MOJOK.CO – Kalau diberi pilihan, Fanshuri sih menginginkan bulan Ramadan itu nggak perlu ada kewajiban puasa segala. Jadi tahu-tahu langsung lebaran, kan enak tuh. Ya nggak?

“Coba kalau puasa Ramadan itu nggak wajib, Gus,” guman Fanshuri tiba-tiba saat ngabuburit bareng Gus Mut di kediamannya.

“Maksudmu, Fan?” tanya Gus Mut santai.

“Ya, iya dong. Saya kok nggak yakin sama orang-orang yang bilang kalau mereka bersuka cita menyambut puasa Ramadan. Halah, mbelgedhes. Pasti kalau mereka dikasih pilihan antara puasa atau nggak puasa, pasti kebanyakan nggak mau puasa kok, Gus,” kata Fanshuri.

Gus Mut terkekeh mendengar Fanshuri. Sambil menata kembali papan catur karena habis dikalahkan, Gus Mut cuma geleng-geleng.

“Jangankan puasa, Fan. Salat itu lho, kalau nggak dikenai hukum fardhu ‘ain, paling juga orang-orang nggak pada salat,” kata Gus Mut.

“Lah wong udah fardhu ‘ain aja banyak yang masih nggak salat kok, Gus,” kata Fanshuri cekikikan.

“Puasa juga,” kata Gus Mut.

“Iya, Gus. Puasa juga. Masih banyak aja kok yang nggak puasa,” kata Fanshuri.

“Makanya itu, Fan, kita puasa atau salat itu jangan dianggap sebatas ibadah. Kalau dianggap ibadah ya berat jadinya. Yang namanya ibadah wajib itu—kesannya—semuanya memberatkan. Salat, harus siap setiap lima waktu. Haji, harus sedia duit, tenaga, dan waktu. Zakat, harus keluarin duit untuk diserahkan ke orang lain. Belum ibadah-ibadah yang lain-lain,” kata Gus Mut.

“Iya, Gus, karena pada dasarnya kita ogah itu hukumnya jadi wajib kan? Ya nggak apa-apa sih, namanya kewajiban kan ya harus dijalankan. Lagian pahalanya juga banyak kan Gus?” kata Fanshuri.

“Tapi kalau cara mikirnya kayak gitu ya kamu bakal merasa puasa itu berat, Fan. Apalagi sampai ada embel-embel pamrih gitu,” kata Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya kamu menganggap bahwa puasa itu hal yang dilakukan supaya dapat pahala. Bukan karena perintah Allah. Jadi kalau kamu nggak dapat pahala, kamu nggak puasa gitu?” tanya Gus Mut.

Fanshuri jadi kikuk.

“Ya nggak gitu juga, Gus, maksud saya. Maksud saya itu kan saya cuma bilang kalau pahala puasa itu besar, terutama puasa Ramadan,” kata Fanshuri.

“Kamu kira, menggauli istri sendiri dengan ma’ruf itu nggak dapat pahala juga?” tanya Gus Mut sambil tersenyum usil.

“Iya juga sih, tapi kan nggak sebesar puasa Ramadan, Gus,” kata Fanshuri.

Baca juga:  Awal Puasa Ramadan Kadang Kok Bisa Beda Gimana Logikanya sih?

“Dari mana kamu tahu pahalanya lebih besar? Emang kamu asistennya Malaikat Roqib? Sampai tahu hitung-hitungan pahala segala?” tanya Gus Mut.

Fanshuri cuma terkekeh.

“Puasa itu sebaiknya juga dianggap sebagai aktivitas yang menyenangkan juga. Seperti menggauli istri sendiri dengan baik. Kan enak tuh? Udah enak, menjalankan perintah Gusti Allah lagi,” kata Gus Mut.

“Lah? Gimana cara menikmati puasa? Orang nggak makan dan minum seharian kok dibilang menikmati, Gus. Kalau siang kita kebanyang es kelapa muda yang berembun-embun gitu kok, masa keadaan kayak gitu harus dinikmati sih?” tanya Fanshuri.

“Sekarang gini, yang bikin kita jadi nggak merasa bisa menikmati puasa itu apa?” tanya Gus Mut.

“Ya lapar sama hausnya, Gus. Hausnya sih yang lebih susah. Kalau lapar sih masih bisa ditahan-tahan lah, tapi kalau haus itu lho. Apalagi kalau hari-hari awal puasa, wah kayak tersiksa, Gus,” kata Fanshuri sambil cekikikan.

“Yang bikin kamu tersiksa itu rasa hausmu itu atau kenangan tentang rasa es kelapa muda yang muncul di kepalamu, Fan?” tanya Gus Mut.

Fanshuri bengong. Sedikit disconnect. Bingung.

“Maksudnya, Gus?” tanya Fanshuri lagi.

