• 7
    Shares

MOJOK.CO – Mencicil rumah tanpa perlu membayar DP memang terlihat menggiurkan. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar semua berjalan sesuai perencanaan.

Memiliki rumah merupakan mimpi setiap orang. Bagaimanapun juga, rumah telah menjadi salah satu kebutuhan primer yang berfungsi melindungi kita untuk ngiyup  dari panas dan hujan. Mimpi ini seringkali harus ditahan-tahan karena mahalnya harga rumah. Apalagi sudah bekerja keras bagai kuda namun gaji pas-pasan, dan sayang sekali nggak segera dapat warisan.

Ada dua tipe usaha orang untuk mendapatkan rumah. Pertama, dengan menabung dulu bertahun-tahun hingga uangnya cukup untuk melunasi rumah yang diinginkan. Kedua, dengan menabung sampai terkumpul DP dan memulai masa-masa cicil-mencicil itu.

Untuk kamu yang memilih cicil-mencicil, ada kabar baik. Mulai bulan Agustus besok, Bank Indonesia (BI) memutuskan membebaskan uang muka untuk masyarakat yang ingin mencicil rumah pertamanya. Ini artinya, tidak lagi dibutuhkan setoran awal untuk mendapatkan fasilitas Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dari bank yang diinginkan.

BI berharap, kebijakan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui kredit dan sektor perumahan, serta bertujuan untuk mendorong first time buyer  sekaligus menstimulasi pembelian rumah untuk investasi.

Namun yang perlu diperhatikan, walaupun semangat untuk memiliki rumah ini sudah meluber-luber, itu tidak cukup. Kita tetap perlu adanya strategi khusus untuk mengatur pendapatan yang pas-pasan dan pengeluaran yang tak ada habisnya, agar tidak memberatkan di suatu hari nanti~

Baca juga:  Kok Bisa-bisanya Udah Punya Gaji 20 Juta di Jakarta Masih Ngos-ngosan?

Ya, mau gimana lagi, mencicil rumah dengan skema KPR berarti ada bunga yang harus dibayarkan setiap kali mengangsurnya. Apalagi harga rumah saat ini tidak dapat dikatakan murah. Selain itu, ada jangka waktu untuk mencicilnya. Biasanya KPR memberi jangka waktu cicilan maksimal hingga usia pensiun. Nah jika mulai mencicil saat berusia 25 tahun, kemudian mengambil jangka waktu 15 atau 20 tahun, di usia berapa rumah itu lunas?

Padahal secara psikologis, setiap orang tentu ingin segera melunasi utang-utangnya. Dengan proses pembayaran utang yang cukup lama, pasti perlu adanya kesiapan fisik dan mental. Ya, siapa sih yang mau hidup menanggung malu hutang? Kalau hal ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, pastinya akan memberikan rasa lelah. Rasa-rasanya kok bekerja cuma habis buat bayar cicilan ini dan itu. Buat foya-foyanya kapan?!!!1!

Apalagi kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, kecuali ikut Zidan masuk lorong waktu. Misalnya ada krisis moneter atau kondisi perekonomian negara yang tidak stabil sehingga mengakibatkan PHK atau meningkatnya bunga KPR. Tentu mental juga perlu dipersiapkan.

Kalau memang semua kemungkinan yang ada kira-kira bisa diatasi dan mantap untuk menggunakan KPR, sekarang mulai dengan realistis dalam memilih harga yang sesuai dengan penghasilan per bulannya. Karena bank menerapkan maksimal cicilan 30% dari penghasilan bulanan.

Baca juga:  Ketika Kota Makin Kaya, Desa Makin Miskin

Memulai mencicil rumah memang membutuhkan mental yang siap dan kuat. Walau keberanian ini memiliki risiko, hal ini akan memudahkan kita untuk mendapatkan rumah lebih cepat dibandingkan harus menabung. Ingat, rumah adalah salah satu investasi yang nilainya semakin tinggi. Dengan mengajukan pinjaman sejak dini, kita akan mendapatkan rumah dengan harga lebih murah dibandingkan harus membeli beberapa tahun ke depan setelah tabungan terkumpul.

  • 7
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles