Arsip Artikel: Ahmad Effendi
1,521 ArtikelJurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.
Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah
Hajatan nikah itu nggak penting. Ia cuma menjadi ajang pamer orang tua kepada tetangga. Sementara anak malah hidup menderita.
Cuaca Ekstrem Tak Menentu, Pakar UGM: Bukti Nyata Perubahan Iklim
Cuaca ekstrem tak menentu belakangan ini jadi bukti nyata perubahan iklim. Menanggapi kondisi ini, UGM mendesak masyarakat untuk segera mengambil langkah nyata berupa mitigasi dan adaptasi guna mencegah kerusakan lingkungan yang lebih parah.
Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja
Lulusan Akuntansi memilih kerja sebagai tukang pijat. Profesinya dihina, tapi hidupnya lebih bahagia. Pendapatan dua kali UMR Jogja.
Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
Tongkrongan semakin membosankan dan toksik gara-gara game online. Mereka sibuk mabar, dan kita malah dicap nggak asyik kalau tak ikut main.
Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli
Di desa, guru dianggap profesi mulia. Namun, di kota, hidupnya sengsara. Gaji kecil, tak pernah dihargai oleh negara.
Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami
Nongkrong di usia 30 sudah tidak sama lagi. Teman makin jompo, obrolan pun makin membosankan. Tapi saya bisa memaklumi.
Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
Bagi para perantau di kota, membangun rumah megah di kampung halaman memang membanggakan. Paling tidak, bisa memenuhi standard kesuksesan di desa. Namun, bagi narasumber Mojok, langkah ini malah bikin ibu kesepian dan menderita.
Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang
Bersih desa kini kehilangan telah kehilangan makna. Tradisi sakral ini cuma jadi ajang buang-buang uang. Lebih baik dihapus saja.