Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Fragmen

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Maret 2026
A A
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO

Ilustrasi - Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Docang adalah makanan khas Cirebon yang lekat dengan ajaran rendah hati Sunan Gunung Jati. Kuliner yang awalnya dianggap sebagai “makanan orang susah” ini, di tangan sang Wali, dibuat naik kelas.

***

Iklan

Menjadi panglima angkatan laut Kesultanan Cirebon pada abad ke-15 nyatanya tak melulu berurusan dengan perang di lautan. Bagi Ki Gede Bungko, salah satu ujian terbesarnya justru terjadi di dapur istana.

Suatu hari, Sunan Gunung Jati kedatangan rombongan tamu penting yang tidak terduga. Berdasarkan catatan tradisi lisan yang pernah dihimpun oleh filolog dan sejarawan Cirebon, mendiang Dr. R. Opan Safari Hasyim, diceritakan bahwa sang Wali kemudian menyuruh Ki Gede Bungko–si mantan penguasa lautan yang sudah memeluk agama Islam–untuk segera menyiapkan makanan.

Masalahnya, stok bahan makanan di dapur sedang menipis. Tidak ada daging ternak atau makanan mewah yang tersisa untuk disajikan.

Namun, Ki Gede Bungko tidak kehabisan akal. Seperti yang dicatat oleh pakar gastronomi UGM, Prof. Murdijati Gardjito dalam bukunya Makanan Tradisional Indonesia, masyarakat pesisir kala itu memang punya kecerdasan bertahan hidup yang tinggi. 

Ki Gede Bungko pun mengumpulkan bahan-bahan yang saat itu dianggap sebagai “makanan orang susah”. Antara lain daun singkong yang tumbuh liar, tauge, parutan kelapa, dan ampas tahu atau bungkil kacang yang sudah difermentasi sampai baunya menyengat, diberi nama dage.

Siapa sangka, ketika bahan-bahan sisa itu dicampur dan disiram kuah panas yang gurih, para tamu istana justru sangat menyukainya. Di kemudian hari, makanan darurat hasil racikan Ki Gede Bungko ini dikenal luas oleh masyarakat dengan nama docang.

Docang dianggap cuma ampas, tapi disajikan jadi menu keraton

Sikap Sunan Gunung Jati yang tenang saat menyajikan hidangan sederhana kepada tamu pentingnya bukanlah kebetulan. Hal itu sejalan dengan cara hidup dan gaya dakwahnya. 

Lahir pada tahun 1448 Masehi dengan nama Syarif Hidayatullah, ia sebenarnya punya keturunan bangsawan yang sangat kuat. Dari ayahnya, Syarif Abdullah Umdatuddin, ia mewarisi keturunan penguasa dari Timur Tengah. Dari ibunya, Nyai Rara Santang, ia adalah cucu langsung Prabu Siliwangi, raja dari Kerajaan Pajajaran.

Sebagai pemuda keturunan raja, Syarif Hidayatullah hidup berkecukupan. Namun, ia lebih memilih pergi jauh untuk menuntut ilmu agama. Sebelum datang ke tanah Jawa, ia belajar bertahun-tahun di Makkah, Mesir, sampai Pasai. Di tempat-tempat itu ia belajar agama Islam sekaligus mengenal banyak budaya asing.

Pengalaman belajar itulah yang membentuk sifatnya ketika ia kembali ke Cirebon dan memimpin pemerintahan. Sebagaimana dicatat oleh sejarawan Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo, keberhasilan Islamisasi di Nusantara sangat bertumpu pada pendekatan kultural dan toleransi. 

Praktik inilah yang dijalankan penuh oleh Sunan Gunung Jati. Saat menyebarkan agama Islam, ia memilih cara yang merakyat. Ia tidak suka membeda-bedakan kelas sosial keraton dan mau bergaul dengan orang biasa. 

Prinsip ini mirip sekali dengan perjalanan semangkuk docang, di mana bahan ampas seperti dage berhasil diolah dan diangkat kelasnya menjadi makanan yang pantas disajikan di meja pejabat keraton.

