MOJOK.COUsai Mardani Ali Sera haramkan tagar #2019GantiPresiden, kali ini Ferdinand Hutahaean dari Demokrat sampaikan ogah lagi mendukung Prabowo-Sandi.

Dua pasukan garis depan BPN Prabowo Sandi dari Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean dan Jansen Sitondan, pantas merasa emosi dengan kelakuan pendukung Prabowo-Sandi di dunia maya. Nama pertama adalah yang menyampaikan secara terbuka kegelisahan itu melalui akun Twitternya.

Bukan apa-apa, ketika narasi kemenangan semakin sulit diwujudkan, lalu laporan bukti-bukti kecurangan dibalikin oleh Bawaslu (karena jebul buktinya cuma kasih link berita doang), seharusnya koalisi partai Prabowo-Sandi saling menguatkan satu sama lain, namun yang terjadi malah saling sikut sana-sini. Apalagi detik-detik demonstrasi pengumuman hasil perhitungan Pileg dan Pilpres 2019 masih harus dihadapi pada 22 Mei nanti.

Alasan perseteruan antara Demokrat dengan BPN Prabowo-Sandi ini sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Bisa dibilang benih-benih keributan ini sudah muncul sejak Andi Arief berkicau bahwa ada “setan gundul” di dekat Prabowo Subianto dan dengan ngawur membisikkan bahwa Prabowo-Sandi menang 62 persen. Saat itu, menurut Demokrat, angka sebesar itu sangat mustahil bisa diraih—sekalipun misalnya Prabowo betulan menang.

Sejak saat itu, hubungan antara Demokrat dengan BPN Prabowo-Sandi jadi merenggang. Bahkan saling sentil. Puncaknya adalah ketika muncul serangan-serangan pendukung Prabowo-Sandi ke Partai Demokrat yang sudah masuk ke ranah-ranah personal.

Lebih-lebih jika serangan itu sampai menyenggol Ani Yudhoyono yang sedang menderita kanker darah. Dan adalah Ferdinand Hutahaean yang merasa sakit hati melihat bully-an yang mengarah ke istri SBY tersebut.


Lucunya, pernyataan ini malah direspons dengan cara yang agak gimana gitu oleh BPN Prabowo-Sandi.

Baca juga:  Blunder (Kubu) Jokowi yang Perlu Di-Roasting: Dari Raja Hingga Grasi

Mereka melihat bahwa pertanyaan Ferdinand Hutahaean ini cuma sikap pribadi yang tak mewakili Partai Demokrat. Bukannya mencoba menenangkan Ferdinand, BPN malah menganggap hal ini bukan perkara yang penting.

Yang lebih parah, pendukung Prabowo yang lain malah tambah membully Ferdinand Hutahaean karena sikap ini. Ferdinand bahkan sampai disebut “baperan”.

Tidak cuma Ferdinand yang merasa geram luar biasa, Jansen Sitondan pun 11-12 dengan kompatriotnya tersebut.

“Kalau ditanya sikap pribadi sebagai kader, maka saya sungguh sudah tidak nyaman dengan keadaan ini. Dan saya pribadi akan pamit baik-baik, mundur dari barisan Pak Prabowo ini,” kata Jansen, salah satu sosok yang cukup sering muncul di televisi untuk mengampanyekan Prabowo-Sandi di mana-mana.

Jansen pun menegaskan, kalau bully-an masih seputar politik, hal itu masih bisa dimaklumi. Namun ketika sudah menyasar ke Ibu Ani Yudhoyono, sosok yang sangat dituakan oleh kader-kader Demokrat, hal ini sudah kelewatan menurut Jansen. Terlebih sasaran ini juga mengarah ke kondisi kesehatan Ibu Ani.

“Mungkin kalau hanya menyerang kami, kader-kader Demokrat masih bisa lah kami menerimanya. Silakan sekeras, sekeras mungkin. Tetapi ini sudah menyerang Ibu Ani. Sudah tidak pantas dan beradab,” tambah Jansen.

Meski begitu, BPN Prabowo-Sandi masih merasa percaya diri bahwa Demokrat tidak akan keluar dari koalisi karena kemarahan satu atau dua kadernya saja.

“Ya namanya koalisi itu kan partai politik. Partai Demokrat bukan Bung Ferdinand sendiri. Saya yakin itu hanya emosi sesaat lah,” kata Sufmi Dasco Ahmad, Direktur Advokasi BPN Prabowo-Sandi.

Baca juga:  Kill The DJ Tidak Perlu Marah Jika Lagu Jogja Istimewa Dijiplak Pendukung Prabowo

Menurut Dasco, wajar jika Ferdinand marah-marah kalau membaca Ibu Ani sedang dibully, bahkan dituduh jadi penyebab Demokrat terkesan tidak serius dalam mendukung Prabowo-Sandi karena SBY harus konsentrasi menemani istrinya yang sedang sakit.

Meski tidak secara resmi “keluar” dari koalisi Prabowo-Sandi, Partai Demokrat tampaknya tidak ingin melanjutkan koalisi usai Pileg dan Pilpres 2019 berakhir pada 22 Mei mendatang. Pernyataan keluar memang tidak muncul, namun bisa dibaca pernyataan ini merupakan indikasi bahwa Demokrat tidak ingin berlama-lama bekerja sama lagi dengan kubu Prabowo.

Meski begitu, harus diakui Demokrat cukup jantan karena masih mau menghormati koalisi. Oleh karena itu mereka berniat akan tetap jalan bersama mendukung kemenangan Prabowo-Sandi, meski beberapa kadernya ada yang sudah kadung sakit hati.

“Jadi gini, medali emas itu adalah cita-cita yang harus Anda perjuangkan, menyentuh garis finis adalah kewajiban, bagi Demokrat menyentuh garis finis koalisi harus kami tuntaskan dengan konsisten sampai 22 Mei,” kata Hinca Pandjaitan, Sekjen Partai Demokrat.

Di sisi lain, melihat perseteruan tersebut, Wakil Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf menyentil situasi ini. “Saya ucapkan selamat pada Ferdinand yang sudah sadar. Lebih baik terlambat daripada tidak sadar-sadar sama sekali. Insya Allah semua akan Jokowi pada waktunya,” kata Raja Juli Antoni.

Jika melihat situasi yang berkembang belakangan ini, selain Demokrat yang mulai panas, BPN Prabowo-Sandi masih harus menghadapi Mardani Ali Sera, elite PKS, yang menyebut bahwa tagar #2019GantiPresiden sudah diharamkan oleh kubunya karena kontestasi Pilpres 2019 sudah berakhir, maka bisa disimpulkan bahwa anekdot soal Pilpres 2019 kali ini bisa saja benar adanya.

Anekdot yang menyebut bahwa: juru kampanye terbaik Jokowi-Ma’ruf memang pendukung Prabowo-Sandi sendiri.



Loading...



No more articles