Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Begini Ya Rasanya Di-hide dari Story WhatsApp Adik Sendiri

Audian Laili oleh Audian Laili
29 September 2019
A A
Rasanya Tahu Kalau Di-hide dari Story Whatsapp Adik Sendiri MOJOK.CO main hape
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tahu kalau di-hide dari story Whatsapp adik sendiri, rasanya itu kayak nggak dipercaya dan bukan menjadi tempat yang nyaman untuk berkeluh-kesah.

Suatu hari saat saya sedang tiduran di samping adik saya, saya nggak sengaja melirik layar hapenya. Dia sedang membuat sebuah status di Whatsapp-nya. Saya diam saja, tidak memberi komentar apa-apa. Meski sebetulnya ada perasaan penasaran karena dari caranya menulis seperti orang yang lagi kasmaran. Tapi saya pikir, toh bisa melihatnya sendiri nanti kalau status tersebut sudah diunggah.

Iklan

Setelah tahu kalau status tersebut sudah ia unggah, saya pun mengecek statusnya melalui Whatsapp saya. Eh, usut punya usut, ternyata kontak adik saya tidak ada dalam daftar orang yang bikin status. Ya, nama adik saya nggak ada. Hmmm, saya heran tapi cenderung curiga kalau adik saya nge-hide saya dari story Whatsapp-nya.

Lantaran ada rasa kesal, campuran perasaan nggak dianggap dan penasaran, akhirnya saya “labrak” dia. “Awakmu nge-hide aku dari story Whatsapp-mu, po?” tanya saya. Kamu nge-hide aku dari story WhatsApp-mu?

Sambil cengengesan, adik saya jawab, “Iya. Lha, sampeyan bawel biasanya.”

Gimana? Bawel katanya? Bahkan saya merasa sudah berusaha keras dan menahan diri untuk tidak mengomentari story-story yang bagi saya sering kali nggak masuk akal. Agar setidaknya saya dikasih kepercayaan untuk mengikuti kegiatan dan pemikirannya. Eh, lha kok saya dikatakan bawel. Bawel dari mananya coba?

Tapi setelah saya pikir-pikir, mungkin kata “bawel” ini hanyalah kalimat celetukan dia yang kaget karena ke-gep sudah nge-hide saya dari story Whatsapp-nya. Ya, sebetulnya saya emang nggak bawel-bawel amatlah. Hanya saja, wajar sih kalau adik saya nggak terlalu nyaman ketika kegiatan yang dianggap menjadi ranah privasinya itu, diketahui oleh saya—salah satu anggota keluarga yang bersinggungan dekat dengan orang tuanya. Ya gimana, je. Lha wong, orang tua kami sama.

Maksudnya begini, bapak-ibu dan adik saya ini kan punya selisih usia yang jauh. Tentu ada ruang melompong di tengah yang terkadang memicu miskonsepsi. Jadi, supaya mudah, nggak ribet, dan lebih membuatnya bebas berekspresi, adik saya memilih untuk membatasi informasi-informasi yang ada di lingkungan generasinya tersebut dari orang-orang yang dianggap nggak-bakal-paham.

Salah satu hal yang mudah adalah dengan nge-hide saya, orang tua, atau anggota keluarga lainnya dari status-statusnya itu. Padahal, bisa jadi statusnya itu juga biasa-biasa saja.

Adik teman saya misalnya. Katanya juga nge-hide teman saya dari story Instagram-nya. Bahkan untuk sebuah postingan yang sebetulnya nggak ada masalah apa-apa. Ya, waktu itu teman saya nggak sengaja “mergokin” adiknya posting lagi kumpul sama temen-temennya di angkringan, dari akun Instagram temennya teman saya yang follow-followan sama adiknya dan mungkin lupa di-hide. Masudnya, apa sih salahnya dari nongkrong di angkringan? Sampai-sampai ia harus menyembunyikan itu dari kakaknya sendiri?

Mungkin ia takut disalahkan. Mungkin ia takut dianggap berlebihan. Tapi yang jelas, ia merasa tidak terlalu nyaman.

Ya mohon maaf nih. Ini bisa dipahami karena keluarga biasanya sih merasa punya wewenang penuh untuk mengatur-atur hidup keturunannya. Jadi ya, perasaan insecure untuk tidak diterima tentu saja bisa muncul. Setidaknya ini berwujud nge-hide orang-orang yang diduga punya hak untuk komentar macam-macam: Demi menjaga nama baik keluarga.

Sebaliknya, kita merasa lebih bebas untuk mengekspresikan diri di depan orang lain—orang asing bahkan—karena ada anggapan nggak punya beban moral apa pun. Mungkin mereka bakal komentar, tapi kebanyakan kan, juga bodo amat.

Tapi ya, soal nge-hide postingan kita dari orang tertentu sebetulnya nggak ada masalah. Bebas-bebas aja. Kita kan punya hak untuk menentukan standar kenyamanan diri kita sendiri. Kita punya wewenang untuk mencitrakan seperti ini ke orang sini dan seperti itu ke orang situ. Bukankah begitu?

Jadi, ya, kalau adik saya nge-hide story Whatsapp-nya dari saya, ya nggak apa-apa. Meski saya ada kecewanya karena merasa nggak dianggap, tapi bukan berarti dia nggak menghargai saya sebagai mbaknya.

Yang terpenting, sih. Jangan sampai saya di-hide dari story masnya. Itu aja.

BACA JUGA Kalau Nggak Sanggup Live Nikahan di TV, Live Instagram Aja atau artikel Audian Laili lainnya.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2019 oleh

Tags: adikdi-hidemedia sosialorang tuastory whatsapp
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kirab Budaya dan Karnaval Pembangunan Klaten Tahun 2025. MOJOK.CO

Karnaval Klaten 2026: Belajar Jejak Sejarah Mataram Kuno dan Keistimewaan Tiap Wilayah

16 Agustus 2026
Ide bisnis sewa HP flagship, ide aneh raup omzet 20 juta per bulan MOJOK.CO

Ide bisnis sewa HP flagship ternyata begitu menguntungkan, modal 3 HP bisa raup omzet 20 juta per bulan

20 Agustus 2026
JPPI, MBG, buku siswa sekolah.MOJOK.CO

RAPBN 2027: Anggaran Pendidikan Tersandera Rp240 Triliun demi Program yang Tak Penting

17 Agustus 2026
Lansia menjual aksesori kemerdekaan di Malioboro, Yogyakarta. MOJOK.CO

Kisah Istri Pensiunan BPN Turun ke Jalanan untuk Jual Aksesori Kemerdekaan di Masa Tua demi Hadiahkan Cucu

18 Agustus 2026
Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Minus punya rumah di sekitar Jalan Tunjungan, Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Jujur Janggal, Saat Orang Lain Bilang Punya Rumah di Pusat Kota Surabaya Itu Menguntungkan

19 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.