Tak Ada Lagi Racikan Cindil Tikus di Toko Obat Cina di Jogja

Di Yogyakarta, toko obat Cina, bisa dihitung dengan jari. Paling banyak di kawasan Malioboro. Kalah dengan obat paten, tak semuanya menjual obat racikan.

Saya memasuki sebuah toko di kawasan Malioboro. Toko Obat Eng Njan Hoo, itu tulisan yang terbaca dari papan kayu kecil berwarna coklat di atas pintu masuknya. Saya disambut interior etalase kayu, rak kayu tinggi dengan banyak laci, dan deretan guci Cina saat masuk ke dalam toko obat yang juga dikenal dengan sebutan Toko Obat Enteng.

Di depan saya, sepasang suami istri tengah menyampaikan keluhannya ke anak muda berusia 30-an. Usai mendapatkan obat yang dicari, saya bertanya ke suami istri tersebut apa yang mereka cari. “Saya cari obat asam urat dan rematik. Sama cari obat pelumas sendi untuk ibunya,” kata laki-laki paruh baya yang tidak mau dituliskan namanya. Mereka berdua keluarga Batak yang sudah lama tinggal di Yogya. Setiap mereka sakit, toko obat Cina jadi jujugan. Alasannya sederhana, karena cocok.

Rico, pewaris Toko Obat Enteng, setelah melayani suami istri  yang membeli obat mengatakan, rata-rata orang yang datang ke tokonya merupakan pelanggan. Mereka biasanya datang karena sudah merasa cocok dengan obat yang mereka sediakan.

Beruntung Rico mau menerima tawaran wawancara dari Mojok. Dari total 7 toko obat China yang saya datangi, 4 menolak saya wawancara dengan berbagai alasan. Di kawasan Malioboro, ada dua toko yang menolak, satu di Jalan K.H. Ahmad Dahlan dan satu lagi di Jalan Solo. Tolong dicatat ya, toko obat Cina yang saya maksud ini bukan toko obat kuat yang belakangnya pakai ‘eng-eng’ yang banyak di Jogja. Toko obat yang saya maksud dalam liputan kali ini adalah toko obat tradisional.

Kepada Rico saya bertanya, kenapa interior toko obat China sepertinya serupa? Menurutnya, itu memang pakem dari hampir semua toko obat China tradisional. Etalase kayu, rak kayu tinggi dengan banyak laci, dan deretan guci Cina itu seperti ciri khas, apakah itu toko obat China di kota kecil, kota besar atau bahkan di negara lain. Interior tersebut bukan sekadar hiasan, sebagian memang fungsional. Seperti laci-laci kayu yang jumlahnya banyak dan disusun tinggi, digunakan untuk menaruh bahan obat racikan. Sedangkan, guci digunakan untuk menaruh obat racikan yang sudah jadi.

Menurut Rico, di Yogyakarta, toko obat Cina dapat dihitung dengan jari. Di Kawasan Malioboro sendiri, saat ini, hanya tersisa lima toko obat Cina. Banyaknya toko obat di kawasan ini kemungkinan karena memang dekat dengan kawasan Pecinan di Yogya, yaitu kawasan Ketandan.

Menurut Rico yang merupakan generasi ke-4, Toko Obat Enteng merupakan salah satu yang tertua di Yogya. Setahunya, tokonya sudah berusia seratus tahun lebih. Berdiri tahun 1920-an setelah kakek dan nenek Rico menikah. Kakek dari Rico adalah seorang imigran yang datang dari Cina daratan, kemudian menetap di Kota Jogja. Sedangkan nenek dari Rico, jug ada datang dari Cina yang menetap di Kabupaten Bantul dan menekuni usaha jamu tradisional Jawa. Keduanya kemudian sepakat untuk membeli toko di Kawasan Malioboro dan membuka Toko Obat Cina Eng Njan Hoo atau Enteng dipadukan dengan jamu tradisional Jawa. Konon katanya, di daratan Cina, penduduk desa dengan marga Yu memiliki profesi yang sama, yaitu membuat obat Cina.

