MOJOK.COBanyak orang yang protes karena ada orang tua yang memilih membawa anaknya nonton bioskop. Lantaran, hal ini sungguh menganggu penonton yang lain. Ah, masak sih, ganggu?

Ramai orang-orang protes soal betapa tidak bijaknya orang tua membawa anaknya nonton bioskop apalagi untuk film yang tidak sesuai usianya. Lha, memangnya kenapa? Kenapa dikatakan tidak bijak? Bukankah menonton bioskop adalah hak asasi setiap manusia? Kenapa kok harus mendiskriminasi orang lain dengan melarang-larang mereka untuk menonton? Memangnya kita ini siapa?

Nonton bioskop adalah salah satu hiburan yang lumayan terjangkau untuk masyarakat kelas menengah ke atas. Jadi, tidak mengherankan kalau hiburan ini menjadi salah satu alternatif kegiatan yang bisa dilakukan di tengah waktu luang. Tinggal pilih film, pilih jam tayang, pesen tiket, duduk, dan menikmati perasaan yang digonjang-ganjing oleh tontonan yang disajikan. Tanpa harus capek-capek atau bahkan mengeluarkan keringat, tidak jarang film tersebut bahkan bikin adrenalin kita melunjak-lunjak.

Jadi, wajarlah kalau nonton bioskop adalah kegiatan hiburan sejuta umat. Baik di waktu senggang, maupun di waktu yang nggak senggang-senggang amat. Dan nggak aneh, kalau orang tua yang masih punya anak kecil pun jadi pengin ikutan nonton. Meskipun, soal orang tua yang bawa anak kecil ke bioskop ini sering kali mendapat sorotan negatif dan penuh kecurigaan dari penonton bioskop yang lain.

Tapi betapa jahatnya kita yang langsung tidak nyaman dan aman waktu ada orang tua yang membawa anaknya nonton bioskop. Coba bayangkan kalau kita yang berada di posisi mereka. Meski ada yang menyarankan sebaiknya tidak membawa anak ke bioskop karena anak bisa dititipkan dan sebagainya. Oh, tidak semudah itu untuk menitipkan anak, Kisanak.

Pertama, belum tentu para orang tua tersebut punya pengasuh yang bisa membantu untuk menjaga anak mereka ketika ditinggal-tinggal. Oke tidak sekadar pengasuh, tapi juga keluarga atau saudara lain yang dapat diberikan kepercayaan untuk dimintai bantuan tanpa rasa sungkan. Jadi, membawa anak ke manapun si orang tua ini pergi menjadi satu-satunya solusi yang bisa dilakukan, karena memang pada dasarnya tidak punya pilihan yang lain.

Baca juga:  Seruan untuk Emak-emak Muda: Nikmatilah Duniawi Jangan Salahkan Jokowi

Kedua, nonton bioskop bergantian dengan pasangan juga tidak semudah itu dilakukan. Para orang tua ini juga pengin quality time dengan keluarga kecil mereka. Jadi tolonglah, sedikit dimengerti. Kalau gantian nontonnya, di mana letak quality time-­nya???!! Itu kan jadinya kayak nonton sendirian doang. Terus apa bedanya sama waktu dulu belum nikah dan nggak punya pasangan ataupun teman dekat yang bisa diajakin nonton bioskop? Masak udah “berinvestasi” punya pasangan halal dan udah punya anak, nggak ada yang nemenin waktu nonton? Hmmm? Sedih, tauk!!!

Lagian ya, seberisik-berisiknya seorang anak di dalam bioskop, nggak bakal juga sampai bikin obrolan di film itu nggak terdengar sama sekali. Itu suara di sound bioskop keras, loh! Ya kali, kalau ada satu makhluk saja yang berisik, langsung bikin nggak kedengeran satu bioskop. Hadeeehhh, nggak usah terlalu overthinking lah!

Ya kalau memang nggak mau ada yang ganggu, jangan nonton di bioskop umum. Sewa aja tuh satu studio untuk diri sendiri. Pasti nggak ada yang berisik-berisik dan menganggu kenyamanan dalam menonton~

Mohon maaf, nih, janganlah hanya menyalahkan anak kecil doang sebagai pengganggu utama dalam kenikmatan nonton bioskop. Jangan lupa, ada penganggu-penganggu lain yang juga sering kali muncul dalam suasana hikmad tersebut. Lha wong, jangankan anak kecil, anak-anak yang udah SMA bahkan orang dewasa aja, masih ada yang berisik pas nonton. Entah itu ngobrolin soal pemeran di filmnya, lagunya yang bikin galau, alur filmnya yang sudah dia ketahui dari spoiler-spoiler di media sosial, nggosipin temennya sendiri yang tiba-tiba nggak bisa ikut nonton karena lagi berusaha baikan sama pacarnya. Atau malah, nggak men-silent hapenya dan nerima telpon dengan suara keras tanpa rasa sungkan sama sekali.

Baca juga:  Mengkritik Acara Motivasi yang Isinya Membayangkan Orang Tua Meninggal

Padahal, jelas-jelas mereka ini udah gede dan bisa mengontrol dirinya sendiri. Beda sama orang tua yang udah punya anak dan pengin nonton bioskop. Mereka tentu saja nggak ada niat untuk bikin anaknya berisik, kan? Jadi, semua yang terjadi di situ betul-betul tidak bisa dia kendalikan. Bisa jadi, dia sudah berusaha untuk ngajakin anaknya ke bioskop pas jam tidurnya supaya nanti nggak rewel. Tapi nyatanya, namanya juga anak-anak, sering kali muncul kejutan dan hal yang nggak terduga dari mereka.

Jadi, para orang tua ini juga nggak mau kalau anaknya berisik. Dia juga malu kalau anaknya menganggu orang lain. Apalagi sampai ditatap dengan pandangan yang nggak enak dari penonton yang lain, malunya bisa meningkat berkali-kali lipat. Jadi, nggak heran kalau tiba-tiba muncul reaksi nyolot dari orang tua tersebut ke orang yang menatapnya dengan pandangan terganggu tadi.

Belum lagi, kenyataan sesungguhnya kalau orang tua itu juga butuh hiburan. Nonton bioskop untuk film anak-anak, biasanya tidak cukup menghibur bagi orang dewasa. Tolonglah dipahami, bagaimana mereka pengin sedikit saja menghibur diri di tengah tuntutan hidup yang ada. Percayalah, kalau mereka sanggup bayar pengasuh dan bisa sewa bioskop satu ruang sendiri, juga nggak bakalan kayak gitu, kok, keadaannya.

Ah, susah memang buat sedikit berempati sama urusan orang lain. Dasar aku~