Pekan ini boleh jadi adalah pekan yang sewot bagi para alumnus IPB, sebab beberapa waktu yang lalu, Pak Presiden kita tercinta baru saja menyindir para lulusan IPB yang ternyata lebih banyak berkarir di bank alih-alih di persawahan.

“Maaf Pak Rektor. Tapi mahasiswa (lulusan) IPB banyak yang kerja di Bank.” Kata Jokowi saat menghadiri Sidang Terbuka Dies Natalis IPB ke-54 di Kampus IPB, Bogor, Rabu kemarin. Sindirannya yang halus itu langsung disambut tawa sejumlah mahasiswa yang hadir. Banyak yang tertawa karena itu lucu, tapi tak sedikit yang tertawa karena merasa getir.

Jujur, walau apa yang dikatakan oleh pak Presiden itu benar adanya, namun hal tersebut tentu tidak dapat dijadikan sebagai cela general bagi IPB. Sebab pada akhirnya, banyaknya mahasiswa lulusan IPB yang justru berkarir di dunia yang sama sekali tidak berhubungan dengan pertanian adalah perkara kondisi.

Tentu bisa dimaklumi, ada banyak faktor, salah satu yang paling kentara boleh jadi adalah semakin menyusutnya lahan pertanian di Indonesia. Sawah-sawah milik masyarakat banyak dijual untuk kemudian dibangun sebagai rumah, ruko, dan aneka bangunan lainnya. Bandingkan dengan pertumbuhan jumlah kantor bank yang dari tahun ke tahun semakin banyak saja. Di tahun 2011, ada sekitar 14.797 kantor bank umum, itu belum termasuk bank perkreditan rakyat, dan akhir tahun 2015, jumlahnya sudah menggelembung menjadi 32.963 kantor.

Lha gimana, ilmu pertanian sudah di tangan, tapi lahan pertanian tak ada, bingung mau bertani di mana, padahal hidup harus terus berjalan dan tetap butuh makan, pada akhirnya, pilihan-pilihan logis pun diambil, mendaftar kerja di tempat yang memungkinkan walau jauh dari passion dan ilmu yang dipelajari. Perkara pertanian, cukuplah menanam cabai atau tomat di pot di halaman rumah saja. Yang penting kan tetap bercocok tanam, tetap berada di bawah marwah pertanian yang menjaga ukhuwah antara tanah dan tanaman.

Terkadang satu ilmu terapan baru bisa berguna ketika ada media penerapannya. Sama seperti ilmu financial planning atau perencanaan keuangan yang mungkin tidak akan berguna ketika bertemu dengan orang yang kere. Lha uangnya saja tidak ada, apa yang mau direncanakan?

Walau memang memprihatinkan, tapi ya memang begitulah kenyataannya. Ini bukan hanya di IPB saja lho. Di kampus lain atau di ragam ilmu lain juga begitu. Saya ambil contoh Puthut EA yang lulusan filsafat itu. Sekarang ia bekerja sebagai penulis, kenapa? Ya karena di Indonesia memang tidak tersedia pekerjaan sebagai filsuf. Kalaupun ada bukaan PNS buat lulusan filsafat, mentok plotnya di KUA atau Kemenag. Nggak kebayang kan kalau Puthut EA yang kemaki itu harus bekerja sebagai penghulu?

“Saya nikahkah, Rambat bin Prawiro, dengan Ratih binti…”

Hash… Ramashoooook, Thut, Ramashoooook.

lulusan ipb

  • Syahrul Ramadhan

    “Ya karena TIDAK di Indonesia memang tidak tersedia pekerjaan sebagai filsuf.”
    “Tidak” yang pertama kayaknya lebih baik dihapus min.

  • Nita

    Mas dan mbanya, bicara ttg pertanian itu ga cuma cocok tanam aja. Lain kali kalau mau nyajiin artikel, jangan besar mulut aja. Tapi kaji dan buka wawasannya.

    • Ryan Perdana

      Wah tajam sekali, Mbak. Saya yang lulusan IPB biasa-biasa saja dan memang betul adanya ‘kan?
      Hanya memang tulisan di atas dan pernyataan Pak Presiden harus dijadikan otokritik untuk kita sebagai alumni dan IPB secara umum.