Bagi Rico, sejak kecil, Toko Obat Cina Eng Njan Hoo ibarat taman bermainnya. Meskipun tidak sempat bertemu sang kakek, Rico kecil sudah menemani pakde dan ayahnya yang meneruskan usaha Toko Obat Cina Eng Njan Hoo yang berganti nama menjadi Toko Obat Cina Enteng. Ketika pembeli datang, Rico mencuri dengar pembicaraan pakdenya yang menjelaskan mengenai obat Cina kepada pembeli sembari duduk di meja kayu.

Beranjak dewasa, Rico sering kali membantu pakdenya untuk menyiapkan obat Cina milik pembeli atau membantu meracik obat Cina. Waktu itu, obat Cina racikan masih diminati oleh masyarakat. Rico kemudian meneruskan pendidikan di sebuah universitas negeri ternama dan mengambil Jurusan Biologi. “Bukan sekadar mencari uang atau tidak ingin bersusah payah dengan berganti profesi, namun meneruskan Toko Obat Cina Enteng adalah menjaga warisan dan mewujudkan baktiku terhadap tempat yang telah menjadi saksi hingga aku dewasa,” ungkap Rico yang mengemban amanah menjadi pemilik setelah pakde dan ayahnya meninggal dunia.

Baca juga:  Rekomendasi Mie Ayam di Jogja Versi Info Mie Ayam YK

Sedikit pun Rico tidak pernah menghilangkan interior atau mengubah tata letak dari Toko Obat Cina Enteng. Mempunyai latar belakang keluarga yang cukup konservatif, Rico baru melakukan inovasi belakangan ini. Inovasi yang dilakukan bukan pada interior, melainkan hanya pada macam obat dan pelayanan saja. “Saya bersyukur karena dilahirkan dengan keluarga yang cukup saklek, sehingga interior toko obat Cina ini tidak berubah sejak awal hingga sekarang ini,” ungkap generasi ke-4 Toko Obat Enteng.

Inovasi lainnya yang dilakukan Rico adalah melakukan jemput bola agar bisa bersaing. Selain itu, karena masyarakat mulai beralih ke transaksi online ia pun menyediakan fasilitas tersebut dan merambah transaksi dan konsultasi online melalui WhatsApp. Sayangnya Toko Obat Cina di Kawasan Malioboro ini tidak merambah platform transaksi online di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia karena merasa kalah dari distributor besar di Jakarta.

Tak ada sinse, obat racikan menghilang

Deretan laci dan guci berisi obat herbal yang saat ini tidak lagi digunakan. Foto oleh Briggita Adelia.

Deretan laci dan guci berisi obat herbal yang saat ini tidak lagi digunakan. Foto oleh Briggita Adelia.

Dengan interior yang mirip, Toko Obat Cina Tya An Tjan berada di seberang Toko Obat Enteng. Pemiliknya saat ini Joedhowen (70) atau Ameng, yang meski usianya semakin menua namun semangatnya untuk melayani pembeli masih tinggi.

Ameng, berkisah tentang Toko Obat Cina Tay An Tjan yang keberadaannya sudah sejak tahun 1936 atau delapan puluh lima tahun yang lalu. Masa itu juga, obat Cina racikan masih sangat terkenal di masyarakat, khususnya penduduk Kampung Pecinan di Kawasan Malioboro. Obat Cina racikan yang terkenal adalah obat untuk ibu setelah melahirkan dan obat rematik. Munculnya obat Cina paten menjadi akhir perjalanan obat Cina racikan di Toko Obat Cina Tay An Tjan.

Kini, Toko Obat Cina Tay An Tjan tidak lagi meracik obat Cina sendiri, melainkan mengambil dari tengkulak. Sedangkan obat Cina paten diambil dari distributor besar di Jakarta. “Berbeda dengan di Jakarta dan Semarang, di Yogyakarta sudah tidak ada sinse. Sehingga saat ini obat Cina racikan sudah tidak laku,” ungkap Ameng menjelaskan di depan meja kayu yang berfungsi sebagai meja kasir.

