• 141
    Shares

MOJOK.CO – Seorang perempuan curhat tentang dilemanya ketika bertemu dengan keluarga pacar.

 

CURHAT

Dear Gus Mul…

Awalnya saya ingin basa basi terlebih dahulu biar asyique, tapi saya ndak ngerti how to basa basi properly jadi yaudah saya langsung saja ya. Perkenalkan, nama saya Sri, panggil saja Yu Sri.

Curhat kali ini mungkin klise karena bahasannya cinta melulu jadi mendayu-dayu. Tapi Gus, saya sudah gumoh mendayu-dayu melulu ketika kumpul bersama keluarga doi. Iya, mendayu-dayu, soalnya takut dikira soide (sok iya deh) nggak nyambung kalo menimpali percakapan dengan lantang, jadi ya sayup-sayup aja, malu-malu geli.

Jadi begini Gus, saya ini sudah jalan 9 bulan menjalin hubungan bersama doi. Meski sudah 9 bulan dan semantap usia ibu hamil, hubungan kami tidaklah semantap dedeknya bumil yang siap mbrojolanytime soon. Kok gitu? Karena Gus, selama 9 bulan itu pula saya diajakin kucing-kucingan sama doi. Fisik saya diumpetin dari keluarganya, sebagian teman-temannya & orang-orang terdekatnya. Saya sempat berfikir, bahwasanya mungkin doi malu membersamai saya yang cuma Yu Sri ini. Namun, sedikit terpatahkan ketika saya sudah gedig sama doi dan memutuskan untuk nekat memaksanya agar mengajak saya ke rumahnya saja. Ya tentu saja pakai bumbu prahara season tak terhingga. Lebay deh. Yo sithik guys, tapi mergo bocahku iki baperan level dewa, aku salah ngomong setitik bisa potensi ngegas mutung tanpa jeda.

Sesampainya di sana Gus, tenyata Bapak Ibuk doi betul-betul menyenangkan dan monggo-monggo aja. Lalu Ibuk bercerita bahwasanya doiku ini anaknya memang pendiam kalau di keluarganya dan suka digasaki a.k.a teased by masnya dan adiknya, karena mereka kira, selama ini dia hanya berimajinasi perkara Yu Sri. Bahwa Yu Sri hanya sekedar teman khayalan doi yang tidak hadir dalam wujud manusia nyata, dan nggak bisa diajak hahahihi. Sudah macam sebatas tokoh fiksi, ya memang lumrah sih apabila demikian yang terjadi karena memang doiku ini nggak pernah ngajakin saya ke rumahnya untuk, “Assalamualaikum permisi, kenalin nama saya Yu Sri”.

Selama 9 bulan ini juga, terhitung sampai detik ini, ketika saya mengetik curhat ini saja baru 3 kali saya bersua ke rumah doi. Kalah rutin sama jatah minum obat. Terlepas dari doiku yang memang rada bob (bukan orang biasa) pola berpikirnya, sebagai newbie saya juga masih belum berani Gus kalo nyautin sana sini ketika diajak ngobrol sama keluarganya, takut dikira sok asik & sik begono begini. Padahal deep down inside keluarga doi ini asqyique sekali. Ingin rasanya aku join & balas menimpali ketika duduk manis bersama bercengkrama. Tapi lagi-lagi rasanya ada barrier takut dikira begitu begini. Lalu, di kali ketiga ini, kekasih adik iparku (elah buset aminin aja hehe), mengutarakan kepadaku bahwa kata Ibuk doi, saya ini orangnya terlalu lembut & pendiam seperti doi. Beliau khawatir, kalau nanti semesta mengiyakan kami untuk bermahligai, wkwkwk, buah hati kami akan jadi pendiam macam kami. Masih kejauhan sih Ibuk mikirnya, sidang skripsiku aja belum terjadi.

Baca juga:  5 Kode Ampuh ke Pacar Agar Kalian Cepat Nikah

Saya takut melanggar boundariesku yang masih hanya sebagai pacarnya doi, apabila saya kemripik renyah hahahihi ngobrol bersama his family. Sebab Gus, doiku ini ketika di rumah dan bersamaku seperti dua individu yang berbeza. Mungkin memang benar kalau saya ini pendiam Gus, tapi membenarkan bahwa saya pendiam tidak memberi solusi justru malah saya sedang membatasi diri sendiri. Namun Gus Mul, balik lagi perkaranya, saya rikuh sama doi apabila cuwawakan dan atau malah tetap garing pendiam seperti ini.

Gus, nyuwun tulung, help me, aku ingin menjadi asyique dan menantu-able yang enak diajak ngobrol hahahihi sana sini. Terimakasih banyak ya Gus, semoga lekas bermahligai dan selalu diberi kelancaran rejeki. Salam sejahtera, minum yakult tiap hari!

 

JAWAB

Yu Sri yang baik, terima kasih sudah mengutarakan kegalauanmu itu kepada kami. Sebelumnya, kami mau ngasih tau, mulai minggu ini sampai beberapa waktu yang belum dapat dipastikan, bukan Gus Mul yang akan membalas curhatanmu. Jadi, kami mohon maaf, kalau ternyata keinginan besarmu untuk dibalas curhatnya oleh Gus Mul, belum dapat tercapai.

