MOJOK.CO Bu Wati dan suaminya terpaksa memindahkan angkringan mereka demi menghindari ancaman makhluk halus yang menyeramkan.

Di sebuah sudut jalan dekat kampus swasta, pada tepat pukul 1 malam, Bu Wati mulai membereskan aneka makanan yang ia jual di angkringan. Angkringan Bu Wati, namanya—sedikit tidak kreatif tapi cukup simpel memberikan identitas. Ia membereskan meja angkringan dengan penuh ketelatenan. Caranya mengelap meja mengingatkan kita akan seni bela diri taichi: lembut, tapi bersih. Tidak terlalu kuat, tapi mantap.

Bu Wati tak sendirian, ia ditemani oleh suaminya tiap melaksanakan ritual closing. Tak usah heran; itu kan sudah jelas—seorang istri ditemani suaminya. Ya kali ibu-ibu paruh baya disuruh sendirian beresin dagangannya?! Suami macam apa yang tega melakukan hal seperti itu?! Yang jelas, sih, bukan suami Bu Wati yang selalu siaga alias siap-antar-jaga.

Saat ritual pemberesan aneka rupa dagangan sisa hampir selesai, tiba-tiba saja datang seorang perempuan yang ingin makan. Emang dasar Bu Wati orangnya baik, ia mempersilakan perempuan tersebut untuk memilih makanan yang ada sembari mengeluarkan kembali aneka rupa makanan dan jajanan yang sudah ter-packing dengan rapi.

Dengan sigap, perempuan tersebut mencomot satu per satu makanan yang ada di hadapannya: nasi terilah, sate keonglah, tahu bacemlah—semuanya ia kumpulkan jadi satu tepat di depannya. Si perempuan pun tampak siap menghabiskan porsinya dengan cepat.

Bu Wati yang sedang asyik bergumam “Ham hem ham hem” melantunkan lagu lama andalannya, duduk di hadapan si perempuan. Kepalanya menunduk memandangi layar hapenya yang sedang memutar video musik penyanyi kesukaannya, ketika tiba-tiba ia merasakan ada pandangan tajam diarahkan padanya.

Si perempuan memandangi Bu Wati dalam-dalam, tampak seperti orang yang ingin berkata sesuatu, tapi ditahan-tahan. Bu Wati jadi salah tingkah, tiba-tiba ia menyadari betapa malam telah bertambah larut.

Udara dingin berembus cukup kencang, diiringi suara burung hantu samar-samar. Mendadak, Bu Wati agak sedikit merinding. Biasanya, jalanan di sini sudah sepi selepas pukul 1 malam, tapi kenapa perempuan ini tiba-tiba datang? Apakah ia harus mengecek ke bawah untuk melihat keadaan tubuh bagian bawah si perempuan: menapakkan kaki atau melayang?

Baca juga:  Refleksi Sebulan Bom Surabaya: Ke Gereja Sekarang Berasa ke Barak Tentara

“Bu…” ujar si perempuan akhirnya. Suaranya lirih. Bu Wati tiba-tiba teringat adegan Suzanna berkata, “Satenya, Bang,” di film horor. Ia bermaksud memanggil suaminya, tapi suaranya sendiri seperti tertahan di tenggorokan.

“Bu,” kata si perempuan itu lagi, kali ini sambil berdiri (“Dia berdiri atau melayang?!”), “Sendoknya mana?”

Owalah!

Antara merinding dan lega, Bu Wati menjanjikan sendok pada si perempuan. Ia segera pergi ke belakang untuk mencari sendok yang sebelumnya telah dirapikan oleh suaminya.

Saat mengambil sendok di bagian belakang angkringan, Bu Wati melihat suaminya tergeletak di pos ronda dekat angkringan. Dalam hati, Bu Wati membatin, “Wooo lah, Bapak kok malah turu. Hmm, kekeselen paling.” Merasa bodo amat, Bu Wati kembali ke depan untuk mengantarkan sendok tersebut.

Sesampainya di depan, Bu Wati mendapati perempuan tersebut sudah tak ada di posisinya lagi. Iya, saya ulangi: perempuan tadi sudah tidak ada di posisinya lagi. Makanan yang tadi diambilnya masih tertata di atas meja, tanpa si calon konsumen. Bu Wati, lagi-lagi, merasa merinding. Dalam hati, ia memaki-maki keadaan, “Gimana, sih, ini Bapak! Udah tahu tengah malam ngeriin, kok malah istrinya ditinggal tidur!”

Selang beberapa detik, Bu Wati mendengar suara wanita terkikik. Meski masih ketakutan, ia mengikuti arah suara hingga di luar terpal angkringannya. Di tepi jalan, ia bisa melihat perempuan tadi sedang berdiri membelakanginya sambil menempelkan hape di telinganya.

“Oh, mbaknya lagi telepon,” ujar Bu Wati pada dirinya sendiri.

Merasa lega, ia berbalik masuk ke angkringannya, tapi…

Baca juga:  Pocong Hutan dan Hantu Wanita Penggemar Sepak Bola

…betapa terkejutnya ia melihat sesosok perempuan duduk di dalamnya, juga membelakanginya. Bu Wati hanya mampu melihat rambut hitamnya. Meski kaget setengah mati, ia berusaha menguasai diri. Kali ini, ia bertekad tak akan kecele lagi. Sudah jelas, daritadi ia cuma merasa ketakutan tak beralasan. Pokoknya sekarang, ia tak akan lagi berpikir aneh-aneh!

“Mau makan apa, Mbak?” tanya Bu Wati dengan sopan.

Si wanita ini menoleh, hingga Bu Wati melihat apa yang sedari tadi ia takutkan. Pakaian wanita ini berwarna putih, tapi penuh kotoran lumpur seperti baru saja bergulung di tanah. Wajahnya hancur separuh, penuh dengan darah segar yang menetes hingga ke dagu. Senyumnya kaku, mengerikan, dan ibarat mimpi paling seram yang pernah ia lihat.

Bu Wati langsung berteriak sejadi-jadinya, sekuat-kuatnya. Saking takutnya, Bu Wati sampai menggeledak tak berdaya dan pingsan.

Bu Wati tak kunjung sadar, hingga azan Subuh terdengar. Angkringannya tak jadi dikemasi malam itu.

“Bu, bu,” suami Bu Wati, Pak Widodo, menepuk-nepuk pipi istrinya, mencoba untuk membuatnya tersadar.

“Tadi malam setelah mencuci sendok,” kata Pak Widodo, segera setelah istrinya terbangun, “aku disamperin perempuan pakai baju putih, rambutnya panjang, mukanya berdarah. Aku mau teriak kasih tau Ibu, tapi suara nggak bisa keluar. Baru saja aku diberi tahu orang yang berlari pagi, daerah ini memang angker. Katanya, dari dulu, penunggu di sini tak suka dijadikan tempat berdagang. Kita pindah mulai besok, ya.”

Tanpa banyak bicara, Bu Wati mengangguk. Dua hari kemudian, mereka telah berpindah ke area yang lain untuk mendirikan angkringan. Anehnya, mereka juga mendapat kiriman terpal, lengkap dengan spanduk bertuliskan ‘Angkringan Bu Wati’ di atasnya—tanpa identitas nama pengirim.

Spanduk yang mereka terima warnanya putih, tapi penuh kotoran lumpur seperti baru saja digulung di tanah.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles