Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Corak Curhat

Gedek Setengah Mampus sama Kelakuan Suami yang Hobi Beli Mobil-Mobilan

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
4 Januari 2020
A A
MEMBELI-mobil-GARASI-celengan-mojok
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pertanyaan

Dear, Mbak Lia.

Kenalkan, saya Yuni, seorang ibu rumah tangga muda beranak dua.

Langsung saja, ya, Mbak Lia. Saya nggak tahu apakah menumpahkan curhat saya di Mojok ini bisa memberikan jawaban atas permasalahan saya atau tidak, mengingat curhat saya kali ini adalah tentang rumah tangga, sedangkan saya tahu, Mbak Lia sendiri belum berumah tangga. Tapi siapa tahu, Mbak Lia bisa memberikan jawaban yang mungkin malah tidak terpikirkan oleh orang yang surumah tangga seperti saya.

Jadi begini, Mbak. Belakangan ini, sekitar satu tahun terakhir, suami saya mendadak hobi sekali membeli miniatur mobil, mobilan-mobilan, atau apalah itu namanya. Yang jelas semacam mainan mobil kecil tapi nggak buat dimainin, cuma dipajang dan difoto-foto begitu.

Dia mendadak punya hobi membeli mainan itu setelah dia mampir ke salah satu rumah kawannya yang sampai sekarang saya nggak tahu siapa namanya. Suami saya ngakunya begitu. “Bagus, Bu, aku jadi kepingin.”

Awalnya cuma beli satu, kemudian nambah, nambah lagi, nambah lagi, sampai sekarang mungkin sudah ada lebih dari 50 jumlahnya. Rata-rata seminggu beli satu.

Saya pernah protes sama dia, ngapain beli mainan nggak berguna kayak gitu, mending duitnya dikumpulin buat beli apa gitu, atau buat langganan Netflix keluarga yang jelas ada manfaat hiburannya, atau sekalian ditabung buat beli mobil beneran. Malah karuan.

Tapi dia ngotot, dan bahkan sempat agak marah sama saya.

“Kamu ini, gajiku sebagian besar aku kasih ke kamu buat kebutuhan rumah, masak aku beli mainan begini saja nggak boleh!” Kata suami saya waktu itu dengan nada yang agak tinggi. Kalau saya balas dengan ngeyel, jawaban dia defensif, “Ya kan nanti mainan ini juga bisa buat anak-anak!”

Sejak saat itu, saya males ngomentarin kebiasaan dia beli mobil-mobilan itu. Takut malah jadi perkara. Tapi hati ini rasanya gedeg tiap dia beli mobil-mobilan itu.

Gimana, ya Mbak Lia. Apa yang sebaiknya saya lakukan.

Jawaban

Dear Mbak Yuni.

Mohon Maaf, Mbak Lia-nya sekarang sudah nggak di Mojok lagi, jadi untuk rubrik Curhat ini, sesekali saya yang pegang. Tadinya Prima yang seharusnya membalas curhatan Anda. Tapi berhubung saya dianggap lebih kompeten sebab saya sudah menikah, maka jadilah saya yang ditugasi untuk menjawab curhatan ini.

Pertama, mainan mobil-mobilan yang sering dibeli sama suami sampeyan itu namanya “diecast”. Yah, ini FYI aja sih. Sebagai wawasan tambahan saja. Siapa tahu suatu saat nanti, sampeyan masuk kuis ‘Who wants to be a Millionaire’-nya Om Tantowi Yahya itu, trus dapet pertanyaan “Apa sebutan mainan mobil-mobilan yang sering dibeli sama suami, jarang dimainkan, tapi lebih banyak buat difoto dan dipajang saja?” Siapa tahu, ya kan? 

Iklan

Nah, selanjutnya, untuk perkara kebiasaan suami sampeyan, ini bukan karena saya sebagai laki-laki trus jadi agak membela sesama laki-laki lho ya, tapi ini murni dari informasi saya yang saya dapat dari sumber yang layak ditempeleng, bahwasanya, kebiasaan suami membeli barang-barang “aneh” termasuk mainan itu tidaklah selamanya buruk.

Begini, lelaki, ehm, sebenarnya perempuan juga sih, butuh ruang pengalihan. Pengalihan dari apa? Ya banyak. Dari rutinitas pekerjaan, dari kehidupan rumah tangga, dari pergaulan, dan dari banyak hal. Eskapis. Hal yang bisa membuatnya sejenak melupakan rutinitas yang keras.

Nah, banyak lelaki menyalurkan pengalihannya itu pada mainan. Boleh jadi, itu adalah semacam dendam masa lalu yang saat kecil tidak pernah tertuntaskan. Saat kecil tak punya uang buat beli tamiya, pas sudah besar dan bisa cari duit sendiri, lalu mborong tamiya. Saat kecil nggak pernah bisa main tembak-tembakan, akhirnya pas gedhe dan punya banyak duit, jadi hobi main paint ball. Hal serupa juga terjadi pada obyek yang lain, bisa robot-robotan gundam, atau baju cosplay, atau komik, atau apa pun itu.

