Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Karena Jarang OTT, KPK Justru Dinilai Sukses oleh DPR

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
10 Maret 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menurut DPR, KPK saat ini dinilai sudah berhasil mencegah korupsi. Indikasinya, karena Operasi Tangkap Tangan (OTT) jarang dilakukan. Hm, baiklah.

Jika ada lembaga negara yang unyu dan menggemaskan di negeri ini, maka jelas itu adalah DPR RI. Lagi dan lagi, DPR bikin komentar ajaib soal KPK. Menurut DPR, KPK saat ini dinilai sudah berhasil mencegah korupsi karena jarang melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Iklan

Sebentar, sebentar, mari kita cerna pernyataan itu dulu.

Hm, oke.

Pernyataan ini muncul dari Anggota Komisi III DPR RI, Supriansa. Menurutnya, karena sepanjang dua bulan ini (sejak Januari 2020) sudah jarang pejabat kena OTT KPK, maka bisa dikatakan Ketua KPK yang baru, Firli Bahuri, sukses mereformasi KPK menjadi lebih baik.

“Jangan diukur keberhasilan KPK dengan banyaknya OTT. Bahkan menurut saya, dengan jarangnya OTT itu berarti KPK justru berhasil melakukan pencegahan korupsi,” kata politisi dari fraksi Golkar ini seperti diberitakan law-justice.co.

Sebagai gambaran, capaian tahun ini sangat jomplang dengan capaian KPK pada periode yang sama di tahun 2019. Tahun lalu, sepanjang Januari-Maret 2019, KPK sedikitnya melakukan 4 kali OTT. Kalau tahun ini? Hm, KPK baru satu kali melakukan OTT.

Satu kali itu aja adalah OTT yang menjerat Wahyu Setiawan dan menjadikan Harun Masiku sebagai buron. Kasus terbaru soal Masiku itu aja merupakan kasus receh yang nggak penting-penting amat sebenarnya. Terutama kalau kita membandingkan kasus Djoko Susilo soal Simulator SIM atau Setya Novanto soal E-KTP.

Dalam prosesnya, OTT satu-satunya ini pun terkendala banyak masalah teknis. Mulai dari Masiku yang sukses kabur, petugas KPK yang dihalang-halangi saat melakukan OTT, sampai dua penyidik KPK yang melakukan OTT dikeluarkan dari KPK secara tiba-tiba.

Itu belum dengan bejibunnya persyaratan untuk melakukan penyadapan, penyidikan, penyelidikan, dan penyitaan. Karena semua proses itu harus izin dulu ke Dewan Pengawas KPK.

Tentu saja banyak orang merasa terkencing-kencing dengan logika ajaib DPR soal ini. Terutama mengenai parameter kesuksesan KPK menurut DPR bahwa… makin dikit koruptor yang ditangkap, berarti itu makin bagus.

Logika DPR ke KPK model gini sebenarnya tak jauh beda dengan pernyataan Tommy Soeharto ketika mengomentari soal kasus korupsi di era sekarang sangat banyak dibandingkan dengan era Orde Baru Pak Harto.

Hal ini, menurut Tommy, jadi tanda bahwa korupsi sekarang jauh lebih banyak ketimbang zaman bapaknya dulu.

“Faktanya membuktikan bahwa apa yang terjadi, kasus KKN atau korupsi paling utamanya, malah lebih parah di era reformasi hingga kini,” kata putra pendiri Partai Golkar pada 2018 silam.

Tentu saja, di era bapaknya masih berkuasa pelaku korupsi yang tertangkap sedikit sekali. Itu pun itungannya masih level kroco-kroco saja. Mungkin benar seperti kata Tommy Soeharto, korupsi di era Pak Harto memang dikit ketahuannya.

Padahal Pak Harto pernah juga lho bikin lembaga anti-korupsi pada Januari 1970. Namanya Komisi Empat. Tugasnya pun lumayan mirip dengan KPK yang kita miliki sekarang.

Bedanya, saat itu Komisi Empat tidak punya wewenang penindakan. Mereka cuma ngasih informasi dan saran aja kalau ada pihak-pihak yang dicurigai korupsi.