Sinse atau tabib memang sudah tidak terdengar gaungnya di Yogyakarta. Dahulu, mereka dikenal sebagai pengobat alternatif. Sinse atau tabib tradisional Cina biasanya mempunyai pengetahuan turun-temurun tentang khasiat tumbuh-tumbuhan dan hewan yang dapat dijadikan bahan dasar obat racikan cina.

Menurut Ameng, sinse mempunyai ilmu akupunktur yaitu ilmu yang menunjukan dan menyembuhkan penyakit hanya dengan menekan telapak tangan. Titik di telapak tangan akan memunculkan warna khusus bila organ yang berhubungan terkena penyakit. Sinse akan menuliskan resep dengan aksara Cina sebagai panduan untuk meracik obat. Namun, saat ini di Yogya, sinse sudah hilang ditelan masa. Sebagai gantinya, konsultasi terkait kesehatan biasanya dilakukan dengan pemilik toko obat Cina itu sendiri.

Masih menyusuri kawasan Malioboro, toko obat Cina lainnya yang menarik perhatian adalah Toko Obat Cina Tek An Tong. Jika dari Toko Obat Enteng, maka letaknya hanya terpaut dua toko dan sebuah Jalan, yaitu Jalan Pajeksan. Lebih sering dikenal dengan Toko Sumber Husodo, letaknya tepat di pinggir jalan. Toko Obat Sumber Husodo ini paling luas dibanding yang lainnya. Tembok bagian atasnya berwarna cokelat dengan tulisan besar nama toko obat Cina ini.

Interior dalamnya masih seperti dua toko sebelumnya, lemari kayu besar dan tinggi dengan banyak laci dan guci yang berjejer. Hanya saja sudah tidak semua etalasenya terbuat dari kayu. Semakin masuk ke dalam toko, terlihat beberapa gantungan cina yang menjuntai dari langit-langit dan pajangan cina. Sayang, saat berkunjung, pemilik Toko Obat Cina Sumber Husodo sedang pergi ke luar kota, sehingga toko dititipkan pada adiknya.

Baca juga:  Lim Wen Sin, Tionghoa yang Memilih Bersama Petani di Kaki Merapi

Tidak banyak informasi yang didapatkan. Sebut saja Budiarjo, kira-kira umurnya sudah setengah baya. Masuk ke dalam toko sembari membawa tentengan nasi bungkus, ia terlihat menyambut dengan ramah. Di dekat meja kasir, terdapat papan putih yang bertuliskan nama seorang apoteker wanita. Menurut Budiarjo, apoteker itu adalah anak dari kakaknya yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan farmasi di Jakarta dan baru saja menikah.

Menurut regulasi yang ditetapkan pemerintah, toko obat Cina harus mempunyai apoteker layaknya apotek. Hanya saja, apoteker di toko obat Cina diperkenankan ada hanya kadang-kadang saja. Sedangkan, jika apotek pada umumnya, apoteker harus berjaga sesuai jam buka apotek. Sehingga, toko obat Cina hanya menyediakan obat Cina dan obat modern yang dijual bebas, tidak dapat melayani resep dokter.

Toko Obat Cina Sumber Husodo sudah berdiri sejak sembilan puluh satu tahun yang lalu. Kepada Mojok.co, Budiarjo menunjukkan deretan foto pemilik toko dengan berbagai tokoh penting. Meskipun masih melayani obat Cina racikan, namun obat Cina paten lebih banyak dicari. Budiarjo berjalan tergesa menuju depan toko. Tangannya menunjuk ke spanduk yang berada tepat di pintu masuk. Fufang Ejiao Jian untuk memelihara kesehatan dan Pien Tze Huang untuk luka setelah operasi, kedua obat itulah yang paling ramai dicari di Toko Obat Sumber Husodo.

