Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Mop

Jendela, Jendela Apa yang Kalau Dipecahkan, Hukumannya Penjara 20 Tahun?

Kristianto Galuwo oleh Kristianto Galuwo
8 Desember 2017
A A
mi-instan-mop-mojok.co

mi-instan-mop-mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Jawab dulu tebak-tebakannya baru pecahkan jendela, eh baca mopnya.”

Harga Mi

Pukul 11 malam, tetiba perut Ungke keroncongan. Dia lalu menuju meja makan dan tidak menemukan apa pun di sana.

Ungke lantas menuju warung terdekat, warung milik Om Alo, yang ternyata sudah ditutup. Karena langganan, ia yakin Om Alo pasti bangun, maka Ungke ketuk saja itu pintu warung. Tok, tok, tok….

“Sapa itu?” teriak Om Alo dari dalam warung.

“Ungke, mo babeli Supermi,” jawab Ungke sambil merogoh saku celananya. Ternyata uangnya tinggal seribu.

“Supermi rasa kari ayam berapa, Om?” tanya Ungke.

“Tiga ribu.”

“Kalu rasa soto ayam?”

“Dua ribu lima ratus,” jawab Om Alo masih dari dalam warung. Ia belum membuka pintu, menunggu Ungke habis bertanya.

“Kita pe doi tinggal saribu, Om. Supermi rasa apa yang harga saribu?”

Kesal dengan pertanyaan Ungke, Om Alo yang sudah mengantuk itu menjawab, “Rasa tahi ayam!”

 

Mumi

Iklan

Ungke dan Utu pergi ke museum untuk melihat mumi yang sedang dipamerkan.

“Ngana so pernah lia mumi?” tanya Utu.

“Belum pernah. Ngana le belum to?”

“Iyo, sama,” kata Utu.

Setelah masuk ke museum, Utu terperangah melihat mumi yang sekujur tubuhnya seperti dibalut tisu toilet.

“Eh, kiapa ada tulis 5050 SM?” tanya Utu sambil menunjuk angka di bawa peti mumi.

Setelah menggaruk-garuk kening, Ungke menjawab, “Mungkin itu pelat nomor oto yang tabrak pa dia.”

 

Ketemu Kuntilanak

Suatu malam Ungke baru saja dari rumah temannya. Di jalan pulang itu Ungke melewati kebun pisang yang terkenal angker.

Baru saja sepertiga perjalanan, dari balik rerimbun daun pisang muncul kuntilanak. Ungke yang beragama Kristen segera membaca doa.

“Oh, Tuhan Yesus! Hancurkanlah iblis-iblis pengganggu ini!”

Tetiba Kuntilanak itu mendengus lalu berkata, “Mulai le balapor. Sama deng anak kacili jo ngana!” Kemudian kuntilanak itu menghilang.

 

Anjing Lapar

Warung makan Tanta Kori terkenal karena masakannya yang lezat. Ungke yang kelaparan siang itu mampir ke sana.

“Pesan ikang tuna bakar dang,” kata Ungke.

Setelah pesanan datang, Ungke segera menyantapnya. Saat lahap-lahapnya, Tanta Kori terus memperhatikan cara makan Ungke.

“Eh, Tanta, kiapa haga-haga terus?” tanya Ungke yang sadar dirinya diperhatikan sedari tadi.

“Ngana pe makang sama deng anjing lapar bagitu,” kata Tanta Kori.

Ungke hanya diam. Setelah menandaskan makanan, Ungke beranjak dari kursi lalu keluar.

“Eh! Ngana belum bayar so langsung pancar!” teriak Tanta Kori.

“Hih! Pernah lia so anjing makang kong babayar?” jawab Ungke.

 

Anjing Pandai

Utu pergi ke rumah Ungke untuk memamerkan anjing impor peliharaannya.

“Kita pe anjing ini pande skali. Tiap pagi papa’ pe koran di muka rumah, dia ambe kong bawa maso,” cerita Utu.

Ungke hanya asyik mengelus-elus anjing kampung peliharaannya.

“Kalo molempar bola, dia le mo main bola,” lanjut Utu.

“Kita so tau samua tu cirita,” kata Ungke.

Utu yang heran lantas balik bertanya, “Sapa yang cirita?”

“Kita pe anjing,” kata Ungke.

