa ikut memperbaiki keadaan.

Mau di sektor perunggasan maupun hortikultura seperti sayur dan buah-buahan, adalah hal lumrah para petani membuang hasil panen yang jumlahnya berton-ton. Ini biasanya terjadi ketika panen raya dan harga jatuh.

Di tingkat petani, harga dapat anjlok separah-parahnya. Tomat yang normalnya dibanderol Rp4.000-Rp6.000 per kilo di petani, kemarin anjlok sampai Rp400. Cabe rawit yang standarnya dijual Rp20.000 per kilo, turun drastis jadi Rp4.000. Sebagai seorang petani, aku juga pernah merasakan hal yang sama. Bulan Agustus lalu, di lahan 700 meter persegi aku menanam sawi. Waktu panen tiba, harga sampai di angka Rp200 per kilo. Padahal untuk sekadar balik modal sawi-sawi itu harus dijual minimal Rp1.500-Rp2.000 per kilo. Aku tak salah tulis, hanya dua ratus rupiah per satu kilo sawi. Masih lebih murah dari permen dan kalau mau bayar parkir ibarat mesti memberi 10 kilo sawi ke tukang parkir. Sepuluh kilo! Cukup buat sawi toping mi ayam satu asrama.

Sebagian sawi yang aku tanam akhirnya berakhir di mana-mana. Sebagian lari ke kandang ternak, sebagian berakhir di dapur orang, lainnya jadi kompos di lahan.

***

Biasanya tengkulak akan muncul ketika panen sayur begini. Mereka mendatangi petani, menyepakati harga, lalu kalau oke mereka pulang untuk datang lagi membawa pasukan buruh tani guna memanen sayur di kebun kami. Tapi, ketika harga turun, tengkulak pun jarang mau ke kebun. Alhasil, petani bingung ke mana harus ngalihin hasil kebunnya. Sebagian yang frustrasi akan memilih membuang hasil panen mereka.

Mengapa bisa begitu ada penjelasannya.

Coba anggap kamu punya 2 ton sawi dan harga sedang jatuh di angka Rp300 per kilo. Buat ongkos panen saja, kamu perlu mengupah orang dengan ongkos Rp50.000 per hari. Sedangkan untuk panen sebanyak itu, biasanya perlu tenaga 4-10 orang. Artinya, jika memaksa panen, buat nutup ongkos memanennya saja belum tentu terbayar.

Opsi untuk membagikan sawi 2 ton ini juga tantangan. Mungkin kalau 10-20 nasi bungkus tak jadi soal, tapi 2.000 kilo sawi! Sudahlah perlu waktu dan tenaga buat panen, masih perlu waktu, tenaga, dan ongkos lagi untuk transportasi dan bekerja membagikan gratis hasil sayur ini ke orang-orang. Sampai di sini mungkin kalian sadar menuntut petani membagikan panen itu kejam sekali. Kan sudah rugi bandar karena harga hancur. Lalu dianggap punya tanggung jawab moral buat bagiin hasil sayurnya. Coba, waktu ada restoran fast food rugi, kamu pernah minta mereka bagi-bagi menunya tidak?

Petani menjual langsung hasil panennya ke pasar pun bukan solusi. Mungkin beberapa petani sudah menjual langsung ke pasar. Tapi untuk petani yang sekali panen mencapai 1-2 ton bakal sangat sulit. Sebab kapasitas pedagang di pasar paling berapa puluh kilo saja per kios.

Hal yang sama juga sering terjadi di perunggasan. Di Jogja tahun 2019 lalu kita melihat peternak membagi-bagikan ayamnya secara gratis di depan balai kota. Waktu itu harga live bird sangat murah di tingkat kandang. Harga jual terlalu rendah untuk menutup biaya operasional dan kini hal yang sama juga di konteks telur. Sayangnya, peristiwa seperti ini terjadi berulang kali setiap tahun, menandakan satu persoalan serius di sistem pangan kita.