Makanan sisa yang masih bisa dimanfaatkan

Jika kita melihat lebih dekat isi semangkuk docang tadi, kita akan paham mengapa makanan ini disebut sangat merakyat. Isiannya tidak ada yang mahal: potongan lontong sebagai pengganti nasi, daun singkong rebus, tauge segar, taburan kelapa parut, remasan kerupuk aci, dan yang paling menentukan rasanya adalah kuah dage.

Apa sebenarnya dage itu? 

Dage adalah bahan makanan yang terbuat dari ampas tahu atau bungkil kacang (sisa dari perasan pembuat minyak goreng) yang diragikan atau didiamkan sampai sedikit membusuk. 

Bagi orang modern di zaman sekarang, makan dari bahan sisa mungkin terdengar aneh atau kurang sehat. Tapi pada zaman dahulu, ini adalah bentuk kecerdasan warga pesisir dalam bertahan hidup.

Iklan

Prof. Murdijati Gardjito, pernah membahas hal ini dalam bukunya yang berjudul Makanan Tradisional Indonesia. Menurutnya, makanan seperti docang membuktikan bahwa masyarakat pesisir Cirebon zaman dahulu sudah paham konsep pantang membuang makanan. Kini, konsep itu populer dengan sebutan zero-waste. 

“Orang zaman dulu tahu persis bagaimana cara mengolah bahan sisa agar tetap bisa dimakan, mengenyangkan, dan gizinya tetap terjaga,” kata Murdijati dalam bukunya, dikutip Senin (9/3/2026).

Kondisi alam pesisir pantai yang kadang sulit ditebak membuat warganya harus kreatif. Mereka tidak bisa selalu makan daging. Docang membuktikan bahwa makanan enak tidak harus selalu dibuat dari bahan mahal. Makanan ini juga menjadi simbol kesetaraan kelas sosial. Sebab, apa yang biasa dimakan oleh rakyat kecil nyatanya juga bisa dinikmati dan dipuji oleh para wali dan pejabat istana.

Falsafah rendah hati ala Sunan Gunung Jati dalam wujud dage

Di balik urusan mengenyangkan perut, docang juga menyimpan nilai-nilai agama yang sering diajarkan oleh Sunan Gunung Jati. Dalam ajaran agama Islam, ada ilmu yang fokus pada kebersihan hati yang disebut tasawuf. Salah satu ajaran pentingnya adalah sifat tawadhu atau rendah hati. Sifat rendah hati ini sangat pas digambarkan melalui bahan dage.

Secara fisik, dage berasal dari ampas sisa buangan. Bentuknya kusam, tidak menarik, dan baunya cukup menyengat hidung. Namun, setelah diolah dengan benar dan dicampur dengan bumbu rempah-rempah yang pas, dage berubah wujud menjadi kuah docang yang hangat dan sangat sedap saat disantap.

Hal ini sering dipakai untuk menggambarkan sifat manusia. Ulama besar ahli tasawuf, Imam Al-Ghazali, dalam kitab monumentalnya Ihya Ulumuddin, juga mengingatkan bahwa manusia sama sekali tidak punya alasan untuk sombong, karena asal muasal fisiknya bersumber dari hal yang “hina”.

“Aku titipkan masjid dan fakir miskin” 

Pemahaman tasawuf yang mendalam inilah yang dipraktikkan langsung oleh Sunan Gunung Jati dalam hidupnya. Berdasarkan catatan Babad Cirebon, sebelum datang ke tanah Jawa, Syarif Hidayatullah sebenarnya ditawari untuk meneruskan takhta kerajaan ayahnya di Timur Tengah (Mesir/Bani Ismail). 

Namun, ia menolak kemewahan istana tersebut. Ia justru memberikan takhta itu kepada adiknya (Syarif Nurullah), dan lebih memilih berlayar jauh untuk membaur bersama rakyat jelata di pesisir utara Jawa.

