Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Terima Kasih Bu Susi, Sudah Angkat Derajat Lulusan Kejar Paket C

Ahmad Yasin oleh Ahmad Yasin
16 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti baru saja lulus Kejar Paket C. Sebagai sesama “warga belajar” saya bangga. Terima kasih ya Bu Susi.

Baiklah saya akan langsung terus terang. Jadi begini, saya ini adalah lulusan Kejar Paket C. Saat kemarin sedang ribut-ribut sistem zonasi sekolah, hati saya agak sesak.

Iklan

Bagaimana tidak? Saya yang lulusan Kejar Paket C ini tentu minder mau nimbrung perdebatan itu, misalnya tentang kekhawatiran orang tua siswa yang anaknya (dianggap) pintar tetapi tidak bisa masuk sekolah favorit.

Padahal, sesungguhnya, saya gemas sekali ingin mempertanyakan balik orang-orang tua itu, memang anak pintar itu yang seperti apa sih? Apapun makanannya minumnya tolak angin?

Akan tetapi, benak saya tiba-tiba mengerem, lha wong cuma lulusan Kejar Paket C kok ikut campur? Tahu apa soal anak pintar kalau cuma punya selembar ijazah sekolah nonformal begitu? Tahu apa soal kebanggaan punya anak pintar, kalau Kejar Paket C dipilih karena putus sekolah formal?

Serangkaian pertanyaan di atas bermunculan karena berangkat dari stigma tentang Kejar Paket C. Ada semacam persepsi yang muncul di sekitar saya, bahwa Kejar Paket C adalah sekolah bagi mereka yang dulunya tidak sanggup di SMA. Entah dikeluarkan karena nakal, urusan keluarga, politik, bahkan sampai urusan ekonomi.

Pada akhirnya Kejar Paket C atau sekolah kesetaraan lainnya muncul sebagai pilihan terakhir. Umumnya, mereka yang memutuskan jadi “warga belajar”—tuh, dari penyebutan untuk peserta didiknya saja dibedakan dengan sekolah formal—mencari ijazah setara SMA hanya untuk melamar pekerjaan yang lebih baik. Sederhana sekali bukan? Situ yang pengennya dapet NEM selangit dan dapat gelar ijazah dari sekolah favorit tentu gengsi dong kalau sampai masuk Kejar Paket C kayak saya? Idih, najis.

Cita-cita sebagian besar warga belajar yang sederhana itu, terutama yang dulu jadi teman sekelas saya, memang sangat tidak prestisius. Ini disebabkan pada kenyataan bahwa para warga belajar rata-rata sudah jadi pekerja.

Dengan demikian, sukar untuk menyisihkan waktu belajar, apalagi sampai memikirkan konsep ruang publiknya Jurgen Habermas atau berkubang dalam diskursus post-truth kayak antum-antum lulusan sekolah pascasarjana.

Kalau boleh berasumsi, persentase kepentingan untuk belajar dengan bekerja pada praktinya memang cukup timpang, yakni 30:70. Rata-rata orang belajar untuk Kejar Paket C benar-benar untuk sambilan. Kalau bisa segera lulus ya syukur, kalau nggak ya tahun depan coba lagi.

Asumsi ini berangkat dari kesimpulan sederhana saya saja. Soalnya di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) saya dulu, para warga belajar biasanya tetap nyambi menjalani pekerjaan sehari-hari. Itulah kenapa jadwal kegiatan belajarnya juga menyesuaikan, cuma tiga hari dan dimulai tiap pukul 7 malam.

Satu kali pertemuan cuma satu mata pelajaran. Alokasi waktu kegiatan belajarnya paling mentok juga cuma 2 jam. Rata-rata usia warga belajar di atas 20 tahun. Praktis, saya menyadari kalau stigma yang dilekatkan pada Kejar Paket C itu; bodoh, bebal, tumpul, sekolah nggak pakai seragam, udah gitu tua lagi.

Ya gimana, hal begitu saya alami sendiri. Sekitar lima tahun lalu, waktu pertama kali masuk Kejar Paket C, saya mulai diliputi stigma tersebut. Apalagi status saya baru keluar dari sebuah SMK di Yogyakarta setelah cuma betah satu semester. Terlebih, semua teman di kampung yang seumuran saya sudah nyaman di sekolah formal cum favorit.

Melihat teman sebaya bergegas ke sekolah tiap pagi, mengenakan seragam rapi, dengan mulut penuh obrolan tentang PR, rasanya saya pengen menarik diri ke Gua Hiro’.

