MOJOK.CO – Mau puasa, salat, zakat kok nunggu hati seorang hamba bisa ikhlas dulu ya nggak mashoook. Jalanin dulu aja, belajar sambil jalan. Jangan dibalik.

“Waduh, Gus, tadi saya nggak sengaja ikut jamaah majelis ghibah bareng sama Pak Seno dan Pak Maula di serambi masjid bakda duhur nih. Lama banget lagi tadi nggosipinnya. Sampai berjam-jam. Batal nggak ya puasa saya, Gus?” tanya Mas Is ke Gus Mut yang sedang santai di teras rumah.

Gus Mut terkekeh mendengarnya.

“Batal sih nggak, Mas Is,” kata Gus Mut.

“Waduh,” jawab Mas Is lagi.

“Lah kok ‘waduh’? Kan udah dibilang nggak batal. Alhamdulillah dong harusnya,” kata Gus Mut bingung.

“Itu dia masalahnya, Gus. Tadi karena Pak Seno dan Pak Maula bilang kita udah batal karena menggunjing orang, ya udah sekalian makan aja, orang nggak diterima ini juga ibadah puasanya. Ketimbang puasa cuma dapat lapar sama hausnya aja to, Gus?” kata Mas Is sambil tersenyum tapi juga merasa takut-takut.

“Ealah, Mas Is. Sampeyan itu gimana. Jangan menggabungkan dua hal yang berbeda gitu dong ya. Dicampuradukkan jadi seolah-olah keduanya sama-sama batas sah dan tidak sahnya,” kata Gus Mut.

Mas Is cuma cengengesan.

“Lah gimana, Gus. Udah kadung ini,” kata Mas Is.

“Menggunjing itu nggak jadi hal yang membatalkan puasa, jadi nggak hubungannya kalau gara-gara itu Mas Is terus merasa berhak makan siang dengan bebas kayak gitu. Ini kayak orang salat harus khusyuk, tapi bukan berarti kalau nggak khusyuk itu batal salatnya. Nggak gitu juga cara mikirnya,” kata Gus Mut.

“Tapi kan lebih baik kita mempersiapkan diri untuk bisa salat dengan khusyuk dulu, Gus. Ketimbang salat berkali-kali tapi malah nggak diterima kan ya sama aja,” kata Mas Is coba berdalih.

“Ya nggak sama dong Mas Is. Itu beda,” kata Gus Mut.

“Beda? Beda di mananya emang, Gus?” tanya Mas Is penasaran.

“Ya beda dong, yang satu itu syarat sah sedangkan yang satu itu tujuan. Baiknya kalau orang salat itu khusyuk, baiknya kalau orang puasa itu juga menjaga lisan, menjaga hati. Tapi kalau belum bisa ya bukan berarti puasanya batal,” kata Gus Mut.

Baca juga:  Ketika Wak Kadirun Marah

“Oalah, gitu to, Gus,” kata Mas Is semakin cengengesan

“Sepanjang orang puasa nggak makan, nggak minum, nggak berhadas besar, ya nggak batal mau dia menggunjing ribuan orang. Cuma ya kan nggak bagus. Orang lagi dalam keadaan ibadah kok kayak gitu,” kata Gus Mut.

“Lalu gunanya orang puasa apa dong, Gus, kalau orang kayak saya masih kuatnya cuma nggak makan nggak minum doang?” tanya Mas Is lagi.

“Namanya ibadah itu nggak mungkin sempurna Mas Is,” kata Gus Mut.

“Maksudnya, Gus?” tanya Mas Is.

“Ya kita sebagai manusia ini sangat sulit untuk bisa sempurna dalam menjalankan ibadah. Secara syariat mungkin sempurna, tapi secara hakikat kan belum tentu. Misalnya, saat salat itu kita harusnya cuma ingat Allah saja, tapi kenyataannya malah nggak kan?” kata Gus Mut.

“Hehe, iya juga sih, Gus. Saya malah kadang jadi ingat hal-hal lain. Jadi kalau salat pikiran malah mblayang ke mana-mana nggak jelas,” kata Mas Is.

Gus Mut terkekeh.

“Makanya itu, Mas Is, dulu itu ada cerita kalau ada orang lupa sesuatu, lupa naruh barang misalnya, maka disarankan salat saja,” kata Gus Mut.

Mas Is bingung. “Maksudnya dengan salat barangnya akan otomatis ketemu gitu, Gus?”

“Ya nggak juga. Tapi dengan salat, orang itu jadi konsen. Harusnya dia ingat Allah, malah jadi ingat sama hal-hal yang tadinya nggak keingat. Barang yang tadinya hilang karena lupa naruh, jadi ingat, ketemu deh usai salat,” kata Gus Mut yang disambut tawa oleh Mas Is.

“Tapi memang harusnya kita juga diajarkan nggak cuma syariat aja, Gus. Biar ikut bisa menjalankan ibadah dengan—yah paling tidak mendekati sempurna. Ya kan percuma kalau kita puasa seharian, ternyata pahala kita nggak diterima Allah,” kata Mas Is.

Baca juga:  Sudahlah, Jangan Bohong Saja Sudah Cukup untuk Belajar Islam

Gus Mut bergeming sejenak. “Maksudnya, Mas Is?”

“Ya kan sayang, Gus. Udah ibadah puasa capek-capek, eh nggak diterima sama Allah,” kata Mas Is.

“Duh, kok sampeyan mikirnya gitu, Mas Is. Kita ini puasa emang udah kewajiban. Perkara diterima atau tidak itu bukan urusan saya, bukan urusan sampeyan. Lah kita ini siapa, nggak diajak pertimbangan sama Gusti Allah bikin peraturan puasa kok mengkhawatirkan keputusan Gusti Allah. Mau kita ibadah dengan sempurna menurut kita pun, belum tentu juga Gusti Allah menerima kita kok. Yang penting ya jalanin aja perintah-Nya dulu. Penyempurnaannya sambil jalan,” kata Gus Mut.

“Ya tapi kan bakal lebih afdol kalau kita udah punya ketetapan hati dulu, Gus, baru menjalankan syariatnya,” kata Mas Is.

“Kalau kayak gitu, ya manusia di Bumi ini nggak bakal ada yang salat, nggak bakal ada yang puasa, nggak bakal ada yang zakat dong,” kata Gus Mut.

“Lho kok bisa, Gus?” tanya Mas Is.

“Lha iya dong, masa orang mau puasa harus menunggu hatinya nyambung langsung dengan Allah dulu, ya nggak bakal puasa-puasa dong dia. Orang mau salat nunggu dapat panggilan hati, ya nggak bakal salat-salat dia. Orang mau zakat nunggu bisa ikhlas, ya nggak bakal bayar zakat dia,” kata Gus Mut.

Mas Is garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sambil kembali cengengesan.

“Lagian, mau ibadah, mau puasa kok nunggu ikhlas. Ya belum sempat kita ngapa-ngapain ya kita udah ketemu dulu sama Malaikat Izrail, Mas Is. Bisa ikhlas itu baik, tapi itu bukan jadi patokan seorang umat menjadi lebih baik ketimbang umat yang lain,” kata Gus Mut mengakhiri.

“Lho kok gitu, Gus?”

“Ya iya dong. Soalnya ikhlas beribadah itu bukan urusannya manusia, itu urusan Yang Bikin Manusia. Jadi nggak usah deh ngurusin hal yang bukan urusan kita. Sama urusan sendiri aja belum beres kok mau sok-sokan ngurusi hati orang lain.”



Loading...



No more articles