“Maksudnya, kalau misal ketika waktunya berbuka nanti, terus kamu akhirnya cuma dapat minum es sirup tiga sampai empat gelas lah, apa kamu masih kepingin minum es kelapa muda juga, Fan?” tanya Gus Mut.

Fanshuri tersenyum. Sekarang dia paham.

“Ya sebenarnya sih masih kepengen Gus, pasti, tapi kan mana muat perut saya kalau udah minum es sirup sebanyak itu masih mau ditambah es kelapa muda,” kata Fanshuri.

“Nah, itulah cara kerja hawa nafsu, Fan,” kata Gus Mut.

“Hah? Gimana? Hawa nafsu?” tanya Fanshuri.

“Iya, hawa nafsu. Hal yang sedang besar-besaran kita kendalikan selama bulan Ramadan ini. Nafsu itu bikin manusia jadi tamak. Memakan sesuatu yang melebihi kapasitasnya. Makan sepiring sebenarnya udah kenyang, eh malah tamak sampai 10 piring. Bahkan sampai menguasai gudangnya, jalannya, petaninya, bibitnya, sawahnya. Kayak contoh es sirupmu tadi itu. Kamu udah kenyang, tapi nafsumu masih kepingin juga minum es kelapa muda,” kata Gus Mut.

“Makanya itu perlu puasa ya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya nggak cuma puasa, Fan. Semua ibadah itu memang sifatnya nggak enak karena jadi upaya manusia untuk mengendalikan nafsu. Soalnya yang enak-enak itu pasti dorongan nafsu,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Kentut Menggebu-gebu untuk Menyenangkan Tuhan

“Emang ngapain kita perlu mengendalikan nafsu segala, Gus? Kenapa nggak sekalian kita minta Gusti Allah menghancurleburkan saja itu nafsu?” tanya Fanshuri.

“Ya nggak bisa, itu kodrat manusia. Nafsu itu meski kesannya jelek gitu juga ada gunanya, kalau nggak terkendali aja jadi berbahaya,” kata Gus Mut.

“Hah? Masa sih nafsu ada gunanya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Ya iya dong, kalau nggak ada nafsu nggak bakal ada ilmu pengetahuan, teknologi, keragaman bahasa, adat, budaya. Tanpa nafsu, manusia itu nggak bakal bisa berkembang. Baik secara pengetahuan maupun populasi. Berkembang biak aja makhluk hidup butuh nafsu kok. Cuma bedanya, manusia punya akal untuk mengendalikannya,” kata Gus Mut.

Gus Mut lalu menambahi, “Manusia itu materi, sedangkan hawa nafsu itu non-materi. Karena materi, manusia punya batasan, sedangan nafsu karena nggak bermateri ia nggak punya batasan. Jadi bakal berbahaya kalau manusia sampai dikendalikan nafsunya sendiri, sebab nafsu itu nggak berbatas. Nggak berbatasan dengan norma, aturan, benar-benar berkebalikan dengan inangnya, alias manusianya.”

Fanshuri manggut-manggut memperhatikan.

“Misalnya, kalau aku nanya, orang diabetes itu garis batasannya apa, Fan?” tanya Gus Mut tiba-tiba.

“Nggak boleh makan gula atau yang manis-manis, Gus,” jawab Fanshuri.

“Sekarang aku tanya, apa yang membuatnya tersiksa? Diabetesnya atau kenangannya akan rasa manis yang dulu pernah dicicipnya?” tanya Gus Mut.

“Ya, kenangannya akan rasa manis itu sih, Gus,” jawab Fanshuri.

“Cara kerja nafsu itu memang begitu, Fan. Selalu menarik kita agar mau mengulangi momen kenikmatan tanpa henti, tanpa batas. Padahal manusia kayak kita ini kan terbatas secara fisik, secara umur. Makanya itu, Gusti Allah kasih beberapa kewajiban agar jadi penghalang supaya kita nggak melampaui batas. Karena kalau kita terbiasa melampaui batas, kita bakal tersiksa kalau kita sadar ternyata tubuh kita ini punya batasan.”

“Kayak orang diabetes tadi, semakin dia nggak bisa mengendalikan keinginannya makan makanan yang manis, makin tersiksa dia. Makin bisa dia kendalikan, batasan diabetes itu jadi biasa aja, nggak bikin tersiksa lagi,” kata Gus Mut.

“Artinya, puasa itu latihan untuk memberi batasan diri agar kita nggak gampang melampaui batas ya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Iya, Fan. Sekaligus cara Gusti Allah memberi petunjuk, bahwa akal manusia itu sudah dari dulu jauh lebih kuat ketimbang nafsunya sendiri. Cuma kita aja yang nggak mau mengakuinya.”



Loading...



No more articles