Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Maaf, Pak Jokowi, Kami Malas Jadi Petani

Husni Efendi oleh Husni Efendi
13 September 2017
A A
Maaf, Pak Jokowi, Kami Malas Jadi Petani

Maaf, Pak Jokowi, Kami Malas Jadi Petani

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kemarin pagi saya membaca beberapa koran pagi ditemani tahu Sumedang, lengkap dengan gigitan cabai rawit yang semakin syahdu karena tinggal melahap kudapan yang dibawa teman alias gratis. Tahu itu seperti seret di tenggorokan saat halaman berita sampai pada berita bagaimana petani cabai di Waled, Cirebon, malas panen.

Males panen, Bor. Malas panen.

Iklan

Membaca petikan wawancaranya (Jawapos edisi Selasa, 12 September 2017, hal 3), Pak Maimun, salah satu petani cabai tersebut, membuat saya miris dan menjadi enggan melanjutkan ngremus cabai untuk sementara.

“Kami juga bingung. Padahal, saat ini musim kemarau, biasanya harga-harga mahal karena ongkos dan biaya tanam naik. Ini malah turun, cenderung tidak laku,” ungkapnya. Pak Maimun mencontohkan harga cabai hijau besar di tingkat petani yang saat ini dibeli tengkulak hanya Rp 4 ribu per kilogram.

Harga itu, menurutnya tidak sebanding dengan ongkos biaya petik harian yang saat ini mencapai Rp 35 ribu, yang paling-paling maksimal dapat 7 kilogram cabai. Jika dikali Rp 4 ribu, paling banter dapat Rp 28 ribu, sedangkan biaya yang dikeluarkan Rp 35 ribu. Ketimbang harus tombok, mending tidak usah dipanen. Itu alasan yang logis sekaligus membuat ngelus dada.

Duh, saat harga cabai tinggi seperti beberapa bulan lalu, petani pun belum tentu sejahtera, apalagi seperti sekarang saat harganya anjlok, bahkan saat memanen pun mereka enggan.

Sementara itu, menurut Kepala Badan Pusat Statistik, Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, awal Agustus kemarin, nilai tukar petani (NTP) sepanjang Januari-Juli konsisten di bawah NTP pada periode yang sama tahun lalu. Dan tentunya hal tersebut adalah indikasi yang tidak bagus.

Masih menurut data BPS tersebut, NTP stagnan di angka 100. Idealnya, indeks harga yang diterima petani jauh lebih besar daripada yang dibayar sehingga petani lebih sejahtera dan bisa menabung. Kenyataannya, tidak demikian. NTP merupakan perbandingan antara Indeks harga yang diterima petani dengan Indeks harga yg dibayar petani.

Ketika NTP di atas angka 100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya dan pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya.

Jika NTP-nya adalah 100, seperti data yang dilansir BPS di atas, berarti petani mengalami impas. Kenaikan atau penurunan harga produksinya sama dengan persentase kenaikan atau penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani sama dengan pengeluarannya.

Di angka itu pun sebenarnya petani sudah rugi, karena beban hidup petani tentu bukan hanya persoalan produksi, ada urusan dapur tetap ngebul, anak tidak terlambat bayar sekolah, atau tetek bengek cicilan lain yang tidak akan pernah berkompromi.

Bisa dibayangkan, rendahnya nilai tukar petani dalam jangka panjang mungkin akan mengancam ketahanan pangan. Alasannya tentu jelas, sektor pertanian akan semakin ditinggalkan karena kian tidak menguntungkan. Usaha tani bahkan menjadi pilihan terakhir.

Mas dan Mbak, nganu, jangan dikira urusan pangan ini bukan urusan politis, lho. Memang sih tidak seseksi demo mengutuk osang-oseng tapir sambil teriak-teriak sembari mbibrik akhwat lucu uwuwuw.

Beberapa saat lalu, Presiden Jokowi dalam Dies Natalis IPB ke-54 di Kampus IPB Bogor mengatakan bahwa lulusan IPB banyak yang kerja di bank daripada menjadi petani. Duh, saya jadi mbatin apa salahnya kalau saya tidak mau jadi petani, jika kesejahteraannya suram. Bagaimana nanti bisa beli kuota, kredit kendaraan, biaya eksis foto-foto untuk Instagram, biaya mbibrik dan lain-lainnya?

Iklan

Mungkin mahasiswa dan mahasiswi IPB itu mbatin;

“Lha, nyuwun sewu lho, Pak Jokowi, njenengan juga kan dulu kuliah di Fakultas Kehultanan UGM kok sekarang jadi presiden?”

Lalu netizen khas anak-anak gera’an berkomentar beda lagi:

“Lha piye mau jadi petani, sawah-sawah malah dibangun pabrik semen?”

Sejak awal masa pemerintahannya, Presiden Joko Widodo bertekad untuk mevvujudkan kedaulatan pangan pada empat komoditas, yaitu beras, gula, jagung, dan kedelai. Pada saat pemerintah bertekad menciptakan kedaulatan pangan, justru lahir ironi: kesejahteraan petani merosot.

Mungkin, menjadi petani memang menjadi jalan sunyi yang tidak semua orang bisa dan mampu melakukannya. Sebuah jalan ninja yang penuh rintangan, jalan hijrah yang kaffah. Sedikit enaknya banyak getirnya.

Saking getirnya, saya kemudian mencari lagu petani di Youtube yang dulu sering diputar di TVRI tahun 90-an. Itu pun saya tidak bisa temukan. Sekadar klangenan lirik:

Nasi putih terhidang di meja kita santap tiap hari

Beraneka ragam hasil bumi dari manakah datangnya

Dari sawah dan ladang disana, petanilah penanamnya

Panas terik tak dirasa, hujan rintik tak mengapa

Masyarakat butuh bahan pangan

Terima kasih bapak tani, terima kasih ibu tani

Tugas anda sungguh mulia …

Yang ada hanya versi covernya, saya jadi ingin menangys. Tambah ingin menangys karena saya juga cuma nyangkem, lupa kapan terakhir bersihin rumput di sawah.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2018 oleh

Tags: ipbjokowipetani
Husni Efendi

Husni Efendi

Artikel Terkait

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh Petani adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani MOJOK.CO
Esai

Menjadikan Tengkulak Sebagai Musuh adalah Gagasan Konyol yang Nggak Akan Sejahterakan Petani

2 Maret 2026
Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan MOJOK.CO
Jagat

Waste to Energy (WtE): Senjata Baru Danantara Melawan Darurat Sampah di Perkotaan

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.