Efek domino akibat menyandang status “warga belajar” pun akan semakin terasa ketika Lebaran. Dari Pakde, Bude, Paklik, Bulik, semua kompak mengalamatkan pertanyaan kepada keponakan-keponakan meraka.

“Kamu sekarang sekolahnya di mana, Nak?”

Jika orang lain lain bisa mantap menjawab, “SMA Negeri anu, Pakde,” atau “STM Negeri una, Paklik.”

Lha saya kalau ditanya begitu?

Iklan

“Kejar Paket C, Bude.” Dijawab dengan malu-malu plus mode getar.

Akan tetapi, semua itu berubah ketika mendengar kabar bahwa Bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan, baru saja lulus ujian Kejar Paket C dengan nilai yang yaaah gak bagus banget sih, tapi jadi lulusan terbaik se-kabupaten.

Atas capaian Bu Susi ini, stigma tentang Kejar Paket C pun pada akhirnya jadi ikut keangkat derajatnya. Ya meski mungkin tidak secara langsung, tapi bagi saya pribadi, jadi kebanggaan buat orang-orang kayak saya.

Benar bahwa kebanyakan orang yang sekolah di Paket C itu para pekerja, tetapi bukan berarti harus main pukul rata menilai ambisi semangat belajar orang-orang kayak saya ini begitu rendah. Kami juga bekerja keras lho. Jelas dong, kami ini belajar dengan lebih berat karena harus belajar pada usia yang lebih senior (dibaca aja: tua).

Bayangkan saja, daya ingat sudah menurun, stamina sudah nggak prima, mata kadang ngeblur karena udah katarak atau harus pakai kacamata plus, itu belum persoalan seperti harus berkumpul dengan berbagai teman beda latar belakang yang tidak segampang anak satu kelas sekolah formal. Jika anak sekolah formal mah enak, disamakan karena usia, warga belajar di Kejar Paket C kayak saya disamakan karena satu hal juga sih: nasib. Dan kami dipersatukan oleh penderitaan stigma yang sama.

Meski begitu, biar dikata sekolah kelas dua, nyatanya ijazahnya disetarakan juga kok dengan SMA. Orang-orang lulusan Kejar Paket C tetap bisa melamar bekerja di tempat yang membutuhkan ijazah minimal SMA. Bahkan juga berhak mendaftar di universitas mana pun walau menyandang status lulusan sekolah nonformal. Nyatanya saya sekarang bisa diterima kuliah di kampus negeri juga.

Hal ini menunjukkan, bahwa kualitas lulusan Kejar Paket C ya sama normalnya kok dengan yang lain. Nggak ada bedanya tuh. Yang beda ya cuma itu tadi; stigma.

Maka, setelah mendengar kabar bahwa Bu Susi Pudjiastuti baru saja dinyatakan telah lulus Kejar Paket C, hati saya ini makin mantap untuk mendaku: saya juga lulusan Kejar Paket C lho, Bu Susi.

Ayo deh, kapan-kapan kita bikin reuni temu alumni, Bu. Tapi yang traktir Bu Susi ya? Ya iya dong, saya kan senior Bu Susi.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2018 oleh

Tags: Bu SusiJurgen HabermasKejar Paket CLebaranmenteri kelautan dan perikananPKBMpost truthPRSMASMA NegeriSTMSTM NegeriSusi Pudjiastutiwarga belajarYogyakartazonasi
Ahmad Yasin

Ahmad Yasin

Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah UNY. Aktif di Pers Mahasiswa Ekspresi. Tinggal di Kotagede, Jogja.

Artikel Terkait

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA Yogyakarta. MOJOK.CO

Fikih Hijau ala Masjid Walidah Dahlan UNISA: Masjid sebagai Mercusuar Peradaban dan Konservasi Lingkungan

22 Agustus 2026
ilustrasi MBG

Kisah Pilu Pegawai SPPG: Sering Dicap Ikut Korupsi Anggaran MBG, Padahal Niat Bekerja Sepenuh Hati

21 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Pameran foto dalam Pesta Rakyat Jogja guna memeriahkan acara HUT ke-81 RI. MOJOK.CO

Potret Warga Jogja: Asyik “Pesta” Saat Pejabat sedang Upacara HUT ke-81 RI di Gedung Agung

17 Agustus 2026
Sri Sultan HB X dan Dubes Qatar siapkan kejutan program event di Yogyakarta dari kerja sama di bidang kesenian dan kebudayaan MOJOK.CO

Usai Temui Sri Sultan HB X, Dubes Qatar Siapkan Kejutan Program Event Kebudayaan di Yogyakarta

3 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.