MOJOK.CO – “Lho, sabar itu juga ada batasnya, Gus. Enak aja mengandalkan kesabaran orang lain, tapi kelakuan sendiri nggak dikontrol,” kata Mas Is ke Gus Mut

“Sudah nggak bisa dibiarin ini, Gus,” kata Mas Is pada Gus Mut.

“Apanya yang nggak bisa dibiarin, Mas?” tanya Gus Mut.

“Ya ini, orang udah semena-mena kalau bikin guyonan soal agama,” kata Mas Is lagi sambil menunjukkan video di hapenya, seseorang sedang bercanda soal agama Islam.

Gus Mut cuma melihat video dengan seksama. Tak ada ekspresi kemarahan apapun di wajah Gus Mut. Cuma terdengar sedikit embusan nafas panjang saja.

“Tuh, kan udah kelewatan itu, Gus. Nggak bisa dibiarin ini,” kata Mas Is.

“Emang kamu mau ngelakuin apa?” tanya Gus Mut.

“Ya harus didatengin orang ini, nggak bisa dibarin,” kata Mas Is.

“Laporin aja ke polisi. Laporin soal dugaan penistaan agama kan beres,” kata Gus Mut.

“Wah, udah nggak bisa, Gus, kayak begini kalau cuma dilaporin ke polisi orangnya nggak bakal kapok,” kata Mas Is.

“Terus pengennya Mas Is diapain? Dipukulin?” tanya Gus Mut.

“Ya iya dong. Bahkan kalau perlu digorok lehernya, dibunuh, dibakar. Darahnya udah halal ini, Gus, mengolok-olok agama kita,” kata Mas Is.

Gus Mut terkejut mendengar kata-kata itu meluncur mulus dari mulut Mas Is.

“Innalilahi, kejahatan sebesar apa sih orang itu sampai pantas sampeyan bunuh segala?” tanya Gus Mut.

“Ya menghina agama itu kan termasuk kejahatan besar,” kata Mas Is.

“Sebesar itu kah sampai bikin sampeyan jadi berhak untuk membunuh seseorang, Mas Is?” tanya Gus Mut.

Baca juga:  [MOVI EPS 4] Macam-Macam Berbuka Puasa

Mas Is cuma garuk-garuk rambut kepalanya yang tidak gatal.

“Ya itu tadi kan cuma ungkapan aja, Gus. Nggak mungkin juga saya datang ke rumahnya lalu tiba-tiba membunuh ya kan? Apalagi sampai menggorok leher gitu segala. Ya bisa dipenjara saya. Bisa repot urusannya,” kata Mas Is.

“Tapi kan kalau orang lihat itu bisa beneran ketakutan lho, Mas. Orang jadi mikir, Islam jadi sekasar itu, nggak bisa sabaran,” kata Gus Mut.

“Lho orang yang bikin guyonan soal agama itu juga udah kasar to, Gus? Sudah melampaui batas,” kata Mas Is.

“Lha tapi kan Mas Is bisa sabar sejenak. Oke deh, reaksi pertama mungkin marah. Merasa keimanan Mas Is dilecehkan, tapi kan selanjutnya bisa berpikir. Nggak perlu dikasih makan terus itu amarahnya. Lagian kan Mas Is juga harus inget, ini kan masih bulan Ramadan. Masih bulan Puasa. Kita kan udah biasa sabar, masa lihat begini sejenak aja nggak sabar,” kata Gus Mut.

“Lho, sabar itu juga ada batasnya, Gus. Enak aja mengandalkan kesabaran orang lain, tapi kelakuan sendiri nggak dikontrol,” kata Mas Is masih emosi.

Gus Mut terkekeh mendengarnya.

Melihat Gus Mut terkekeh, Mas Is jadi bingung. “Emang ada yang salah, Gus?” tanya Mas Is.

“Sampeyan ini lucu, sabar kok ada batasnya,” kata Gus Mut.

“Ya ada dong, Gus. Sabar itu jelas ada batasnya, manusia itu ada batas sabarnya,” kata Mas Is menggebu-gebu.

“Iya bener, manusia itu ada batasnya, tapi rasa sabar, rasa ikhlas itu nggak ada batasannya. Yang bikin batasan itu ya manusianya sendiri, Mas Is. Terus bikin seolah-olah hal kayak sabar dan ikhlas itu jadi ada batasnya. Kalau orang bilang sabar ada batasnya, ya berarti orang itu emang dasarnya lagi nggak bisa sabar,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Islam Kita Nggak Ke Mana-mana Kok Disuruh Kembali?

“Tapi kalau urusannya kayak gini kan kita nggak boleh sabar-sabar amat, Gus. Orang bisa seenak sendiri menghina agama kita nanti,” kata Mas Is.

“Ingat Mas Is, orang sabar itu bersama Allah. Ada ayatnya lho itu. Kalau orang kok ngaku-ngaku bela agama Allah tapi dalam hatinya blas sama sekali nggak ada kesabaran, lha dia itu marah-marah sedang bersama siapa?” tanya Gus Mut.

“Ya tapi kan kita nggak boleh diam aja, Gus,” kata Mas Is.

“Yang bilang harus diam juga siapa, Mas Is. Saya kan bilang kita bertindak tapi jangan pakai emosi. Sabar dulu. Jangan buru-buru. Soalnya emosi itu dari nafsu, terus dikipas-kipasin sama setan, dan sama seperti halnya sabar yang nggak ada batasnya, nafsu itu juga nggak ada batasnya. Saking nggak ada batasnya, nafsu itu bisa melalui perantara apa aja. Lewat uang bisa, lewat agama juga bisa. Bahkan lewat ayat-ayat Quran dan Hadis pun bisa,” kata Gus Mut.

“Ah, masa sih nafsu dan setan bisa merambat lewat Quran dan Hadis segala?” tanya Mas Is tak percaya.

“Yaelah, dibilangin. Lha yang tadi kepingin bunuh orang gara-gara agama, siapa?” tanya Gus Mut.

Mas Is cuma tersenyum bingung, merasa tertangkap basah.

“Hehe, saya, Gus…”



Tirto.ID
Loading...

No more articles