#3 Terlalu sering cuci ulang atau rewash pasti merugikan bisnis laundry
Jadi, kejadian cuci ulang biasanya terjadi karena pakaian masih bau apek dan nodanya belum hilang. Teman saya sendiri bilang proses rewash ini wajar. Namun, pemula di bisnis laundry harus menetapkan batas toleransi, yaitu tidak boleh lebih dari satu kali.
Artinya, kalau masih bau, ya ada kuota satu kali lagi untuk cuci ulang. Dan itu dengan catatan pakaian masih bau apek, bernoda, dan masih belum perpindah ke tangan pelanggan. Namun, kalau sudah lebih satu kali cuci ulang, ya pasti bikin boncos.
Cuci ulang artinya ada biaya lagi. Mulai dari listrik, air, dan komponen lain yang takarannya sama dengan 1 kilo pakaian. Makin parah ketika cuci ulangnya karena komplain pelanggan. Sudah pasti kerugiannya nggak hanya dari materi, tapi juga reputasi.
Pelanggan yang awalnya rutin menyetorkan tiap minggu 50 kilo, bisa kapok. Mereka nggak akan puas. Kehilangan 50 kilo jelas kerugian. Dari sisi pelayanan, rewash ini memang jadi semacam tanggung jawab bisnis laundry.
#4 Pakaian yang tertukar, terbawa, atau bahkan hilang
Di awal-awal, ini jadi salah satu kebocoran yang bikin bisnis laundry boncos. Jadi, kejadian begini terjadi karena pencatatan nggak rapi, pakaian tercampur, proses sortir nggak teliti, dan akhirnya dapat komplain dari pelanggan. Kalau sudah begini, kerugiannya nggak hanya soal ganti rugi materi, tapi juga berefek pada reputasi dan loyalitas pelanggan.
Secara nominal, bisnis laundry teman saya bisa saja mengganti rugi pakaiannya, tapi setelah itu pelanggannya akan kabur ke tempat lain. Maka, sistem pencatatan dan nota, labeling, kantong terpisah, dan rak berdasarkan nomor order harus rinci dan sistematis. Karyawan harus tahu betul kalau ini jadi salah satu fundamental keberlangsungan bisnis laundry.
#5 Banyak bisnis laundry tidak memperhitungkan biaya perawatan dan penyusutan mesin
Mesin cuci, pengering, setrika uap, dan timbangan adalah aset utama bisnis laundry. Teman saya saat itu tidak mengestimasi langsung setiap bulan untuk biaya perawatan dan penyusutan. Hanya menghitung saat mesin benar-benar rusak.
Padahal, nilai mesin pasti menurun kalau memakainya setiap hari. Seharusnya, pemilik bisnis laundry mengalokasikan biaya penyusutan setiap bulan.
Ini sering terjadi. Misalnya pengering rusak saat kapasitas pakaian sedang banyak-banyaknya. Efeknya tentu jadi harus membayar biaya perbaikan bahkan membeli baru. Selain itu, pengerjaan jadi terlambat, pelanggan komplain, karyawan ikut kewalahan.
#6 Tidak menghitung paket langganan secara matang
Jadi, paket bulanan memang menggiurkan karena membuat pelanggan jadi loyal dan uang masuk di awal. Skemanya biasanya begini. Pelanggan ikut bayar paket bulanan dengan misalnya tarif Rp200 ribu per bulan dengan kuota cuci sepuasnya dengan paket lengkap (setrika rapi). Laundry besar biasa melakukan ini dan teman saya mencoba melakukannya.
Dengan Rp200 ribu itu, asumsinya misalnya untuk 40 kilo cucian. Jadi, saat cucian pelanggan di bawah 40 kilo, pemilik bisnis laundry bisa untung. Tapi, akan boncos ketika lebih dari 40 kilo.
Sebenarnya nggak terlalu jadi masalah ketika kelebihan cucian dari pelanggan itu hanya 1 atau 2 kilo. Masalahnya karena ini hitungannya paket bulanan sepuasnya, pelanggan bisa jadi ngasih beban cucian jauh di atas 40 kilo. Dan lebih parah kalau cuciannya ada bed cover, jaket tebal, boneka, dan cucian aneh lainnya. Akan jauh lebih berat.
Kondisi itu tentu bikin teman saya bisa boncos hingga jutaan dalam sebulan. Akhirnya, dia mengganti skema paket dengan yaitu paket kuota, deposit kilon, dan membership kilogram. Selain itu, teman saya juga memberlakukan pengecualian dan biaya tambahan terhadap jenis cucian yang aneh dan tebal.
Harus sangat hati-hati kalau mau bisnis laundry
Yah, terlepas dari itu, bisnis laundry memang bisnis basah karena sirkulasi uangnya bergerak setiap hari. Tapi justru karena itu, pemilik bisa jadi nggak sadar kalau ada bagian-bagian yang bocor dan jadi boncos.
Sebab, laundry memang jasa mencuci pakaian orang. Tapi, kalau nggak hati-hati dan teliti, ya bisa jadi keuntungan yang diekspektasikan hanya jadi ilusi karena semuanya luntur oleh bocor-bocor kecil yang nggak segera disadari.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi Maramis
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Bisnis Laundry Skala Kecil, Bisnis Paling Menjanjikan, Modal Cuma 15 Juta, Balik Modal Cukup Sebulan Saja! dan analisis bisnis yang menarik lainnya di rubrik CUAN.