Masalah ini akan mengantarkanmu pada lusinan episode kisah pertanian di Indonesia yang belum kunjung usai. Dan kuncinya ada di soal tata niaga.

Kalau kamu merunut sayuran yang ada di dapurmu sekarang, mungkin banyak darimu tidak tahu muasalnya. Namun, biasanya begini sih: petani membudidayakan pangan di kebun, lalu ada tengkulak yang membeli dari petani, tengkulak ini kemudian menjualnya di pasar induk, dari pasar induk kemudian dibeli oleh pedagang lebih kecil, barulah sayuran ini sampai di depan warung atau tukang sayur. Pola serupa juga berlaku untuk ragam telur, daging ayam, jamur, dan bahan pangan lainnya.

Suatu jaringan distribusi yang panjang ini merupakan corak tata niaga pangan di Indonesia. Di sinilah mata rantai yang saling bergantung. Sehingga ketika harga jatuh, kadang tengkulak tidak mau membeli hasil panen dari petani dan berakhir dengan petani dan peternak membuang hasil panennya.

Ini belum bicara soal perbedaan harga. Kami para petani dan peternak umumnya hanya mendapat 20-40 persen dari harga akhir di konsumen. Misal untuk sawi, petani menjual Rp1.500 per kilo di kebun kepada tengkulak. Nanti tengkulak menjual Rp3.500 per kilo kepada bandar di pasar. Bandar menjual Rp5.000 per kilo kepada pedagang. Pedagang kemudian menjual sawi Rp7.000 per kilo kepada konsumen. Jadi persis seperti penerbit buku: petani jadi pihak yang menanggung risiko paling besar, tapi bukan petani yang mendapatkan profit paling banyak dari aktivitas pertanian itu.

***

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?

Ada jawaban sederhana untuk mengatasi permasalahan mahakompleks ini. Kita sudah tahu mata rantai distribusi pangan begitu melintang dan ruwet, yang kalau dipikir akan menghabiskan banyak energi hanya agar pangan itu sampai di meja makan. Tantangannya adalah soal bagaimana mengubah sistem pangan yang panjang menjadi sederhana sekaligus lokal.

Dengan membeli dari petani dan peternak langsung, bukan cuma banyak emisi bisa dipangkas, konsumen juga bisa memberi harga yang lebih baik kepada petani. Dan inilah yang jarang terjadi. Sebab, biasanya petani menanam sayur secara banyak dan seragam, membuat opsi konsumen membeli langsung ke kebun jadi terbatas.

Koordinasi antara petani dan peternak mesti segera diupayakan untuk membuat hasil panen dapat terserap oleh komunitas lokal terlebih dahulu. Pertanian ini harus disadari bukan cuma soal budidaya, tetapi merupakan aktivitas lintas pihak yang melibatkan produsen di hulu dan konsumen di hilir. Dengan membangun sistem distribusi berjamaah, lokal untuk lokal, harapannya sih semoga bisa tercipta satu mata rantai distribusi antar petani, peternak, dan konsumen yang lebih padu dan berdaya.

Tentu, tentu, aku tahu ini menyangkut 33 juta petani dari 270 juta penduduk Indonesia. Bukan satu perkara yang mudah membenahi mata rantai dan sistem distribusi hasil pertanian ini. Tapi, minimal dengan mengupayakan di tingkat desa dan bertahap ke tingkat atas, mungkin kita bisa memberi harapan bakal ada sistem distribusi yang lebih baik dari sekarang. Agar kelak ada hari ketika telur tidak berakhir dibuang di jalan. Agar kelak ada satu sistem pangan yang berjalan tanpa kemubaziran. Aku sebagai anak muda yang memutuskan bertani begitu lulus kuliah, masih punya harapan atas itu. Bismillah saja.

BACA JUGA Maaf, Pak Jokowi, Kami Malas Jadi Petani dan esai-esai pertanian lain di Mojok.

Baca juga:  Dunia Buku, Kopi, dan Jokowi