      • Nita

        Iya betul mas. Tp mas coba cek lagi data lulusan ipb terbaru. Seberapa banyak mahasiswa yg bekerja sesuai dgn jurusannya? Ada sekitar 70% mas. Kalau hanya melihat dari bercocok tanam atau lahan, jelas terlihat sedikit. Saya sangat menyayangkan memang dgn pernyataan Pak Presiden di Orasi Ilmiahnya kmrn. Tp yg saya sangat sayangkan lg adalah opini2 dr media yg menggiring persepsi masyarakat terkait isu pertanian ini. Karena pertanian itu tdk hanya dilihat dr aspek lahan, tanaman dsbnya. Ada baiknya media menjadi fasilitator pencerdasan bagi masyarakat agar masyarakat bisa menilai sesuatu tdk hanya dr sudut pandang mereka.

        • dyah

          Menarik nih, saya lulusan psikologi jadi kurang paham. Kalau berdasarkan tulisan redaksi, seperti sudah pas dinalar saya. Tapi mungkin lulusan-lulusan IPB langsung lebih menguasai “medan”.

          Logika penulisannya kurang tepat dibagian mana, Kak? Bisa sharing ilmunya?

          Terima kasih

          • Nita

            Ada beberapa statement yg saya pikir krg pas seperti, “Perkara pertanian, cukuplah menanam cabai atau tomat di pot di halaman rumah saja. Yang penting kan tetap bercocok tanam, tetap berada di bawah marwah pertanian yang menjaga ukhuwah antara tanah dan tanaman.”

            Dan statement, “tak heran jika byk lulusan ipb jd pegawai bank sebab bau uang dan pewangi ruangan lebih harum ketimbang bau lumpur dan pupuk kandang”

            Pertanyaannya, apakah mahasiswa ipb memang dididik hanya utk berkutat dgn pupuk kandang dan lumpur? Apa petani tdk bisa menjadi kaya dan duduk di ruangan yg penuh dgn ac dan pewangi ruangan? Entah saya yg memang salah mengartikan statement2 ini atau bgmn, tp menurut saya hal2 kecil seperti inilah yg jd salah satu alasan kenapa petani2 di indonesia tdk dihargai pdhl jasanya luar biasa. Bgmn pertanian (dlm arti keseluruhan) di Indonesia mau maju kalau masyarakatnya saja memiliki persepsi2 yg krg baik thd para petani?

          • dyah

            Bagian ini, Kak: Apakah mahasiswa IPB memang dididik hanya utk berkutat dgn pupuk kandang dan lumpur? –> pertanyaan Kakak. Berarti mahasiswa IPB itu tidak selalu berkutat dengan pertanian ya? Atau mudahnya, ketika kulaih, oleh pihak kampus, lulusan IPB ini di arahkan kemana, Kak?

            Dan yang menarik lagi, di atas, Kakak menuliskan 70% lulusan IPB bekerja sesuai jurusan. Nah, ini datanya bisa dilihat di mana gitu, Kak. Biar kami yang baca juga punya informasi tambahan yang valid.

            Hehehehe … Maaf panjang nanyaknya 😀

          • Galih Citra Yogyanti
          • dyah

            Berarti kalau kita gabungkan, dapat ditarik kesimpulan seperti ini kah?

            Berdasarkan data alumni IPB tahun 2015, 79,20 % lulusan IPB sudah berkerja pada salah satu bidang:
            1. Perikanan,
            2. Peternakan,
            3. Kehutanan
            4. Strategi marketing pertanian.
            5. Mesin2 industri bekerja.
            6. Sistem penanganan dan pengolahan makanan di industri.
            7. Standarisasi dan peraturan yg menjadi acuan dr sistem pertanian secara luas.
            8. Gizi, kedokteran hingga arsitektur lahan dan tata letak kota.

            Begitu ya?

            Kalau tidak salah meskipun di Bank, tetap ada bidang yang sesuai dengan pertanian ya?

          • Galcit

            Ada 38 jurusan (departemen) di S1 ipb, ini mbak. http://admisi.ipb.ac.id/p/single/s1
            So kira kira, publikasi pembuatan artikel itu harus make data, riset, dll, jd menarik kesimpulan gak ditelan bulat bulat.

          • dyah

            Hmmm … Ok … Ok … Menarik, terima kasih untuk sharingnya 🙂

          • Galih Citra Yogyanti
          • Nita

            Gapapa, insya allah diskusi ini kita lakukan sbg informasi dan pencerdasan utk tmn2 pembaca yg lain ya.