Di Toko Obat Enteng, racikan yang paling laris juga obat setelah luka operasi. Sejak dulu obat itu banyak dicari oleh orang-orang yang sehabis melakukan operasi.

Dulu obat Cina memanfaatkan hewan

Menurut Rico, jika mengulik tentang obat Cina racikan, bahan dasarnya dapat menyentuh angka ribuan. Pada dasarnya, semua tumbuhan dan hewan memiliki manfaat bagi kesehatan. Di masa lalu, obat Cina racikan sebagian diantaranya cukup membuat mual bagi yang mendengarnya. Jika pernah mendengar tentang arak yang dicampur dengan cindil atau anak tikus, ternyata hal itu memang benar adanya. Bahkan, bukan hanya cindil sebagai campurannya, ada pula embrio dan empedu hewan lainnya. Dahulu, ketika di Jawa Tengah masih mempunyai banyak area hutan, binatang rusa menjadi incaran untuk diburu, terlebih rusa yang sedang mengandung.

Katanya, embrio rusa yang dicampurkan dengan arak putih, semakin lama akan semakin banyak khasiatnya, dan semakin tinggi juga harganya. Tidak hanya embrio rusa yang digunakan, darah dari tanduk rusa juga bermanfaat sebagai obat kuat, yang sudah terkenal dari jaman Kaisar Cina. Selain itu, ada pula landak Jawa yang diambil kulitnya dan cacing tanah yang dikeringkan, keduanya digunakan untuk obat. Sungguh bahan dasar itu mungkin akan membuat bergidik ngeri dan merasa kasihan dengan binatang. Tenang saja, sekarang semua itu hanya sebatas cerita.

“Saat ini, tidak semua binatang dapat menjadi obat karena telah ada regulasi internasional dan regulasi nasional seperti BPOM dan Halal. Menurutku itu hal yang bagus, karena tidak membunuh dan menyakiti binatang,” ungkap Rico, pemilik Toko Obat Cina Enteng yang mengaku sangat sayang dengan binatang.

Meliana (38) sepupu Rico yang juga membantu mengelola Toko Obat Enteng mengatakan, racikan obat yang dijual berbeda dengan racikan di zaman dulu. Ia membuka laci dan menunjukan aneka herbal yang ada di dalamnya. “Ini sudah kedaluwarsa, sudah lama banget. Ini zamannya susuk (Pak lik). Sekarang racikannya ada yang dalam bentuk kapsul,” kata perempuan yang akrab dipanggil Lia.

Soal racikan dari hewan, Lia membenarkan, kalau pun mungkin ada misalnya cacing yang digunakan untuk obat tipes. Dulu, cacing kering ditumbuk kemudian dibungkus dengan kertas dan diserahkan pasien. Sekarang biasanya sudah tersedia dalam bentuk kapsul.

Baca juga:  Kalau Ngeyel dan Nggak Minum Antibiotik Sampai Habis, Terus Kenapa?

Sedang, Toko Obat Cina Tay An Tjan saat ini lebih banyak menjual obat Cina paten. Ketika ditanya tentang informasi obat cina paten, Ameng, menunjukkan sebuah kotak dus dengan warna biru putih. Lianhua Qingwen Jiaonang Capsule, itulah yang tertulis di bagian depan. Penjelasan lainnya tertulis dalam aksara Cina. Ameng menjelaskan Lianhua Qingwen Jiaonang Capsule sedang ramai diburu masyarakat. Pasalnya, obat itu dianggap sebagai obat covid-19. “Padahal tidak mungkin jika itu obat covid-19. Obat itu sudah ada, jauh sebelum covid-19 ada. Namun, memang Lianhua Qingwen Jiaonang Capsule ini bisa untuk menyembuhkan gejala covid-19 karena pada dasarnya untuk mengobati influenza, seperti batuk, pilek, dan demam,” jelas Ameng terkekeh.