Bukti paling konkret dari sifat rendah hatinya terekam abadi dalam wasiat terakhirnya (petatah-petitih) yang kini menjadi semboyan hidup masyarakat Cirebon: “Ingsun titipna tajug lan fakir miskin“ (Aku titipkan masjid dan fakir miskin).

Sebagai seorang Sultan yang memimpin keraton dan panglima perang yang ditakuti musuh, wasiat utamanya menjelang wafat bukanlah menjaga harta kekayaan, perluasan wilayah, atau kemegahan istana. Pikiran dan hatinya justru tertuju ke “bawah”: kepada tempat ibadah yang sederhana (tajug) dan rakyat yang paling melarat (fakir miskin).

Karakter kerakyatan inilah yang membuat Sunan Gunung Jati memiliki pandangan berbeda saat dihadapkan pada makanan sisa. Ketika banyak orang elite memandang ampas sisa seperti dage dengan tatapan jijik–karena wujudnya yang kusam dan baunya yang menyengat–Sang Sunan justru melihat potensi kebaikan di dalamnya.

Lewat semangkuk docang, Sunan Gunung Jati seolah menerjemahkan kitab tasawuf tebal dan wasiatnya ke dalam bahasa yang mudah dicerna rakyat. Sesuatu yang tampak remeh, melarat, dan terbuang seperti dage–atau manusia yang berasal dari debu tanah–jika diperlakukan dengan penuh penghargaan, dibekali iman, dan perbuatan baik (yang diibaratkan seperti racikan bumbu rempah), maka ia akan berubah menjadi sosok yang “mulia” bagi sekitarnya.

Kisah Sunan Gunung Jati yang diracun docang

Saking terkenalnya docang di tengah masyarakat Cirebon, akhirnya muncul cerita-cerita dongeng dari mulut ke mulut. Cerita yang paling sering terdengar sampai sekarang adalah tentang seorang tokoh sakti bernama Pangeran Rengganis.

Pangeran Rengganis diceritakan sebagai orang yang sangat benci dengan ajaran Islam yang dibawa oleh Wali Songo. Menurut cerita rakyat itu, Pangeran Rengganis sengaja mengumpulkan sisa-sisa makanan kotor, lalu mencampurnya dengan racun mematikan. 

Hidangan beracun itu kemudian disajikan kepada para Wali Songo yang sedang berkumpul di masjid. Ia berharap para wali akan memakannya dan mati keracunan.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Sunan Gunung Jati dan para wali memakan hidangan beracun itu, dan tidak terjadi apa-apa pada tubuh mereka. Bukannya mati, mereka malah memuji masakan itu sangat enak.

Tentu saja, bagi orang zaman sekarang, cerita racun ini sangat susah diterima oleh akal sehat. Almarhum Dr. R. Opan Safari Hasyim, seorang ahli naskah kuno dan budayawan senior Cirebon, pernah menjelaskan maksud di balik cerita aneh ini. Menurutnya, cerita racun Pangeran Rengganis itu tidak boleh ditelan mentah-mentah sebagai sebuah kejadian nyata.

Kisah itu sebenarnya adalah sebuah perumpamaan atau sindiran tentang keadaan politik pada masa itu. “Racun mematikan” adalah gambaran dari rasa benci, kemarahan, dan penolakan keras dari kelompok lama terhadap ajaran Islam yang dibawa Sunan Gunung Jati.

Lalu, kenapa para wali dalam cerita itu tetap memakan racunnya? Itu melambangkan sikap Sunan Gunung Jati yang membalas kebencian bukan dengan angkat senjata atau berperang. Sunan menghadapi penolakan itu dengan kesabaran, merangkul mereka dengan lembut, dan mengajak mereka berdialog. 

Pada akhirnya, sikap sabar itulah yang membuat rasa benci warga luluh dan berbalik menjadi dukungan—persis seperti racun yang diceritakan berubah menjadi rasa makanan yang nikmat.

