Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

Redaksi oleh Redaksi
29 Maret 2026
A A
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

Ilustrasi - Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa. (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Suasana berbeda tampak di kawasan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (28/3/2026) pagi. Di area pedestrian sisi utara, puluhan peserta dari berbagai kalangan tampak antusias mengikuti kelas Sinau Aksara Jawa dalam program “Setu Sinau”.

Melalui kelas Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro itu, peserta dikenalkan pada aksara Jawa dasar (nglegena), pasangan aksara, hingga sandhangan. Tidak hanya teori, mereka juga langsung mempraktikkan penulisan aksara Jawa dengan pendampingan instruktur dari komunitas aksara Geber Jawa Semesta Mahardika, Syafaat Noor Rohman, bersama tim. Suasana belajar pun berlangsung santai dan interaktif meski digelar di ruang terbuka.

Mereka yang ingin nguri-uri aksara Jawa

Peserta yang mengikuti kelas Sunai Akasara Jawa di Jalan Malioboro ini beragam. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Tapi mereka punya semangat yang sama: memahami guna melestarikan aksara Jawa sebagai warisan budaya Jawa.

Bahkan ada mahasiswa dari Taiwan yang mengikuti. Namanya Yang Tsai I (Cherry), seorang mahasiswi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada asal Taiwan.

“Belajar aksara Jawa bagi saya cukup sulit, tetapi karena ada sistemnya jadi lebih mudah dipahami. Semoga semakin banyak orang yang bisa ikut kegiatan ini,” ujarnya.

Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro MOJOK.CO
Ilustrasi – Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro. (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Antusiasme juga datang dari orang tua yang mendampingi anak-anak mereka. Misalnya Septi, warga Krapyak. Ia menilai kegiatan ini penting untuk mengenalkan budaya sejak dini.

“Bagus, pembelajarannya menarik, sehingga anak-anak terutama generasi muda bisa lebih paham tentang budaya, khususnya aksara Jawa,” katanya.

Setu Sinau di Jalan Malioboro: upaya mengenalkan budaya Jawa dengan cara menarik

Kelas Sinau Aksara Jawa ini merupakan gelaran kedua yang diinisiasi oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.  Sinau Aksara Jawa merupakan bagian dari program “Setu Sinau” yang digelar di Jalan Malioboro pada pukul 07.00 hingga 09.00 WIB.

Selain aksara Jawa, “Setu Sinau” juga menghadirkan berbagai kelas budaya lain seperti sinau nggamel, sinau njoged, sinau ngadi busana, sinau nggambar, hingga sinau dolanan anak. Seluruh aktivitas dirancang sebagai ruang belajar budaya terbuka yang dapat diikuti masyarakat secara gratis.

Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro MOJOK.CO
Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro. (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

Setu Sinau mencoba menghadirkan ruang edukasi budaya di kawasan publik. Melalui pendekatan interaktif, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berharap pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam proses belajar.

Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini pihaknya ingin menghadirkan pembelajaran budaya yang dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda.

Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro MOJOK.CO
Peserta Setu Sinau antusias mengikuti Sinau Aksara Jawa di Jalan Malioboro. (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

“Aksara Jawa dan berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” ujarnya.

Kehadiran “Setu Sinau” turut menghidupkan Jalan Malioboro sebagai ruang edukasi, tidak sekadar destinasi wisata. Sejumlah pengunjung yang awalnya hanya berolahraga atau berjalan santai pun tampak berhenti untuk menyaksikan bahkan mengikuti kegiatan yang berlangsung.

Program ini diharapkan mampu menumbuhkan ketertarikan masyarakat untuk mengenal dan melestarikan budaya Jawa, sekaligus memperkaya pengalaman wisata budaya di Yogyakarta.***(Adv)

Iklan

BACA JUGA: Aksara Jawa Bukan Sekadar Mantra Berbau Klenik, Bisa Menyelamatkan Hidup jika Dipahami Secara Sains atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Maret 2026 oleh

Tags: aksara jawajalan malioboromalioborowisata jogjawisata yogyakartaYogyakarta
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO
Bidikan

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Liburan bareng keluarga di Candi Prambanan, Yogyakarta. MOJOK.CO
Eksplor

Liburan Sekolah Bareng Keluarga di Candi Prambanan Terasa Beda Sekaligus Lega, Banyak Kegiatan Menarik yang Nggak Bikin Dompet Boncos

1 Juli 2026
MLSC, Yogyakarta.MOJOK.CO
Eksplor

Redemsi Yogyakarta All Stars, Menolak Pulang Lebih Awal

26 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.