Lantas kepada siapa bocoran informasi ini disampaikan?

Iklan

Hayaaa tentu saja ke the only one Pak Harto sendiri.

Jadi ngebayangin nggak sih kalau anggota Komisi Empat ngasih info dugaan korupsi ke Pak Harto.

“Pak, lembaga anu pada korupsi tuh,” kata Komisi Empat.

Pak Harto cuma senyum manis aja.

“Gimana, Pak? Mau sampeyan tindak nggak itu?” tanya Komisi Empat lagi.

Masih sambil tersenyum lalu tanya, “Kamu, siapa yang nyuruh tanya begitu?”

“Oh, nggak jadi laporan, Pak. Kami cuma salah lihat ternyata,” kata Komisi Empat keringetan lalu cabut.

Padahal baru beberapa bulan bekerja, Komisi Empat saat itu sudah menemukan dugaan korupsi di Pertamina, Bulog, dan Perhutani. Lantas informasi ini diserahkan ke pemerintah dengan hasil…

… yaaah, dicuekin aja.

….

Dih, dih, kasihan amat.

Nah, karena hasil temuan Komisi Empat sering diabaikan, maka wajar usia Komisi Empat cuma seumur jagung. Baru dibentuk Januari, eh udah bubar pada Juli 1970. Cuma tujuh bulan doang hidupnya. Ealah, masuk PAUD aja belum udah mati.

Meski begitu, dalam sejarahnya, zaman Pak Harto bukannya tak pernah mengungkap kasus korupsi sama sekali. Ada kok. Setidaknya kita pernah dengar nama Edi Tansil yang—sama seperti Harun Masiku—berhasil kabur pada awal 1990-an. Kaburnya totalitas banget lagi, soalnya masih ngilang sampai sekarang.

Namun, jika membandingkan data kasus korupsi yang diungkap zaman Pak Harto dengan zaman sekarang, sudah jelas sangat jomplang jumlahnya. Zaman Pak Harto kasus korupsi yang terungkap bisa dihitung jari. Itu pun hanya menjerat orang-orang yang berada di luar lingkaran Keluarga Cendana.

Sekarang coba bandingkan dengan KPK yang dari 2004 sampai 2019 menemukan 1.064 kasus korupsi. Dengan lembaga negara yang paling banyak kena adalah DPR/DPRD dengan 255 kasus sepanjang 15 tahun terakhir.

Dari perbandingan itu jelas sudah bahwa KPK saat ini gagal melakukan pencegahan korupsi, dan itu benar-benar terlihat begitu jauh dengan prestasi zaman Pak Harto yang “korupsi”-nya dikit itu.

Melihat betapa suksesnya Pak Harto dalam melakukan “pencegahan” kasus korupsi, ada baiknya DPR dan KPK sekarang meniru langkah-langkah Pemerintahan Orde Baru. Jadi kalau ada orang yang mau korupsi ya tinggal dikasih tahu aja. Diingatkan agar jangan korupsi. Jangan langsung ditangkap.

Namanya juga pencegahan. Iya kan?

BACA JUGA Penyidik yang Hampir OTT Harun Masiku Dikeluarkan atau tulisan rubrik POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2021 oleh

Tags: dprFirli BahuriHarun MasikuKPKOTT KPK
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
OTT Wali Kota Madiun

Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat

20 Januari 2026
Jurusan Ilmu Politik di UHO mengecewakan. MOJOK.CO

Nekat Kuliah Jurusan Ilmu Politik di Kampus Akreditasi B, Berujung Menyesal Tak Dengar Nasihat Ortu

3 Oktober 2025
UI kampus perjuangan tapi BEM-nya kini terbelah. MOJOK.CO

UI sebagai Kampus Perjuangan Kini Terbelah dan Hilang Taringnya, Tak Saling Mendukung dan Searah

4 September 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
tol Jogja-Solo

Tol Jogja-Solo: Rumah Tak Kena Pembebasan Lahan, Tapi Tetap Kena Debu dan Bising

22 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

Garuda Pertiwi Menantang Thailand di Final Srikandi Merdeka Cup 2026, Pertarungan 2 Raksasa Tanpa Cela

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.