• 50
    Shares

MOJOK.CO ­– Dari berbagai hasil quick count nama Ganjar Pranowo yang berpasangan dengan Taj Yasin memang menenangi perolehan suara di Pilkada Jawa Tengah (Jateng). Akan tetapi melihat peforma Sudirman Said-Ida Fauziyah yang menempel ketat suara Ganjar, Gerindra yakin makin banyak rakyat yang sudah beralih dari PDI-P, partai pengusung Presiden Jokowi.

Pilkada Serentak 2018 meninggalkan cerita yang cukup menarik di berbagai daerah, terutama daerah Jawa Tengah. Sebagai provinsi yang merupakan kantong utama PDI-P dalam mendulang suara baik untuk Pemilu Legislatif maupun Pilkada, perolehan suara Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang “hanya” 58 persen (versi lembaga survei SMRC) menandakan ada progres yang signifikan dalam suara Gerindra yang diwakili oleh Sudirman Said-Ida Fauziyah.

Menurut Andre Rosiade, Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra. Beberapa lembaga survei sebelum coblosan memang mengunggulkan Ganjar-Yasin. Bahkan menurutnya, Ganjar pernah mengklaim bahwa suara untuknya bisa mencapai 70 sampai 80 persen di daerah kuat PDI-P ini. Namun pada kenyataanya—meski baru dari hasil quick count—hasil yang diperoleh tidak menandakan dominasi mutlak PDI-P di Jawa Tengah.

“Hasil ini (hanya 58 persen) menunjukkan bahwa 2019 Prabowo jadi presiden sudah kelihatan tanda-tandanya,” jelas Andre.

Bahkan Kader Gerindra ini berani mengklaim bahwa tanda-tanda suara PDI-P yang akan jadi pasokan suara untuk Presiden Jokowi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 nanti akan sedikit demi sedikit tergerus. Meskipun Ganjar memenangkan Pilgub Jateng, tapi dominasi PDI-P sudah mulai goyah. Hal ini yang menjadi bahan bakar optimisme baru bagi Gerindra.

Baca juga:  Survei INES Prabowo Unggul, Survei Indicator Jokowi Unggul. Kita Ikut yang Mana?

Seperti yang diketahui, meskipun Sudirman Said sempat diremehkan banyak pihak karena melawan Ganjar di daerah basis PDI-P, pada periode Maret 2017 elektabilitas suara Sudirman melonjak cukup drastis.

Sebagai perbandingan, pada Juli 2017 elektabilitas suara Sudirman Said cuma 1,2 persen. Kurang dari satu tahun setelahnya, pada Maret 2018, elektabilitasnya melonjak jadi lebih dari 12 persen. Meski secara hitung-hitungan suara tidak terlihat begitu tinggi, namun mengingat bidikan Gerindra di Jawa Tengah adalah menggoyang dominasi PDI-P, maka hasil ini patut jadi catatan bagi PDI-P.

Masalahnya, perhitungan Pilkada dan Pilpres tidak melulu bisa dibandingkan begitu saja. Tidak Mito to Mito. Sebagai catatan, ada banyak partai yang bertarung pada Pemilu dan Piplres, tapi begitu mesra di Pilkada Serentak 2018 kali ini. Hal ini menandakan bahwa rakyat tidak sepenuhnya bisa dibaca hanya dengan kantong suara partai, melainkan juga bisa dilihat dari simpati pada sosok atau ketokohan seorang calon pemimpin.

Di sisi lain, optimisme Gerindra memang masuk akal. Beberapa bulan lalu, siapa yang bisa menjamin suara Ganjar di Jateng tidak lebih dari 60 persen? Ternyata hasil saat ini menunjukkan bahwa dengan kerja kampanye yang tepat, Gerindra bisa saja menyalip PDI-P dalam perolehan suara untuk satu tahun ke depan. Atau paling tidak mengimbangi suara agar tidak kalah begitu telak di daerah-daerah penting.

Baca juga:  Bukan Hanya Presiden Saja yang Sedang Pemilu, DPR Juga

Akan tetapi, jangan lupakan juga, ada cukup banyak masyarakat Jawa Tengah yang memilih Sudirman Said bukan semata-mata karena ada Gerindra di belakangnya. Ada juga masyarakat Jateng yang memilih Sudirman karena yang bersangkutan adalah mantan orang yang “pernah dekat” dengan Presiden Jokowi sebagai menteri. Dasar pilihan yang menyasar pada tokoh, bukan pada partai pengusung di belakangnya.

Jika sudah begitu, barangkali Gerindra bisa meniru cara serupa untuk tahun depan. Yakni, dengan menggandeng “orang-orang Jokowi” sebagai tokoh. Atau kalau perlu, merebut Jokowi untuk dijadikan calon presiden dari Gerindra dan dipasangkan dengan Prabowo. Wah, kalau bisa seperti itu bakalan keren pasti Pilpres tahun depan. Karena lawannya bisa jadi malah kotak kosong.