Tapi kini kurang diminati anak muda

Sayangnya, cerita kehebatan docang di masa lalu kini mulai berbanding terbalik dengan kenyataan di masa sekarang. Makanan penuh sejarah ini perlahan mulai susah dicari keberadaannya. Di jalanan kota Cirebon saat ini, menemukan warung yang menjual docang asli tidak semudah mencari penjual Nasi Jamblang atau Empal Gentong.

Beberapa kampus sudah meneliti fenomena ini. Misalnya, riset yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mengenai pariwisata kuliner. Penelitian tersebut menemukan bahwa keberadaan docang mulai terancam hilang karena beberapa sebab nyata.

Alasan pertama, proses pembuatan ampas dage yang asli ternyata memakan waktu yang cukup lama dan butuh kesabaran ekstra. Karena repot dan keuntungannya tidak seberapa, banyak pembuat dage yang akhirnya berhenti produksi. 

Akibatnya, banyak penjual docang saat ini terpaksa mengganti dage asli dengan tempe biasa yang dibiarkan membusuk (sering disebut tempe semangit). Walaupun secara rasa agak mirip, aroma, tekstur, dan kekentalan kuahnya tentu sedikit berbeda dari resep aslinya di zaman Sunan Gunung Jati.

Alasan kedua adalah pergeseran selera makan pada anak-anak muda zaman sekarang. Banyak anak muda yang lebih memilih makan makanan cepat saji bergaya luar negeri atau jajanan kekinian yang sering viral di media sosial. 

Tampilan docang yang sangat sederhana–hanya sayuran bersiram kuah keruh–sering dianggap kurang menarik untuk difoto atau dipamerkan. Docang perlahan tersingkir oleh gaya hidup modern.

***

Pada akhirnya, semangkuk docang Cirebon bukanlah sekadar urusan lidah dan perut kenyang. Dari zaman Ki Gede Bungko meracik bumbu di dapur istana hingga hari ini, docang adalah sebuah catatan sejarah yang bisa dihirup aromanya dan dicicipi rasanya.

Jika suatu hari nanti kuah docang yang asli benar-benar hilang dari tanah Cirebon, kerugian kita bukan sekadar kehilangan satu menu sarapan pagi. Lebih dari itu, kita juga akan kehilangan sebuah pengingat dari masa lalu; sebuah bukti nyata tentang cara manusia bertahan hidup, pentingnya bersikap rendah hati, dan indahnya menyelesaikan permusuhan dengan cara yang damai.\

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rasa Sanga (4): Tasawuf Ala Sunan Giri dalam Olahan Kuliner Kupat Keteg yang Dibuat di Tengah Perbukitan Kapur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2026 oleh

Tags: cirebonCirebon Jawa BaratDocangKuliner CirebonlipsusOncompilihan redaksirasa sangasunan gunung jatisyarif hidayatullahWali Songo
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
fotografer wisuda

Suka Duka Fotografer Wisuda: Senang Mengabadikan Momen Bahagia Tapi Sial Karena ‘Harga Teman’

23 Agustus 2026
Universitas Terbuka (UT).MOJOK.CO

Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri 

27 Agustus 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)sebagaimana terjadi di Kalimantan tidak bisa direduksi sekadar memadamkan api, ada gambut yang rusak MOJOK.CO

Karhutla Terus Berulang karena Pihak Berwenang Cukup Puas Padamkan Api, Akar Masalah Tereduksi

24 Agustus 2026
Jombang makin kegilaan karnaval sound horeg: battle audio tengah malam, atraksi lampu jadi perburuan baru MOJOK.CO

Jombang Makin “Kegilaan” Sound Horeg: Battle Audio Tengah Malam, Atraksi Lampu Jadi Tren Kalcer Baru

23 Agustus 2026
Alma Odai "Cucurella" Diburu Fans, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu MOJOK.CO

Alma Odai “Cucurella” Diburu Fans di Srikandi Merdeka Cup, Pemain Thailand Disukai karena Lucu-lucu

22 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.