Seandainya bisa minta izin tidak memenuhi panggilan KPK melalui surat, Om Setya Novanto pasti akan mengirim surat yang isinya tidak sedatar grafik detak jantung beliau di mesin EKG.

Kita yang rakyat jelata ini saja, zaman sekolah dulu, sudah memberikan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yang jelas kepada orang tua dan dokter untuk urusan izin itu: kalau urusannya keluarga, suratnya dari orang tua; kalau sakit, pakai surat dokter.

Nah, apalagi Om Setnov, yang sebagai ketua DPR punya wakil-wakil yang beragam status mereka di media sosial begitu puitis. Saya rasa kalau salah satu wakil beliau ditugasi membuatkan surat izin, bunyinya pasti tidak akan kalah mesra dengan surat bapaknya Amel yang pernah viral beberapa waktu lalu.

Kepada
Yth. Penyidiknya Pak Setnov
di Kantor KPK

Alangkah indahnya pagi ini, matahari bersinar terang, burung-burung pun bernyanyi riang. Bunga-bunga semerbak di taman dan tawon-tawon hinggap di atasnya, tapi hanya satu yang terlihat gagah dan menawan. Tapi, ibarat tawon, ada satu yang lagi lemes, yaitu Pak Setnov. Hari ini beliau tidak bisa datang memenuhi panggilan KPK dikarenakan sakit.

Semoga penyidiknya Pak Setnov tetap menjadi tawon yang paling gagah dan menawan dan semakin semangat ngentup. Amin.

Hormat kami,
Ttd.
Wakilnya Pak Setnov

Ngomong-ngomong, penyair T. S. Elliot pernah bilang, “April adalah bulan yang paling kejam.” Kalau di tempat kita sih, April adalah bulan yang paling ngindonesia karena di bulan ini, akan ada satu hari yang mana anak-anak se-Indonesia raya didandani dengan pakaian tradisional oleh orang-orang tua mereka untuk memperingati hari kelahiran R. A. Kartini, sang simbol emansipasi perempuan. Soal apa hubungan emansipasi perempuan dengan pakaian tradisional, jangan tanya sama saya, tanya sama ibu-ibu yang mendandani anak-anak mereka.

Kalau menurut saya, bulan yang paling kejam justru September. Tidak peduli sekeras apa pun Vina Panduwinata mencoba meyakinkan kita bahwa September bulan yang ceria, ingatan kita akan selalu kembali pada pertanyaan, “Mana Nasution?!” Kebetulan tahun ini filmnya diputar kembali setelah sekian waktu cuma bisa ditonton di YouTube. Mungkin untuk menyaingi film horor lawas Pengabdi Setan yang diproduksi ulang Joko Anwar.

BACA JUGA:  Tiga Pesepakbola yang Tingkahnya Mirip Donald Trump

Selain peristiwa G 30 S, yang menurut hitung-hitungan saya kejadiannya mestinya dianggap sudah masuk Oktober, beberapa peristiwa mengerikan juga (entah kenapa) terjadi di bulan September. Tahun ’72 ada pembantaian atlet di Munich, Black September. Menara kembar WTC di Amrik juga runtuh di bulan September. Dan, yang terakhir, di dalam negeri, masuknya Om Setnov ke rumah sakit setelah menerima panggilan KPK tadi, juga di bulan September. Mengerikan karena konon, kata orang, rumah sakitnya langsung sembuh begitu Om Setnov masuk sana.

Beruntung September bukan satu-satunya bulan yang harus kita lalui. Begitu September lewat, sepertinya semua hal-hal suram juga ikut pergi. Misalnya, orang sudah mulai jarang ngomongin PKI lagi. Apalagi penyebabnya kalau bukan karena ini sudah Oktober, bulannya tentara. Tanggal 5 Oktober kan hari TNI. Ini bulannya orang-orang gagah dan galak. “Iya, itu memang perintah saya. MAU APA?” Kurang galak gimana pernyataan Om Gatot itu?