Alasan obat Cina mahal

Harga obat Cina tidak murah, baik obat Cina racikan ataupun obat Cina paten. Satu kemasan obat Cina harganya berkisar puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Sebenarnya yang membuat obat Cina mendapat julukan obat mahal karena langsung banyak dalam sekali beli, membayar semua secara utuh, dan tidak ditanggung BPJS. Meski kenyataannya mahal itu relatif.

Toko Obat Sumber Husodo atau Tek An Tong di Malioboro. Foto oleh Brigitta Adelia.

Toko Obat Sumber Husodo atau Tek An Tong di Malioboro. Foto oleh Brigitta Adelia.

Rico, pemilik Toko Obat Cina Enteng menceritakan pengalamannya dalam melayani pembeli. “Pernah suatu ketika ada pasien dengan radang usus buntu. Pergi ke rumah sakit harus operasi karena sudah hampir pecah. Namun karena keterbatasan biaya, disarankan oleh temannya pergi ke toko obat Cina. Hasilnya, pasien itu mengeluarkan biaya yang lebih murah daripada harus membeli obat di rumah sakit dan melakukan operasi,” ungkap Rico sembari menjejerkan obat racikan.

Rico memang selalu berkata jujur dengan pasiennya, ketika memang obat Cina bisa membuat sembuh tanpa harus operasi, ia akan menyarankan hal itu bagi pasiennya. Namun, jika memang sudah tidak ada obat yang bisa digunakan, ia tetap menyampaikan keadaan sebenarnya, dan menawarkan obat sesuai kebutuhan, seperti pereda rasa sakit saja. Bagi Rico, tidak harus kabar baik yang diterima oleh pasien, kabar buruk juga tidak apa-apa, yang terpenting pasien dapat paham dengan kondisinya.

Rumor pun beredar, entah kabar burung dari mana yang menyatakan bahwa obat Cina tidak baik bagi kesehatan ginjal. Padahal, tidak hanya obat Cina yang tidak baik bagi kesehatan ginjal, obat kimia akan memiliki efek yang lebih parah. Karena itulah mengapa setiap minum obat, dianjurkan untuk banyak minum air putih.

Saat apotek mulai berlomba-lomba membuka cabang, menunjukkan diri yang paling baik dengan membuat ruangan yang luas, desain interior yang menarik, dan pelayanan yang semakin terdepan, toko obat Cina masih tetap menjaga ciri khas dengan tampilan yang sering disebut kuno. Bukan kuno, namun otentik. Satu kata itu seperti lebih pas untuk mengambarkan toko obat Cina saat ini. Meskipun demikian, toko obat cina masih ada di hati pelanggan tetapnya dan pelan-pelan bertambah. “Tidak terlalu banyak yang beli ke toko obat Cina ini, ya sedang saja,” ungkap Budiarjo, adik pemilik Toko Obat Cina Sumber Husodo.

Pemilik toko  juga mengakui jika di tokonya ada obat yang kosong, akan meminta pelanggan datang ke toko obat Cina lainnya. “Mencari obat itu seperti mencari jodoh, cocok-cocokan. Selain itu, kuncinya adalah kita harus memperlakukan orang lain sebaik mungkin, jangan terlalu di bawah dan jangan terlalu di atas, posisikan diri kita setara dengan orang lain, itulah kunci membuat orang lain merasa nyaman,” pungkas Rico.

Matahari mulai tenggelam. Kawasan Malioboro tidak sepi malam itu meski pembatasan sosial masih berlaku. Saya kembali memasuki beberapa toko obat Cina di kawasan ini. Beberapa pemilik enggan diwawancarai. Mungkin karena masih memiliki kesibukan lain, atau menjaga privasi.  Tak terasa pintu-pintu toko mulai tertutup, pukul sembilan malam, aktivitas sudah berhenti. Mereka akan kembali membuka kembali toko obat Cina di esok hari. Sambil berharap, masih ada yang membeli obat warisan leluhur mereka.

BACA JUGA Jamu Ginggang Pakualaman, 5 Generasi Menjaga Tradisi dan liputan menarik lainnya di rubrik SUSUL.