Arsip Artikel: Ahmad Effendi
1,521 ArtikelJurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.
Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak
Sate taichan di Senayan adalah makanan paling nanggung. Tidak terlalu buruk di lidah, tapi juga jauh dari kesan enak.
Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
Penyelenggaraan Indonesia Masters 2026 punya tajuk “pesta rakyat”. Manifestasinya berupa tiket murah mulai Rp40 ribu dan hiburan bagi warga.
Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan
Kasus kekerasan yang menimpa seorang siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, kembali membuka luka lama dunia pendidikan. Ia terjadi karena buruknya pendekatan pedagogis.
Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya
Franz Kafka menulis Metamorphosis 100 tahun lalu. Namun, relevansinya pada pekerja urban hari ini semakin terasa.
Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota
Alfamart 24 jam adalah saksi perjuangan pekerja di Jakarta yang menolak istirahat. Mereka terus terjaga dan bekerja demi bertahan di tengah kerasnya ibu kota.
Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan
Nongkrong sendiri di kafe bukanlah gaya hidup anak muda Jakarta Selatan, tetapi strategi untuk bertahan secara ekonomi dan mental di kota yang mahal dan melelahkan.
Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan
Bus Sumber Alam memang tak mewah. Namun, ia menjadi andalan orang-orang biasa di jalur selatan yang tidak mengejar kecepatan.
5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku
Lima tahun tinggal di sebuah kos horor Jogja, Robi menyadari bahwa yang lebih horor bukanlah gangguan demit, tetapi susahnya hidupnya dengan mahalnya kota ini.