• 33
    Shares

MOJOK.COToilet perempuan tidak hanya untuk membuang hajat kita, namun juga untuk touch up make-up dan mencari musuh.

Setelah menonton film di bioskop, saya sering langsung menuju ke toilet terdekat. Untuk melepaskan HIV (hasrat ingin vivis), setelah ditahan mati-matian. Karena merasa tanggung untuk meninggalkan begitu saja film yang sedang diputar. Ataupun tampilan kredit pemainnya, ya, siapa tahu menemukan kejutan di sana. Tentu saja, butuh ke toilet tapi tidak segera menuju toilet setelah film telah usai, menjadikan tempat tersebut sudah penuh. Semua sibuk mengantre. Menunggu gilirannya masing-masing.

Masalah mengantre di toilet ini, juga sering berujung pada sebuah pertengkaran. Karena ada yang merasa kebutuhan buang hajatnya paling penting dibandingkan lainnya. Supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan tersebut, dibuatlah aturan mengantre yang baik. Biar rapi dan efisien, sekaligus memiliki asas berkeadilan.

Bagi perempuan, masalah toilet ini memang sedikit ribet, ya. Banyak perempuan yang sering merasa perlu ditemani jika ingin pergi ke toilet. Hal ini dikarenakan ada perasaan kurang nyaman jika harus pergi ke toilet sendirian.

Ya, mohon maaf. Bagi perempuan, masalah pertoiletan tidak sesimpel itu. Terkadang kita membutuhkan teman perempuan ke toilet untuk berjaga-jaga jikalau terjadi sesuatu. Semisal, ternyata engsel pintunya rusak. Nah, kalau kayak gini kan temen ceweknya itu bisa bantuin megangin. Selain itu, temen cewek ini bisa jadi temen ngobrol. Misal kalau toiletnya lagi kosong dan sepi, biar nggak serem. Ataupun supaya nggak mati kutu kalau lagi ngantre.

Oh ya, masalah antre di toilet ini, ada aturannya loh. Dulu, saya besar di sebuah kota kecil, sehingga saya tidak terlalu memahami aturan ini. Karena, di kota saya ketika itu tidak ada mall atau gedung bioskop yang mumpuni. Sehingga, ketika saya pergi ke toilet, yang sering terjadi, saya tidak perlu mengantre. Kalau mengantre pun, juga tidak pernah sampai panjang, jadi saya bisa langsung mengantre di depan pintu toiletnya saja.

Baca juga:  Apa Jadi Perempuan Mandiri yang Bekerja itu Menyalahi Kodrat?

Namun syukurlah, ketika SMA saya berkesempatan mengantre toilet di sebuah mall di kota Surabaya. Karena tempatnya di mall, sehingga orang yang mengantre pun lebih banyak. Di sini akhirnya saja belajar mengantre toilet dengan cara yang benar. Terima kasih kepada mbak-mbak yang tanpa sadar mengkondisikan saya untuk mempelajari sesuatu yang baru itu.

Jadi, begini cara yang baik untuk mengantre di toilet perempuan itu. Sebenernya hal ini sangat sederhana: jangan mengantre dengan berdiri tepat di depan pintu toilet. Berdirilah di ujung lorong. Hal ini memungkinkan orang yang lebih dulu datang, juga akan memasuki toilet terlebih dahulu.

Ada beberapa manfaat, loh ketika kita bersedia mengantre toilet dengan benar.

Pertama, mengantre di depan pintu toilet langsung, menjadikan orang yang lebih dulu datang, belum tentu berhasil masuk ke toilet terlebih dahulu juga. Jatuhnya memang untung-untungan, ya. Apakah kita menunggu di depan pintu yang dapat terbuka dengan cepat atau ternyata kita justru menunggu di depan pintu di mana orang di dalamnya sedang butuh berlama-lama di sana. Jadinya kan nggak adil, ya.

Kedua, dengan mengantre yang baik, kita juga akan berlajar untuk lebih menghormati kebutuhan orang lain. Jangan sampai, karena kondisi tidak sabaran kita, dengan alasan kita sedang kebelet parah, seolah-olah hanya kebutuhan kita sajalah yang butuh dimaklumi. Kita juga harus berpikir, bahwa orang lain pun memiliki kebutuhan yang sama. Ya, mau gimana, ini tuh tempat umum, tauk! Bukan toilet di rumahmu!

Ketiga, hal ini akan membuat orang yang sedang menjalankan hajatnya di dalam, tidak perlu merasa was-was. Ia justru akan lebih merasa nyaman dan tenang. Saya sering merasakan sendiri, ketika seseorang memilih mengantre di depan pintu toilet, sedangkan saya sedang berada di dalam, saya merasa kurang tenang ketika sedang enak-enak membuang hajat. Pasalnya, saya merasa di luar ada orang yang sedang menunggu. Sehingga saya punya perasaan kurang tenang. Seperti ingin cepat-cepat menyelesaikan ritual tersebut. Merasa sungkan dengan orang yang sudah mengantre lama. Apalagi kalau orang yang antre sudah tidak sabaran pakek drama gedor pintu! Hmmm, perasaan ingin terpuaskan itu lenyap sudah~

Baca juga:  Anakku Ora Pinter Matematika Ora Popo, sing Penting Akhlak e Pener

Banyak kesempatan lain di kehidupan saya, yang menunjukkan tidak semua perempuan memahami hal itu. Saya pernah sedang kebelet banget. Benar-benar keadaan kebelet yang susah ditahan dan sudah kepikiran bakal ngompol. Ketika saya masuk toilet, semua bilik sudah terisi. Saya menjadi pengantre pertama.

Sebagai warga negara yang baik, saya mencoba untuk mengantre sesuai dengan aturan yang tidak tertulis itu. Beberapa orang yang datang setelah saya pun, juga melakukan hal yang sama. Saya lega karena tidak mungkin diserobot. Namun kelegaan saya itu tidak berlangsung lama. Ketika ada pintu yang terbuka, tiba-tiba ada mbak-mbak di belakang yang langsung aja nyelonong ke depan. Berjalan memasuki toilet yang baru saja kosong itu.

Saya ingin menegur. Apalagi karena saya adalah orang pertama yang mengantre di sana. Tapi saya tuh orangnya gicik masalah ngeprotes orang secara langsung kayak gitu. Beruntunglah ada mbak-mbak lain yang langsung ngingetin mbak yang nyerobot itu untuk ngantri dengan bilang, “Mbak, antri dari belakang dong!”

Ternyata, mbak yang nyerobot itu nggak terima. Mereka pun adu mulut. Walau mbak yang nyerobot tadi mundur perlahan karena mendapat ‘tatapan kebelet’ dari para perempuan di sana, dengan keberanian yang tersisa, dia tetap jawab protes dari mbak-mbak tersebut. Luar biasa.

Saya sebagai orang yang ternyata pasif, memilih diam saja. Lalu masuk ke pintu toilet lain yang terbuka kemudian. Sambil di dalam hati merasa berterima kasih dengan mbak-mbak yang berani menegur itu. Beruntung, ada mbak-mbak seperti itu di dunia pertoiletan kita.

Hmmm, bagaimanapun juga, toilet perempuan memang sering jadi sarang bikin emosi karena kemasukan orang-orang yang slonongwati seperti itu.