Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Mengenal ‘Infobesity’, Gangguan yang Bisa Bikin Anak Muda Kejebak Hoaks Pemilu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
25 Agustus 2023
A A
infobesity mojok.co

Ilustrasi hoax (photo by Geralt on PIxabay)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Anak muda terancam gangguan infobesity di tahun politik. Kondisi yang bikin mereka bingung dan akhirnya termakan hoaks.

Siapa bilang hanya golongan orang-orang tua yang gampang kejebak hoaks? Nyatanya, para anak muda, baik itu milenial maupun Gen Z, punya potensi yang sama. Terlebih menjelang Pemilu 2024, di mana serangan-serangan hoaks mulai bertebaran di media sosial.

Iklan

Bagi anak muda, salah satu ancaman nyata jelang pemilu nanti adalah potensi mereka terpapar “Infobesity”. Gangguan inilah yang bikin mereka rentan kena hoaks Pemilu 2024.

Apa itu “Infobesity”?

Kata Infobesity merupakan akronim dari “information obesity”. Dalam bahasa Indonesia, ini artinya sebagai “obesitas informasi”. Istilah ini memang cukup asing, meski belakangan cukup berkembang dalam kajian ilmu komunikasi dan informasi.

Amine Belabbes dalam tulisannya di Journal of Documentation (2022) menjelaskan bahwa infobesity merupakan kondisi ketika seseorang mendapat terlalu banyak pilihan informasi yang berdampak pada proses pengambilan keputusannya.

Istilah serupa dari infobesity adalah information explosion atau “ledakan informasi”. Ini adalah situasi ketika berbagai macam informasi yang ada—baik itu dalam bentuk teks, audio, audio visual, dan lainnya—bikin masyarakat menjadi kewalahan dan kalap dalam mencernanya.

Dalam kehidupan sehari-hari, contoh kasusnya secara sederhana sebagai berikut: ambil satu kasus, misalnya “soal pernyataan salah seorang kandidat capres”. Dalam sehari saja, seseorang bisa terpapar ratusan konten soal pernyataan capres tersebut. Baik itu tulisan, video, audio, dan sebagainya.

Banyaknya informasi inilah yang bikin orang-orang kemudian bingung untuk menyaring mana berita yang valid atau yang bukan.

Kenapa kita bisa rentan?

Anggapan “orang Indonesia mudah terkena hoaks” nyatanya bukan sekadar guyonan. Laporan Rakhman Ardi dalam penelitian berjudul “How do Polish and Indonesian disclose in Facebook?” menunjukkan bahwa anggapan di awal tadi memang benar adanya.

Dalam konteks infobesity, kata penelitian itu, masyarakat Indonesia rentan terpapar karena budaya kolektivitasnya; yakni dorongan untuk saling berbagi informasi melalui platform yang mereka miliki.

Parahnya lagi, meskipun terbiasa membagikan informasi, netizen-netizen Indonesia ini punya kecenderungan “membagikan informasi tanpa terlebih dahulu mengetahui apakah informasi itu benar”. Bahkan, mereka kadang juga malas untuk mencari tahu kebenarannya.

Dalam konteks tahun politik, jelas ini menjadi ancaman. Berkaca dari Pemilu 2019 lalu, media sosial berdampak besar dalam menggiring opini publik. Selain sebagai media penyebaran informasi, media sosial juga menjadi sebagai salah satu alat untuk mobilisasi pemilih, kampanye, dan ruang diskusi, sehingga mudah jadi alat propaganda.

Dengan demikian, media sosial juga dapat menyumbang infobesity, dan ini cukup berbahaya karena informasi yang beredar sudah bercampur dengan informasi yang tidak sesuai fakta. Baik itu hoaks, disinformasi, misinformasi, maupun teori konspirasi.

Anak muda gampang “dibakar”

Serangan infobesity, utamanya harus diwaspadai oleh anak muda. Sebab, para pemilih muda ini termasuk undecided voters dan swing voters. Pilihan mereka masih mungkin berubah-ubah.

Iklan

Masalah makin pelik ketika menjumpai fakta bahwa meskipun kebanyakan anak muda adalah digital natives, banyak di antara mereka yang tak memiliki kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima.

Misalnya, penelitian menunjukkan bahwa selama masa Pemilihan Gubernur Provinsi Jawa Barat Tahun 2018, para pemilih muda cenderung gampang percaya dengan informasi yang mereka dapat. Mereka juga mudah terprovokasi untuk ikut berkomentar di konten-konten penggiringan opini publik.

Artinya, meski tak bisa dipukul rata, mayoritas kelompok ini kurang memiliki keterampilan mengevaluasi informasi yang diterimanya secara kritis. Kedekatannya dengan media sosial juga membuat pemilih muda menjadi kelompok paling awal yang terpapar informasi politik dibandingkan kelompok lainnya.

Dengan begitu, kelompok ini rentan terpengaruh oleh hoaks yang beredar di lingkungan digital mereka. Maka, jangan heran seandainya pada 2024 nanti, kalian menjumpai banyak anak muda yang membagikan postingan sesat di media sosial.

Penulis: Ahmad Effendy
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA 3 Fakta Soal Pemecatan Budiman Sudjatmiko, Pengin Daftar ke PDIP Lagi?

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 25 Agustus 2023 oleh

Tags: hoaksInfobesityPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Kabar

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
donasi ekonomi.MOJOK.CO

“Rakyat Bantu Rakyat” Menguat, tapi Jangan Jadi Alasan Pemerintah Lepas Tangan dan Abai Pada Nasib Masyarakat

14 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.