Tapi, yang paling penting dari bulan Oktober ini (selain kuminis, tentara, senjata, dan panglimanya) ialah Om Setnov akhirnya wake up ketika September ends. Persis lagunya Green Day. Untuk para pegiat media sosial, saya rasa tidak ada kabar yang lebih menggembirakan daripada sembuh dan kembali beraktivitasnya Om Setnov. Soalnya, kemarin-kemarin kita semua sempat terperangkap pada dilema moralitas, antara nafsu untuk merisak tersangka korupsi dengan adat ketimuran yang melarang untuk ngrasani orang yang lagi sakit. Terutama yang grafik detak jantungnya sudah garis lurus.

Banyak orang mengira sembuhnya Om Setnov itu disebabkan oleh putusan bebas yang diberikan oleh Hakim Cepi beberapa hari sebelumnya (sumpah, itu Cepi yang lain!). Sekarang malah sudah sehat dan bisa mimpin rapat, haibat betul!

Terus terang ini kebiasaan buruk netizen kita: suka menyusun teori konspirasi. Jangan lupa, sakitnya Om Setnov itu borongan lo, seabrek-abrek dan berat semua. Hitung-hitung ada tujuh penyakit yang diidap oleh beliau: vertigo, gula darah, stroke, ginjal, flek di kepala, sama pengapuran dan penyempitan jantung (itu sakit apa Indomaret sih? Lengkap banget).

BACA JUGA:  Jumat Keramat, Bang Jonru Ditetapkan Sebagai Tersangka

Kalau keputusan tidak sahnya penetapan status tersangka Om Setnov bisa menyembuhkan itu semua, kalah dong batunya Ponari. Bisa bangkrut semua praktisi pengobatan alternatif yang sering bagi-bagi selebaran di lampu merah dan mengaku sudah menemukan ramuan untuk menyembuhkan segala jenis penyakit itu. Antrean orang yang berobat ke pengadilan bisa ngalah-ngalahin antrean orang sakit di klinik Tong Fang. Pak Jokowi dan pemerintahannya bisa untung besar kalau begitu. Lha semua orang bayar BPJS tapi nggak ada yang ngeklaim.

Intinya, kesimpulan saya sudah jelas: sakitnya Om Setnov tidak ada hubungannya dengan penetapan tersangka oleh KPK dan sembuhnya beliau juga tidak ada kaitannya dengan keputusan tidak sahnya penetapan tersangka tadi dari pengadilan. Semua itu bisa terjadi semata-mata karena September sudah berlalu dan digantikan bulan Oktober, selain karena ilmu kanuragan dan kesaktian yang memang dimiliki oleh Om Setnov sendiri sejak zaman Pak Harto. Mens sana in corpore sano, apa pun artinya itu.

Yang jelas, kalau benar dugaan saya bahwa Om Setnov dulu pernah mengirim surat izin untuk tidak memenuhi panggilan KPK, sekarang saya rasa giliran KPK mengirim surat balasan. Surat balasan itu bisa ngopas surat balasan ibu gurunya Amel kepada bapaknya.

Kepada
Wakilnya Pak Setnov
di tempat

Surat Bapak/Ibu sudah kami terima. Alangkah kagetnya kami saat mengetahui beliau sakit. Bagaikan petir di siang bolong hati kami gundah gulana membaca surat Bapak/Ibu. Tak terbayangkan perihnya hati kami. Hati kami hancur berkeping-keping.

Untunglah sekarang beliau sudah sembuh, jadi tidak akan beralasan sedang berobat ke luar negeri yang susah diprediksi kapan pulangnya. Kantor kami sepi tanpa suara dan derai tawa beliau.

Gedung KPK
Ttd.
Ketua KPK

N. B. Pak Setnov nggak ada rencana untuk umrah dalam waktu dekat kan?

No more articles