Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Sakit Hati Menghadapi Tetangga yang Selain Suka Utang, Juga Tidak Tahu Diri

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
23 Desember 2017
A A
Sakit Hati Menghadapi Tetangga

Sakit Hati Menghadapi Tetangga

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tanya

Dear Mojok dan jajaran pribadi murah hati yang bersedia piket menjawab curhat, semoga sehat selalu.

Iklan

Dengan datangnya curhat ini, sudah jelas kalau saya ingin curhat ya. Misal tidak dimuat, dijawab pribadi via email pun saya berterima kasih.

Begini, saat ini saya bekerja di Kota Surabaya. Indekos di rumah kos untuk perempuan dan keluarga. Di kos ini, ada satu keluarga yang kamarnya tepat di depan kamar saya. Anggotanya, papa, mama, satu anak kelas 4 SD, dan satu bayi 6 bulan.

Si mama keluarga ini, sebut saja Mama Bernad, punya kebiasaan yang naudzubillah ngguatheli. Mulai dari suka mengatur, suka berteriak tanpa kenal waktu, dan suka minjam uang. Yang terakhir inilah yang paling mengesalkan saya.

Baru dua bulan saya kos di sana, saya sudah dipinjami uang oleh doski. Jumlahnya di bawah lima ratus ribu, alasannya untuk membayar uang sekolah anak. Sejak pinjaman pertama itu hingga sekarang, entah sudah berapa kali si Mama meminjam uang. Kalau ditotal, nominalnya sudah sekian juta.

Sejujurnya saya tulus membantu meminjamkan uang. Apalagi di awal-awal meminjam, Mama Bernad memang sedang hamil putra kedua, butuh tambahan biaya operasi caesar, dan sebagainya, dan sebagainya.

Sebagai orang yang saya kira masih sanggup membantu, saya pikir akan sangat jahat kalau saya bohong tak punya uang. Prinsip saya, kalau pengin dibaikin, harus baik sama orang, kalau nggak pengin dibohongi, jangan bohongi orang.

Demikianlah….

Waktu berlalu… sudah enam bulan sejak pinjaman pertama diberikan, tetapi belum sekali pun mereka berinisiatif mengembalikan. Selain selalu mengulur-ulur waktu untuk nyaur, mencicil pun tidak. Ya, mereka memang ngasih BPKB sepeda motor matic mereka ke saya sih.

Dengan keadaan sudah punya utang tidak sedikit, Mama Bernad masih percaya diri pinjam uang lagi ke saya. Selain pinjam ke saya, penghuni kos lain ternyata juga mengalami hal serupa. Saya yang awalnya simpati pada kesulitan si Mama menjadi jengkel sendiri.

Sebagai anak kos, nominal tersebut tidak sedikit. Dan tambah jengkelnya lagi, mengapa dalam keadaan yang sering ia koar-koarkan susah, merasa biaya kos kemahalan, SPP anak yang tinggi karena bersekolah di sekolah swasta, dan susu anak yang tidak murah, Mama Bernad masih suka memasak yang enak-enak.

Semua orang tua pasti ingin anaknya makan enak. Sayur lengkap dengan ayam, udang, atau daging. Tetapi tidak setiap hari juga kan. Saya yang ngutangin aja ngirit-ngirit di akhir bulan, mengapakah si Mama tega menggoreng udang tepung di akhir bulan? Atau jalan-jalan akhir pekan dan beli es krim Häagen-Dazs empat ember?

Sampai sebelum tulisan ini saya kirim, pagi tadi si Mama minta tolong saya menransfer sejumlah uang dengan dalih untuk mengambil rapor anak. Namun, setelah saya transfer, ternyata bukan rekening sekolah si anak yang saya kirimi uang, melainkan rekening suaminya.

Saya tidak tahu kebohongan apa yang sedang dibuat si Mama, saya tidak ingin berprasangka. Beberapa orang bilang, saya ini goblok nggak ketulungan. Nggak bisa menyortir mana yang layak ditolong, membahayakan diri sendiri, dan sebagainya. Tapi, sedih nggak sih jika suatu saat kita ganti yang butuh ditolong lalu orang yang kita mintai tolong pura-pura nggak bisa bantu?

Intinya, mendapat perlakuan demikian dari si Mama sampai tadi pagi, saya sudah kadung sakit hati. Bagaimana cara bijak menghadapi tetangga kos yang demikian?

Maaf, curhatnya kepanjangan.

~ E yang malang padahal tinggal di Surabaya

Iklan

Jawab

E yang malang padahal tinggal di Surabaya,

Pertama, saya bukan psikolog. Sayang sekali, dua kru Mojok yang punya latar belakang sarjana psikologi justru bekerja sebagai tenaga keuangan dan sekretaris redaksi. Jadi, jika jawaban ini sangat tidak bijak, mohon salahkan saja Kepala Suku Mojok yang salah menempat orang.