 

Beli Rokok

Ungke disuruh ayahnya membeli rokok. Mendapati warung Om Alo ditutup, ia terpaksa berjalan kaki menuju warung Om Kiko.

“Hoiii! Babeliii!” teriak Ungke di depan warung. Om Kiko ini dikenal agak budek.

“Hoooiii! Babeliii rokoook!”

“Beliii roookoookkk!” berkali-kali Ungke teriak.

Setelah hampir sepuluh kali berteriak, Om Kiko muncul dari kamar mandi yang ada di warung.

“Ngana bataria terus. Ndak ada yang pongo (budek). Berapa liter mo beli?”

 

Asal Bukan Jambore Mojok

Ungke pe opa baru saja meninggal. Dari cerita Oma, sebelum meninggal Opa minta agar saat dimasukkan ke peti, ia didandani dengan memakai baju Pramuka lengkap.

Saat acara perkabungan, banyak sanak keluarga yang menangis. Termasuk Ungke.

Melihat semuanya menangis, Oma yang ikutan sedih coba menenangkan diri dengan mengingat masa-masa ketika Oma kali pertama bertemu Opa saat kegiatan pramuka.

Setelah tenang, Oma lantas coba menenangkan kerabat lainnya.

“Anak-anak, cucu, dan cece sekalian. Sodara-sodara juga yang dari jauh. Jangan bersedih,” kata Oma.

Setelah menyeka air matanya, Oma melanjutkan penyampaiannya.

“Opa sebenarnya tidak ke mana-mana. Opa cuma pigi Jambore.”

 

Siram Bunga

Seminggu setelah Opa dimakamkan, Ungke jadi lebih sering main ke rumah omanya.

Sore itu, sesampai di rumah omanya, tetiba hujan turun. Oma yang tengah asyik menonton tivi menyuruh cucu kesayangannya itu.

“Itu bunga kote belum siram. Coba ngana siram dulu,” kata Oma.

“Ada ujang keras kwa itu, Oma,” jawab Ungke.

“So ngana ini cucu paling bodok. Pake payung no!” teriak Oma.

 

Gara-Gara Pecahkan Jendela, Penjara 20 Tahun

Di rumah oma Ungke, ada Om Joney yang baru saja keluar dari penjara. Om Joney ini kakak dari mamanya Ungke. Ia sudah bercerai dengan istrinya lalu memilih tinggal berdua dengan Oma.

Ungke yang belum akrab dengan Om Joney coba mendekatinya saat berada di dapur.

“Om, kiapa Om ada penjara so?” tanya Ungke.

“Ada kase pica kaca jandela dulu di tampa karja,” kenang Om Joney.

“Cuma kase pica kaca jandela kong hukuman sampe 20 taong?” selidik Ungke.

Om Joney hanya menghela napas kemudian berkata,

“Om ada kase pica kaca jandela kapal selam.”

Terakhir diperbarui pada 8 Desember 2017 oleh

Tags: jendelamimoppramukasulawesisupermiungke
Kristianto Galuwo

Kristianto Galuwo

Artikel Terkait

Di Era Digital, Gerakan Pramuka Perlu Terus Digalakkan  MOJOK.CO
Kilas

Di Era Digital, Gerakan Pramuka Perlu Terus Digalakkan 

14 Agustus 2025
Cerita Ridwan Mandar tentang Perahu Sandeq yang Jadi Bukti Kejayaan Bahari Sejak Dulu
Video

Cerita Ridwan Mandar tentang Perahu Sandeq yang Jadi Bukti Kejayaan Bahari Sejak Dulu

26 Juli 2024
Sandeq dan Padewakang, Perahu Tradisional dari Mandar dan Sulawesi yang Belayar hingga Eropa MOJOK.CO
Histori

Sandeq dan Padewakang, Perahu Tradisional Kuno yang Berlayar Jelajahi Dunia Sejak Ribuan Tahun Lalu

25 Juli 2024
Cerita PNS Asal Jawa yang Dapat Penempatan di Sulawesi: Sudah Berdamai dengan Keadaan, tapi Tetap Bermimpi Balik ke Jawa
Liputan

Cerita PNS Asal Jawa yang Dapat Penempatan di Sulawesi: Sudah Berdamai dengan Keadaan, tapi Tetap Bermimpi Balik ke Jawa

21 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.