Oh ya, Sri. Saya ucapkan selamat ya, karena kamu akhirnya diajak ke rumah si doi dan mengenal keluarganya. Dengan perjuanganmu yang tidak mudah dan sedikit memaksa, tentu saja hal ini perlu diapresiasi. Walau jumlah pertemuan tersebut masih 3 kali dan menurutmu itu kurang, setidaknya, tahapan ini sudah cukup melegakanmu, dan membuatmu merasa benar-benar sudah menjadi bagian dari keluarganya. Bukan dianggap sebatas kekasih khayalan saja.

Banyak loh. Sri. Laki-laki di luar sana, yang tidak memiliki keberanian untuk mengenalkan kekasihnya pada keluarganya. Malah sukanya cuma main kucing-kucingan di belakang. Jadi, kamu tidak punya alasan untuk tidak bersyukur.

Sri, sebenarnya perasaan deg-degan ketika bertemu dengan keluarga pacar adalah hal yang wajar. Pasalnya, mereka adalah orang-orang baru di kehidupan kita, namun juga akan menjadi penentu masa depan percintaan kita. Sehingga, kita merasa harus nampak sempurna dan tanpa cela di depan mereka. Ada rasa was-was kalau terjadi kesalahan sedikit saja menjadikan restu tak dapat diterima.

Jika kamu memang karena deg-degan ini, kamu merasa rikuh ketika bertemu dengan keluarga pacar, hal pertama yang dapat kamu lakukan adalah dengan menceritakan tentang kesulitanmu itu kepada pacarmu. Tanyakan padanya, apa yang seharusnya kamu lakukan supaya dapat berkomunikasi baik dengan mereka.

Baca juga:  Jane Ngapa Ta, Kudu Dadi PNS?

Misalnya dengan meminta pacarmu bercerita tentang apa yang disukai dan tidak disukai oleh ibunya, bapaknya, atau kakak adiknya. Hal ini tentu akan membantumu sedikit memahami tentang kehidupan keluarganya.

Jika pacarmu memang tidak mau bercerita, kamu jangan habis akal, dong. Manfaatkan media sosial dengan sebaik-baiknya. Gunakan jurus kepomu dengan maksimal. Pahami kehidupan keluarganya dari situ, atau setidaknya memperkirakan ‘kehidupan ideal’ versi mereka yang diunggah di media sosial. Sebagaimana kita tahu, media sosial sering menjadi tempat harapan hidup digantungkan.

Melalui media sosial, kamu juga dapat memanfaatkannya untuk menjalin komunikasi dengan mereka. Awalnya mungkin dapat dimulai dengan berbasa-basi melalui komentar ketika mereka mengunggah sesuatu. Namun, setelah saling merasa nyaman, pasti kemudian obrolan yang terjalin pun akan lebih mengalir.

Kemudian, kalau memang kakak atau adiknya ternyata umurnya berdekatan denganmu, jangan ragu untuk mengajak mereka makan bareng atau pergi ke suatu tempat bersama. Hal ini tentu dapat menumbuhkan keakraban kalian, sehingga dapat meminimalisir perasaan rikuh ketika ingin mengobrol. Bagaimanapun juga, mengobrol sambil beraktivitas santai akan lebih membuat suasana gampang mencair.

Modal aktivitas yang sudah kamu lakukan itu, dapat kamu manfaatkan ketika sedang bersama keluarga pacar. Berusahalah untuk mengobrol senyaman mungkin dengan mereka. Timpali percakapan-percakapan mereka yang memang kamu ketahui. Namun, usahakan jangan terlalu banyak mendominasi percakapan, ataupun berusaha sok asyik. Lebih baik, bersikaplah secukupnya saja.

Oh ya, semisal ibu pacarmu tiba-tiba bercerita sesuatu padamu, usahakan dengar cerita tersebut dengan mata dan hati. Dengan menjadi pendengar yang baik, hal ini akan membuka pintu hubungan yang akan semakin dekat juga nantinya.

Tapi kalau ternyata kamu tidak memiliki sama sekali kesempatan seperti yang saya uraikan di atas, misalnya keluarga pacar ternyata anti sosmed-anti sosmed club, atau kakak adiknya ternyata usianya terpaut jauh denganmu dan membuatmu sungkan untuk menyapa, ya sudah, ikhlaskan saja.

Toh kata Sri tadi, keluarga pacar orangnya asyik-asyik, kan?

Jangan merasa tidak beruntung, kamu hanya perlu menjalani dengan baik saja pertemuan-pertemuan yang langka itu. Bukankah kenyamanan pasti ditemukan dari sebuah keterbiasaan? Biarkan waktu yang membayar, untuk menunjukkan jati dirimu yang asyik dan menantu-able itu. Yang kamu butuhkan adalah kepercayaan diri, Sri. Bahwa kamu pantas untuknya.

Oh ya, sedikit tambahan. Ini sangat penting. Tolong kamu ingat ini baik-baik. Jangan sekali-kali membuka pembicaraan mengenai Prabowo dan Jokowi. Saat ini, beda pilihan politik bisa membuat hubungan kalian gagal karena restu. Camkan itu baik-baik ya anak muda~