Sikap saya terhadap kasus Anda sih jelas, yakni sama dengan tanggapan teman-teman Anda: Anda ini memang goblok nggak ketulungan. Tapi, semoga Mojok bisa menulungi Anda lewat balasan curhat ini.

Ya, sudah jelas tho, Mbak, kalau tetangga parasit seperti itu tidak usah ditolongi lagi. Sampean bukan malaikat yang nggak bisa mangkel, juga bukan anak Firaun yang hartanya nggak habis-habis. Kalau sampean merasa antara gaya hidup dan cara keluarga si tetangga kos menyelesaikan persoalan finansial ora mashok, ya sudah, biarkan itu menjadi problem mereka sendiri. Nggak usah sok-sok pahlawan.

Sebab, saya nggak mau Mbak nanti malah nggak tahan dan muak, kemudian memaksa keluarga tersebut untuk melunasi utang yang menumpuk. Yang saya takutkan, nanti malah muncul konflik. Dan lebih mengerikan lagi jika Mbak sampai sewa debt collector yang tidak segan-segan melakukan kekerasan saking mangkelnya sampean.

Biasanya, Mbak, niat baik yang berujung kekecewaan akan menghasilkan kekejaman tak terbayangkan. Demi menghindari kekerasan yang tidak diinginkan, lebih baik sampean melakukan kekejaman yang diinginkan saja. Yaitu dengan berani mengatakan tidak pada utang.

Mbak nggak perlu bohong lho kalau bilang “tidak”. Tidak ya tidak, nggak usah ngeles receh kayak “gaji saya belum turun”. Kalau memang mau ngeles, ngeles yang kejam sekalian seperti, “Wah, uang saya sudah dianggarkan buat masak udang goreng tepung sebulan penuh”.

Wajar saja Mbak mangkel, masalah uang itu memang ruwet. Ada keringat dan darah kita di sana.

Jangankan sama tetangga, Mbak, kalau perkaranya sudah bab uang, keluarga pun bisa pecah.

Sering terjadi, perselisihan keluarga dimulai ketika ada saudara yang merasa miskin dan meminjam kepada saudara yang dirasa kaya. Tapi kemudian, saudara yang meminjam ini jadi tidak tahu diri. Tidak melunasi utang karena menganggap “itu kan saudara” dan “saudaraku kan kaya”.

Ini hitung-hitungannya sudah bukan soal membantu supaya kelak dibantu. Wong dia sendiri dibantu sudah jelas nggak tahu diri, Mbak kok mengharap kelak dibantu dia. Kalau semua orang yang ditolong akan balas menolong, nggak akan ada peribahasa air susu dibalas air tuba.

Jadi gitu saja, Mbak, jawaban saya jelas ya, itu tetangga mbok nggak usah diutangi lagi. Kalau Mbak masih ngeyel karena sungkan, ya sudah, sampean memang orang goblok berhati sangat mulia.

Demikianlah jawaban dari saya. Mohon dimaklumi jika tidak mencerahkan sama sekali, sebab jiwa saya memang bukan jiwa konselor, melainkan jiwa tubir yang kelam nan suka menggunjing. Jiwa konselornya yang sebenarnya sedang sibuk ngurusi laporan keuangan akhir bulan.

Salam samyang,

~ Prima Sulistya yang nggak istimewa walau tinggal di Jogja

Terakhir diperbarui pada 11 Oktober 2018 oleh

Tags: anak koscurhatcurhat tetanggakonflikutang
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

WiFi di Kos MOJOK.CO

Ngekos Murah Ber-WiFi Malah Tekor: Berisik, Teras Berubah Jadi Warnet Gratisan, Berujung Terusir dan Ngungsi demi Ketenangan

24 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran .MOJOK.CO

Kolaborasi InJourney dan BUMN Tembus Wilayah Terdampak Gempa NTT, Bentuk Strategi Penyaluran Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Nasib siswa di tengah Karhutla Palangka Raya, Kalimantan Tengah. MOJOK.CO

Nasib Siswa SD di Tengah Kepungan Karhutla, Napas Sesak dan Pusing tapi “Dipaksa” Semangat Sekolah

26 Agustus 2026
Alfamart dan PGMM beri bantuan seragam ke 7 madrasah di Magelang sebagai wujud kepedulian sosial MOJOK.CO

Alfamart dan PGMM Beri Bantuan Seragam Sekolah di 7 Madrasah Magelang, Jadi Penunjang Semangat dan Kepercayaan Diri Siswa

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.