MOJOK.COJamaah FPI perlu menyadari bahwa Habib Rizieq sebenarnya sudah melakukan beberapa revolusi sejak lama tanpa perlu pulang ke Indonesia.

Klaim Ketua Umum FPI, Ahmad Shabri Lubis, yang menyatakan bahwa Habib Rizieq Shihab akan pulang ke Indonesia berbuntut panjang.

Dalam demonstrasi menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja, di atas mobil komando, Shabri Lubis berkata, “Imam besar Habib Rizieq Shihab akan segera pulang ke Indonesia untuk memimpin revolusi!”

Uniknya, baik pihak Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Indonesia maupun pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Arab Saudi mengaku tidak mendapat informasi bahwa Habib Rizieq sudah dapat lampu hijau untuk bisa pulang ke Indonesia.

“Tidak ada informasi soal itu dan sedang dicari tahu,” kata Teuku Faizasyah, Juru Bicara Kemenlu.

“Nama Muhammad Rizieq Shihab dalam sistem protal imigrasi Kerajaan Arab Saudi masih ‘blinking merah’ dengan tulisan ta’syirat mutanahiyah (visa habis) dan dalam kolom lain tertulis mukhalif (pelanggar UU). Bentuk pelanggaran mutakhallif ziyarah. ‘Blingking merah’ sama dengan belum bisa keluar Arab Saudi,” kata Agus Maftuh Abegebriel, Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi.

Menanggapi klaim Ahmad Shabri Lubis soal Habib Rizieq yang tidak sinkron itu, tentu jamaah FPI jadi bertanya-tanya. Ini yang bener yang mana sih? Jadi pulang atau tidak sebenarnya? Mengingat Ketum FPI sudah gembar-gembor Sang Imam Besar akan memimpin revolusi di Indonesia.

Melihat semangat saudara-saudara FPI yang sudah kebelet kepengin revolusi, ada baiknya Ketum FPI meredakan tensi ketegangan jamaahnya. Bukan apa-apa, kata “revolusi” itu kesannya cukup mengerikan. Terutama ketika disematkan pada sosok yang bisa memobilisi massa cukup besar seperti Habib Rizieq.

Sebelum kepikiran revolusi aneh-aneh, jamaah FPI perlu menyadari lebih dulu bahwa Habib Rizieq sebenarnya sudah melakukan beberapa revolusi. Baik sebelum “hijrah”-nya ke Arab Saudi, maupun ketika masih dalam masa-masa hijrah itu. Revolusi-revolusi ini bahkan sangat fundamental dampaknya sampai sekarang.

Demi mengingatkan kembali betapa berpengaruhnya Habib Rizieq dalam revolusi tersebut, yuk mari kita buka lagi lembar jejak langkah Sang Imam Besar ke belakang.

Revolusi di bidang hukum

Jika ada pemimpin jamaah umat Islam yang hampir sering terjerat kasus hukum, maka sedikit yang bisa menandingi sosok Habib Rizieq Shihab.

Baca juga:  Kalau Nonton Anime Jadi Penjahat, Nonton Ustadz Ngamuk Jadi Apa?

Dihitung dari tahun 2016 saja, Habib Rizieq punya 9 kasus yang 8 di antaranya tak dilanjutkan pada tahap selanjutnya. Bahkan sisa 1 itu pun tidak lanjut juga meski sudah menjadi tersangka.

Dari kasus penodaan simbol negara Pancasila, sentimen SARA pada ceramah yang menyebut kata “campur racun”,  tudingan mata uang baru yang berlogo palu-arit tanpa bukti, sampai dengan yang terakhir laporan soal dugaan chat yang mengandung unsur pornografi.

Hanya pada kasus chat pornografi kasus Habib Rizieq sempat berlanjut pada tahap penetapan tersangka. Sayangnya, ketika sedang dalam proses hukum tersebut yang bersangkutan kebetulan sudah punya jadwal berangkat umrah. Jadi kasus itu pun terkantung-kantung tanpa kejelasan karena Habib Rizieq memilih tetap tinggal di tempat umrah.

Di tengah keenganan Habib Rizieq pulang guna melanjutkan proses untuk memberi kesaksian maupun sanggahan yang berkekuatan hukum, pihak kepolisian malah mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3). Uniknya, pihak kepolisian mengaku menghentikan kasus ini karena pihak pengupload tidak ditemukan.

Ini jelas sangat berbeda dengan kasus yang pernah menimpa Ariel yang terjerat kasus hampir sama. Saat itu kepolisian langsung menetapkan Ariel sebagai tersangka dan dalam proses hukum, jamaah FPI mendesak agar Ariel segera dipenjara. Kita semua tahu akhirnya, Ariel dijebloskan ke penjara.