Nah, pada kasus suami sampeyan, dendam itu saya duga tumbuh ketika dia melihat diecast milik kawannya. Ia tertarik, kemudian membelinya, dan kemudian mendapat semacam kepuasan tersendiri, kemudian mulai membeli lagi dan lagi.

Apakah itu buruk? Tergantung dari sisi mana sampeyan melihatnya. Kalau sampeyan melihatnya dari sisi penghematan duit, ya pasti buruk. Apa pun itu, jika dilihat dari sisi penghitungan duit, ya pasti tampak buruk. Sampeyan pun kalau beli telur untuk dimasak dan dimakan, kalau dilihat dari sisi penghematan duit yang bisa jadi buruk juga. Argumennya “Ngapain beli telur kalau makan sama nasi dan garam saja sudah cukup buat bikin kenyang?” Atau beli jilbab bagus (Ngapain beli jilbab bagus kalau pakai mukena saja sudah cukup untuk menutupi aurat?), atau beli kasur spring bed (Ngapain beli spring bed kalau tidur di tiker aja juga sama-sama merem?)

Nah, tapi kalau dilihat dari segi yang lain, misal dari sisi psikologis, bisa jadi kebiasaannya itu justru baik. Misal dengan membeli mainan tersebut, suami sampeyan bisa jadi tambah senang. Bisa lebih semangat bekerja agar bisa membeli koleksi yang lain. Bisa lebih punya gairah hidup. Bisa punya lingkaran pergaulan baru sesama pengoleksi diecast.

Ingat, lelaki dewasa sejatinya adalah anak kecil yang terjebak pada tubuh yang lebih besar. Boys will be boys.

Saran saya, cobalah sampeyan belajar untuk memahami bahwa kebiasaan suami sampeyan itu termasuk bagian dari pengeluaran rekreatif. Sama seperti pengeluaran buat bayar internet, langganan netflix, nonton bioskop, dsb. 

Kita memang selama ini menganggap bahwa pengeluaran yang tidak dilihat sebagai sesuatu yang rekreatif dianggap sebagai pengeluaran yang mahal. Misal beli buku dianggap boros, sedangkan tapi beli tiket konser dianggap wajar. Padahal, keduanya sama-sama memberikan sesuatu yang, mungkin setara (karena memang tak bisa diukur). Buku memberikan pengetahuan, konser memberikan pengalaman. Dan keduanya tidak bisa dihitung secara nominal.

Sampeyan harus bisa memahami sembari membikin batas. Selama kebiasaan suami sampeyan membeli mainan itu tidak membuat uang sekolah anak jadi terlantar, tidak membuat uang tagihan listrik jadi telat, tidak membuat uang belanjaan jadi macet, tidak membuat stabilitas keuangan keluarga terganggu secara signifikan, juga tidak membuat suami sampeyan sampai harus menjual salah satu ginjalnya, maka biarkan saja.

Ingat, tidak semuanya harus diukur dengan cara pandang penghematan duit. Kalaupun harus dipaksa begitu, beli mobil-mobilan itu kan ya nggak rugi-rugi amat. Coba kalau yang dibeli sama suami sampeyan itu mobil betulan, bakal banyak biayanya. Dari beli bensin, service, cuci mobil, dll. Kalau beli mobil-mobilan kan nggak perlu beli bensin, nggak perlu keluar biaya cuci mobil, dan nggak perlu diservice juga, sebab sampai kiamat kubra nggak bakal itu mobil-mobilan turun mesin.

Begitu, Bu Yuni. Ini bukannya bentuk solidaritas sesama lelaki lho ya. Tapi ini memang penting untuk saya utarakan.

Terakhir diperbarui pada 15 September 2020 oleh

Tags: diecastmobilsuami
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO
Sehari-hari

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
Merintis Usaha Rumahan Tanpa Utang, Raup Omzet Puluhan Juta MOJOK.CO
Cuan

Cerita Saya Memulai Usaha Rumahan Kecil-kecilan Tanpa Utang Hingga Raup Omzet Puluhan Juta per Bulan, Kamu Mau Coba?

5 Mei 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja Mojok.co
Pojokan

Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja

14 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Coffee shop menjamur di Klaten MOJOK.CO

Buka Coffee Shop di Klaten Tanpa Ekspektasi Justru Ramai Dikunjungi, Tandai Tren Baru Warlok hingga Jadi Incaran Pelancong

5 Mei 2026
Kos dekat kampus lebih baik bagi mahasiswa

4 Tipe Teman yang Sebaiknya Dilarang Menginap di Kos Kita: dari yang Cuma “Modal Nyawa”, hingga Teman Jorok tapi Tak Sadar Kalau Dia Jorok

6 Mei 2026
Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
AstraPay berupaya memperkuat kontribusinya melalui inovasi layanan, edukasi ekosistem, serta pengembangan akses keuangan digital bagi UMKM di tengah pertumbuhan pembayaran atau transaksi digital (QRIS) MOJOK.CO

Membaca Peluang Ekonomi di Tengah Pertumbuhan Transaksi Digital, AstraPay Berkomitmen Bantu Tingkatkan Daya Saing UMKM

9 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.