            Bukan tdk berkutat dgn pertanian, tp pertanian itu tdk hanya soal menanam padi dsb. Perikanan, peternakan, kehutanan jg bagian dr pertanian. Apakah pertanian hanya soal menanam? Kami jg belajar ttg strategi marketing. Kami jg belajar bgmn mesin2 industri bekerja. Kami jg belajar bgmn sistem penanganan dan pengolahan makanan di industri. Kami jg belajar ttg standarisasi dan peraturan yg menjadi acuan dr sistem pertanian secara luas. Kami jg belajar ttg gizi, kedokteran hingga arsitektur lahan dan tata letak kota. Semua ada bidang dan keahliannya masing2. Dan hasilnya? Apakah kami hanya bisa bekerja di lahan? Apakah kami hanya bisa bekerja di sawah? Itu yg kebanyakan masyarakat tdk tau ttg IPB yg sebenarnya.

            Itu mba, terkait sumbernya sudah di share oleh tmn saya. Di bawah gambarnya ada keterangan sumbernya juga

  • Galih Citra Yogyanti

    eits stop, salah ni redaksi, wkwkwkkwkw makin geram aja dengernya, beda tipis sm pak jokowi nih, pertanian kok literally diartikan bercocok tanam sih

  • Dulu, waktu mahasiswa, saya membuat penelitian mengenai penerapan teknologi Image Processing pada pertanian, rencananya akan diintegrasikan dengan Integrated Pest Management System yang lebih luas cakupannya.
    Dosen pembimbing saya susah payah membimbing kami anak didiknya untuk melakukan riset dan penelitian, bahkan sering ditalangin uangnya pake uang dosen saya.
    Rencananya, penelitian itu akan digabungkan dengan penelitian2 lainnya yang sejenis dari saya dan mahasiswa bimbingan dosen saya lainnya, untuk diintegrasikan menjadi sistem yang besar, untuk diterapkan di lahan pertanian Indonesia.

    Tapi….
    mau gimana lagi, susah payah mengajukan proposal ini itu untuk memperoleh pendanaan penelitian lebih lanjut dari pihak pemerintah Indonesia, tapi susah banget tembusnya. Ribet penuh birokrasi yang berbelit belit.
    Akhirnya, harus cari cari akal mencari dana dari sumber lain.
    Misalnya, salah satunya yang dilakukan dosen saya, mengajukan proposal ke Jepang, dan ini malah diterima dengan sangat baik oleh pihak Jepang sana.
    Sayangnya, penelitian kami harus berhenti sampai di tahap tertentu, karena pihak dari kampus Jepang yang bekerja sama dengan kami menawarkan, “kita akan bantu dana lebih lanjut, tapi kalian nanti bekerja untuk kami, jadi hak ciptanya tetep nama kalian, tapi di bawah instansi akademik di Jepang”.
    Dosen saya menolak, karena masih ingin membawa nama Indonesia jika nanti penelitian ini berhasil selesai.

    Gimana ya?
    Pengen memajukan pertanian Indonesia, agar lebih modern dan ngga konvensional lagi,
    tapi ngga dapet dukungan penuh dari pemerintah.
    Terus klo ada orang dari pemerintahan yang nyindar nyindir….
    Euh, ngelus ngelus dada aja kita ini….

  • Anni

    lu pikir berfilsafat itu sejenis mata pencaharian. kocak.

  • ROMO

    Xixixi..gw rasa maksud Pak Presiden itu sebenarnya baik..dalam artian ya kalo dah jd sarjana ya mbok ya mampu membuka lapangan kerja di disiplin ilmu yg kita punya..lha kalo sarjana pertanian kerjanya di bank atau disektor lain ya amalan ilmunya ya jd susah..walaupun kalo mau dihubung2kan ya bisa saja berhubungan..
    Kalo 1 org sarjana dgn ilmu kedigdayaan mumpuni yg telah diterimanya di kampus mampu membuka lapangan kerja untuk minimal 1 org saja..ada berapa juta pengangguran yang terberdayakan..jd ne memang bukan urusan cocok tanam saja atau sawah padi menjadi sawah beton..tp masalah prinsip dasar sebuah kampus mencetak generasi unggul yg namanya SARJANA..xixixi

No more articles