Perbedaan sikap hukum ini, terutama SP3 yang diberikan tanpa ada pembuktian apakah dalam chat itu bener-bener Habib Rizieq atau bukan, mungkin tidak dimaksudkan untuk membantah bahwa warga negara berkedudukan sama di mata hukum.

Mari berbaik sangka saja bahwa hal ini menjadi revolusi pertama yang dibuat oleh sosok Habib Rizieq. Khususnya dalam bidang hukum. Bahwa selama ini, imunitas hukum bagi pemuka agama itu memang nyata adanya. Wabilkhus bagi pemuka agama mayoritas.

Itu.

Revolusi habluminannas

Keberadaan Habib Rizieq di Arab Saudi membuat FPI dan organisasi yang berafilisi dengannya harus pintar-pintar mencari cara agar tetap terhubung. Alhamdulillah, berkat perkembangan teknologi, hal itu bisa dilakukan saat Milad ke-21 FPI di kawasan Rawabadak pada 24 Agustus 2019 lalu.

Melalui teknologi bikinan Yahudi video conference, Habib Rizieq bisa menyapa jamaahnya di Indonesia yang menyambutnya secara antusias. Tanpa harus pulang, Habib Rizieq tetap bisa berdakwah di hadapan jamaah virtualnya.

Dalam perkembangannya, video conference ini ternyata menjadi tren tidak sampai satu tahun kemudian. Diawali dengan pandemi yang mulai nyelonong masuk ke Indonesia, semua orang kini mulai terbiasa menggunakan video conference karena ada protokol PSBB.

Baca juga:  Siapa Bilang Negara Syariat Islam Menghukum Koruptor dengan Potong Tangan?

Benar-benar tidak ada yang menyangka, bahwa hal yang pernah dilakukan Habib Rizieq itu ternyata diikuti oleh jutaan orang di Indonesia. Bahkan tidak hanya di Indonesia, melainkan sampai ke seluruh dunia.

Nah lho, revolusi Habib Rizieq mana lagi yang bisa kamu dustakan dari fakta ini? Selain revolusioner soal hukum, Habib Rizieq juga revolusioner dalam hubungan antar-manusia. Beliau sudah memanfaatkan fasilitas komunikasi jarak jauh itu, jauh sebelum Zoom dan Google Meet ngetren di Indonesia.

Revolusioner sekali kan?

Revolusi bilateral Arab Saudi dengan Indonesia

“Akibat permainan intelijen busuk Pemerintah Indonesia tersebut, maka status saya kini menjadi overstay karena masa berlaku visa habis akibat pencekalan sejak setahun lebih yang lalu tersebut. Bahkan saat ini rezim zalim Indonesia masih berusaha meminta kepada Kerajaan Saudi Arabia agar mencekal saya hingga pelantikan presiden ilegal,” kata Habib Rizieq pada Agustus 2019 silam.

Dari kata-kata tersebut, bagi siapapun yang percaya sepenuhnya dengan Habib Rizieq, setidaknya kita masih bersyukur bahwa melalui kasus ini—untuk pertama kalinya dalam sejarah—Indonesia betul-betul menjadi “macan asia”.

Bahkan bukan semata-mata “macan asia” bagi wilayah Asia Tenggara saja, tapi juga “macan” bagi negara di Asia Barat seperti Arab Saudi.

Lah kok bisa?

Iya bisa dong, tudingan Habib Rizieq tahun lalu itu secara tersirat menunjukkan posisi Indonesia yang disegani oleh Arab Saudi.

Lah itu bisa dengan begitu mudah Indonesia meminta Arab Saudi, sebuah negara yang sangat disegani di seluruh dunia, mau tunduk dengan perintah Indonesia? Kurang hebat apa Indonesia kalau sampai Arab saja tunduk begitu?

Terlepas dari perintah itu merugikan Habib Rizieq sampai bikin nggak bisa pulang (lagi), namun setidaknya dari hal itulah hubungan bilateral antara Indonesia dengan Arab Saudi bisa direvolusi dengan upgrade begitu dahsyat. Hanya gara-gara Habib Rizieq.

Gimana? Benar-benar warbiyasaaah kan tokoh revolusioner kita ini?

Hidup Habib Rizieq! Hiduuup!!1!!1

BACA JUGA Agar FPI Tak Terlalu Muntab dengan Hoaks Habib Rizieq Tertabrak Unta dan tulisan soal Habib Rizieq lainnya.