Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jangan-Jangan, FaceApp Hadir Sebagai Protes Terhadap Penggugat Evi Apita?

Audian Laili oleh Audian Laili
18 Juli 2019
A A
FaceApp Evi Apita MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Editan foto jadi lebih cantik kayak Evi Apita, diprotes. Tapi kalau foto jadi tua pakai FaceApp, kok nggak? Padahal kan, sama-sama editan.

Akhir-akhir ini ramai orang-orang membagikan hasil foto tuanya melalui aplikasi FaceApp. Entah karena penasaran ataupun merasa khawatir terhadap wajah tuanya. Yang pasti, aplikasi ini ternyata dianggap cukup menghibur karena bisa menampilkan prediksi wajah kita saat tua nanti.

Bukannya merasa sedih melihat wajah tuanya, justru banyak yang merasa bangga hingga akhirnya memamerkannya pada orang lain. Bahkan sampai muncul #AgeChallenge, untuk mengajak orang-orang berani menunjukkan wajahnya yang sudah penuh keriput itu.

Ngomong-ngomong soal foto editan, saya jadi teringat sama kasusnya anggota DPD dari daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB), Evi Apita Maya. Jangan-jangan, FaceApp hadir sebagai bentuk protes terhadap orang-orang semacam penggugatnya Evi Apita?

Begini, dalam kasus Evi Apita ini, beliau dituntut oleh pesaingnya, Farouk Muhammad. Kemenangan Evi Apita dituding karena beliau mengedit fotonya di surat suara secara berlebihan. Sehingga, editan foto tersebut dianggap sebagai penipuan untuk masyarakat. Bagi Farouk, menggunakan foto hasil editan yang “mengubah identitas diri” termasuk pelanggaran administrasi.

Karena nggak terima, akhirnya Farouk pun menggugat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Mahkamah Konsistusi (MK). Lantaran, KPU telah meloloskan foto Evi Apita yang dianggap telah diedit berlebihan.

Tapi, bukankah menjadi sesuatu yang wajar ya, kalau banyak perempuan pengin selalu terlihat cantik? Ya, nggak perempuan aja, sih. Para lelaki juga pasti ada, kan? Seperti terlihat mulus, glowing, dan muda tanpa kerutan. Kok ya, hal-hal semacam ini malah dipermasalahkan, sih? Ini Pak Farouk nggak paham “kebutuhan” perempuan, atau bagaimana, yak?

Lagian, memangnya kalau pengin menuntut, pembuktian kemenangannya Bu Evi karena editan foto itu kayak gimana? Gimana caranya bisa betul-betul mendapatkan bukti, kalau orang-orang yang memilih Bu Evi itu tertipu dengan muka beliau di surat suara yang hasil editan Photoshop? Gimana, kalau sebetulnya beliau ini dipilih karena kualitas personalnya?

Maksudnya gini, apa betul kemenangan seseorang untuk menjadi wakil rakyat itu hanya berdasarkan fisik saja—tanpa sumbangsih gagasan di dalamnya? Kalau memang kayak gitu, terus kenapa Manohara Odelia, Nafa Urbach, atau Venna Melinda, nggak lolos jadi DPR? Harusnya, kalau memang fisik berpengaruh besar, mereka lolos, dong? Apalagi bonus punya popularitas lagi~

Hadeeeh, memang gini ya masyarakat kita. Kalau ada foto editan yang menampilkan diri kita menjadi lebih tampak cantik atau ganteng, langsung aja di-judge dengan nada sungguh menyindir kalau itu adalah: FOTO EDITAN. Hal ini jadi berbeda kalau foto yang bikin diri kita jadi tampak lebih jelek, tua, dan penuh kerutan, kayak pakai FaceApp. Meski jelas-jelas kalau foto tersebut merupakan hasil editan, nggak ada tuh komentar dengan nada merendahkan kalau foto itu editan.

Padahal, bukankah keduanya sama-sama editan, ya? Lantas, kenapa harus direspons dengan cara yang berbeda? Hadeeeh. Aneh banget.

Mungkin karena para pembuat aplikasi yang bikin orang difoto lebih terlihat cantik dan ganteng ini capek ngadepin orang-orang kayak Pak Farouk, dibikinlah FaceApp. Yang sama-sama bisa ngedit foto, tapi menampilkan kesan wajah yang berbeda, alias kebalikannya.

Dan akhirnya, dengan #AgeChallege, dimunculkan keberanian menampilkan wajah penuh kerutan hingga bikin kebanggan tersendiri. Pasalnya, semula orang hanya berani untuk menampilkan citra terbaik dirinya. Nggak sedikit yang kemudian pakai filter macem-macem, supaya muka makin ciamik. Dan itu sebetulnya nggak ada masalah. Lha wong muka-muka dia.

Tapi ternyata mengedit foto supaya terlihat “menarik”, seringnya malah bikin mangkel dengan tanggapan orang-orang yang sebelah mata. Dikatain cuma editanlah! Kebanyakan filter-lah! Padahal kan, nggak semua editan itu bakal ngubah bentuk asli dari wajah seseorang. Ada juga yang cuma memperhalus doang.

Iklan

Mungkin, karena hal-hal semacam inilah akhirnya kerupawanan wajah seseorang tidak lagi menjadi tendensi. Mending tampilin wajah yang jelek aja sekalian, biar mulut-mulut julid mereka pada diem. Biar nggak perlu lagi muncul kecemburuan, iri, dan dengki atas wajah orang lain yang tampak lebih “proposional”.

Btw, saya masih nggak paham ada orang yang marah-marah sampai menggugat soal editan foto seseorang. Soalnya, selama ini setiap makan Indomie saya nggak pernah menggugat Indofood, loh. Meski jelas-jelas di situ, gambar Indomie di bungkus dan aslinya tidak pernah bisa sama~

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2019 oleh

Tags: dpdevi apitafaceappfoto editanpileg 2019tua
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

tugas dan wewenang dpd mojok.co
Kotak Suara

Tugas dan Wewenang DPD Diniliai Tidak Kuat, Benarkah Demikian?

15 Mei 2023
dpd perempuan mojok.co
Kotak Suara

KPU Tetapkan 700 Bakal Calon DPD, Perempuannya Hanya 19 Persen

3 Mei 2023
Pendaftaran Bacaleg DPR, DPRD dan DPD Dibuka Hari Ini: Simak Timeline dan Ketentuannya. MOJOK.CO
Kotak Suara

Pendaftaran Bacaleg DPR, DPRD, dan DPD Dibuka Hari Ini: Simak Timeline dan Ketentuannya

1 Mei 2023
Sebanyak orang bakal calon DPD asal DIY lolos verifikasi dari KPU DIY. Dua di antaranya adalah perempuan. MOJOK.CO
Kotak Suara

Dua Perempuan Masuk Daftar Bakal Calon Anggota DPD DIY

21 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Lima daerah di Jawa Tengah jadi pilot project BPOM Pusat untuk produk jamu aman demi menjaga citra obat tanaman herbal warisan UNESCO MOJOK.CO

Merawat Citra Jamu di Jateng sebagai Warisan Sehat dan Aman, Campuran Bahan Kimia Bisa Merusaknya

9 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.