MOJOK.COAgar hoaks Habib Rizieq tertabrak unta itu tak langsung dibalas dengan amarah penuh nafsu, ini hal positif yang bisa dicoba teman-teman FPI.

Memproduksi berita bohong yang meyakinkan adalah kerja kreatif yang sukar dilakukan, benar-benar tidak bisa sembarangan.

Pertama-tama, setiap apa yang Anda wartakan relevan, tak cacat nalar, dan tentu saja disampaikan lewat info yang kelihatan meyakinkan. Pakai foto orang terkenal macam Erdogan atau Dr. Bernard, misalnya.

Jika hal-hal mendasar semacam itu saja sampai alpa, sudah pasti hoaks yang Anda bikin cuma sampah. Cuma diketawain atau bahkan tidak sampai disebut hoaks, tapi dianggap sebagai shitpost.

Persis seperti hoaks Habib Rizieq Shihab meninggal dunia karena tertabrak unta yang lagi ramai di timeline saya belakangan ini. Tanpa harus bersusah payah mengecek fakta di mesin pencari, saya pikir hanya orang bodoh yang percaya dengan hoaks itu.

Sebab, pemahaman sederhana saya mengatakan seekor unta paling tak berakhlak sekalipun harusnya paham bahwa menggilas tubuh seorang habib itu sama artinya dengan memesan satu tempat paling jahanam di neraka.

Lagi pula, jika saya berada di pihak FPI, reaksi pertama saya jelas tidak akan marah-marah, melainkan malah sekalian menawarkan opsi yang jauh lebih canggih. Misalnya, sekalian meminta objek yang menabrak (baca: unta) diganti aja dengan gajah, kuda nil, atau tyrannosaurus.

Apalagi kalau kamu mau selo sedikit untuk googling, kamu bisa kok menemukan data bahwa serangan unta yang bisa melenyapkan nyawa manusia itu probabilitasnya sangat kecil.

Pernah sih ada kabar dua orang lansia wafat diinjak-injak unta yang tengah birahi di Camel Kisses Farm dekat Wichita Falls, dan itu pun termasuk kejadian langka di dunia. Tapi, kan itu juga hitungannya diinjak-injak. 

Kalau ditabrak gimana? Hm, saya pikir dampaknya juga tak akan separah itu.

Dengan bobot dan tenaga berkali-kali lipat jumlahnya, justru hewan seperti gajah yang jauh lebih berpotensi untuk membunuh manusia. Mau menginjak, mau menabrak sama-sama mematikan. Bukan apa-apa, gajah rata-rata membunuh 100 manusia setiap tahun.

Selain gajah, hewan buas yang kelihatan jinak seperti kuda nil pun bisa menyentuh angka 500 manusia per tahun. Lima kali lipat dari gajah! Lantas, gimana kalau tyrannosaurus? Hm, silakan tonton di film Jurassic Park saja kalau bagian itu.

Dilihat dari kualitas kabar hoaks yang mencatut nama Habib Rizieq ini, boleh jadi kabar murahan itu diproduksi tanpa niat buruk sedikit pun. Teman-teman FPI boleh saja berang setengah mampus dengan ini orang, tapi saya mohon tetap lakukan itu dengan tenang dan nggak bikin kerumunan.

Nah, agar ghirah kemarahan ini tersalurkan tanpa emosi nafsu meletup-letup, saya sarankan untuk berprasangka baik bahwa bisa jadi orang yang bikin hoaks tentang Habib Rizieq ini sebenarnya sedang didera rasa kangen dengan Imam Besar FPI saja.

Namanya orang kangen, ya wajar kalau halu. Jika kebetulan Anda punya kawan yang sedang menjalin hubungan jarak jauh dengan kekasih, dan punya keberanian untuk mengajukan pertanyaan personal, saya jamin Anda akan menemukan imajinasi liar yang tak kurang halunya.

Si pembuat hoaks yang menjadikan unta sebagai kambing hitam itu, sangat mungkin adalah cerminan orang yang sedang kangen dengan Habib Rizieq. Ia tak punya akses untuk sekadar menanyakan kabar lewat WA, apalagi mengetahui aktivitas harian sang idola sehingga pikiran-pikiran wagu bermunculan.

Rindu dengan kemunculan Habib Rizieq di beranda berita, di media online, media cetak, dan media televisi, sampai akhirnya bikin hoaks sampah tadi agar mata media menyorot lagi ke arah Imam Besar FPI.

Pandemi ini harus diakui bikin semua isu pemberitaan jadi fokus ke corona doang. Nggak ada gereget-geregetnya. Bikin bosen. Kami butuh pernyataan-pernyataan Habib Rizieq yang sangat share-able itu, terutama untuk balesin komentar orang nyebelin.

Meski begitu, saya pikir rencana teman-teman FPI untuk menjebloskan orang yang (kalau menurut Sekjen FPI), “Kerjanya setiap hari cuma menghina para ulama di medsos,” ke jeruji besi ini kurang efisien. Terutama ketika FPI sampai membuat tim khusus yang akan mengejar pelaku sampai ke ujung dunia.

Ada baiknya tim semacam ini dibikin justru untuk memikirkan secara serius cara memboyong Habib Rizieq pulang ke Indonesia. Agar orang-orang yang suka hina-hina ulama itu, nggak punya peluang kangen lagi.

Nah, selain bertugas memboyong Habib Rizieq balik, saya pikir teman-teman FPI juga perlu untuk membuat YouTube yang berisi video daily activity Imam Besar FPI di Arab Saudi.

Soalnya, selain berkesempatan menyaingi ketenaran Deddy Corbuzier, channel semacam ini tentu bisa mengobati rasa kangen umat di Indonesia. Apalagi, secara riil saja Habib Rizieq ini punya massa sampai 7 juta orang, bayangin kalau itu dikonversi jadi jumlah subscriber? Atta Halilintar dan Raffi Ahmad mah lama-lama bakal kesalip.

Apalagi dengan keberadaan channel ini, potensi hoaks juga akan jadi minim karena umat di Indonesia jadi tahu segala macam aktivitas sang Imam di negeri jauh sana.

Kan nggak mungkin kalau ada hoaks ketabrak unta begini, tapi di YouTube ada video Habib sedang belanja sayur di pasar misalnya. Seketika itu pula, umat pasti tak akan percaya, dan tanpa perlu harus pakai klarifikasi macam-macam semua langsung terjelaskan dengan sendirinya.

Jadi gimana usul itu, Bib? Menarik juga kan? Tenang, saya tak minta bayaran satu rupiah pun untuk usul menarik ini, cukup bayar pakai pahala dan doa saja. Cuma kalau video daily activity­-nya jadi di YouTube, tolong nama saya jangan disebut-sebut ya. Anu, takut.

BACA JUGA Jokowi Disebut Sudah Sadar dan Siuman dan tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.

Baca juga:  Hambatan atas Usulan Akun Medsos Wajib Didaftarkan Pakai e-KTP