Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Valentino Rossi, Inzaghi, dan Musim Mati Lampu di Jambi

Arif Utama oleh Arif Utama
19 Oktober 2016
A A
Valentino Rossi, Inzaghi, dan Musim Mati Lampu di Jambi

Valentino Rossi, Inzaghi, dan Musim Mati Lampu di Jambi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika ada cara yang paling ideal untuk mengajarkan keikhlasan, salah satunya adalah dengan mati lampu.

Ada tiga musim yang sudah pasti dirasakan oleh warga Kota Jambi: musim durian, musim duku, dan musim mati lampu. Untuk dua musim yang pertama disambut dengan suka cita, sementara musim satunya jelas disambut dengan gerutu dan ratapan kesedihan.

Saat kecil, saya seringkali menggerutu karena saat asyik-asyik menonton kartun jam 7 malam, lalu mendadak mati lampu. Kalau sudah mati lampu, terutama kalau terjadi pada malam hari, rumah-rumah yang dekat dengan rumah saya akan terdengar suara-suara celetukan yang khas.

“Aduh! PLN Kampret!”, “Yahhh! Belum di-save kerjaannya!”, “Yaampun! Itu sinetronnya lagi seru kenapa mati listriknya!”. Dalam rumah saya ada pula yang berteriak, “Duh, bikin rusak mesin aja ini PLN, aduh!”.

Yang terakhir itu adalah ayah saya.

Dan karena sering mendengarnya, saya pun pernah meniru hal tersebut. Ibu saya, kendati penyabar, akan menunjukkan wajah paling tak mengenakkannya ketika saya mengeluh. Kata beliau: “Bersyukur, Nak, ini gelapnya masih di dunia. Coba kalau gelapnya ini di liang lahat, kamu nggak bisa lagi rasain asiknya pakai listrik.”

Saya lalu menunjuk ayah saya begitu. Beliau kembali melanjutkan: “Tiru yang baik-baik aja dari ayah…”

Saya langsung terdiam, ambil air wudhu, sholat dan istighfar. Pikir saya saat itu: beban ayah banyak sebagai kepala keluarga, dan juga, mungkin ini cara Tuhan agar membuat saya meninggalkan perkara duniawi dan lebih dekat kepada-Nya.

Berbeda dengan ibu, kakek saya, saat beliau masih hidup dan turut tinggal bersama ayah dan ibu, akan akrab dengan gagang telpon jika listrik sudah mati. Menelpon PLN langsung adalah tradisinya. Ia akan bertanya kenapa rumah kami juga turut padam listriknya.

Sebagai eks-direktur PLN, saya merasakan apa yang dirasakan kakek: bagaimana bisa, perusahaan tempatnya bekerja mengkhianatinya sehingga rumahnya juga turut mati lampu?

Jika kakek sudah komplain, seperti biasa, hanya dua jawaban yang akan diberikan oleh PLN. Kalau tidak permohonan maaf karena PLN kekurangan kekuatan listrik untuk menerangi seluruh kota, ya estimasi kapan pemadaman berlangsung.

Meski sudah sering ditelpon, rumah kami tetap saja mati lampu dan ayah tak ada pilihan selain membeli genset agar elektronik dalam rumah bisa berumur panjang.

Mati lampu kemudian menjadi hal yang akrab dan biasa bagi saya. Sejak kepindahan keluarga saya ke Jambi pada medio 2000-an, hingga saya memutuskan merantau ke Bandung pada 2013, saya masih sering diserang dengan mati lampu.

Namun demikian, perbedaannya sangat terasa antara ketika saya di Bandung dan Jambi: jika di Bandung paling-paling mati lampu sekali dalam setahun, di Jambi ada bulan di mana memang khusus di dedikasikan untuk mati lampu.

Iklan

Tak mutlak sebulan, jelas. Namun lantaran saking seringnya, Anda akan mafhum jika listrik mati seolah bukan lagi persoalan serius bagi warga Jambi. Koran-koran lokal bahkan pernah sampai berinisiatif untuk mengumumkan jadwal mati lampu agar warga kotanya berjaga-jaga.

Kendati sering diserang dengan argumen bahwa padamnya listrik membuat banyak usaha merugi, toh, tidak ada pilihan selain ikhlas pada akhirnya jika mati lampu sudah melanda.

Pernah ada anomali terjadi. Ada sebuah musim di mana musim mati lampu bisa tertunda.

Saat Ramadhan, misal, biasanya itu terjadi di saat sahur dan berbuka. Atau saat di mana televisi menayangkan perhelatan olahraga seperti sepak bola, bulu tangkis, hingga menonton Rossi di MotoGP. Tiga olahraga ini memang sangat ramai dan paling sering diadakan nonton bareng oleh berbagai bidang usaha kerakyatan.

Kadang mati lampu bisa tertunda penuh hingga tayangan olahraga selesai, kadang di setengah laga bisa terpotong.

Saya pernah mengalaminya pada saat menyaksikan final Liga Champions di Athena pada tahun 2007. Listrik rumah padam setelah gol Inzaghi di menit ’45, dan kakek saya terus mengganggu saya karena Milan saat itu menang. Yang lucu: kendati memiliki genset, kami sama-sama tak mengerti bagaimana cara menyalakannya. Bedebah.

Kami kemudian memutuskan agar membaca koran saja untuk mengetahui siapa yang menang dalam pertandingan tersebut.

Saya langsung tidur sambil berdoa agar kejadian seperti final di Istanbul tahun 2005 silam, di mana Liverpool secara ajaib bisa berbalik mengalahkan Milan dan bahkan membawa trofi Liga Champions, bisa terjadi. Meski, ya, saya sudah punya firasat akan kalah.

Dan hal tersebut terbukti pada akhirnya: kekalahan Liverpool 1-2 dari Milan menjadi headline koran lokal hari itu.

Pengalaman lain yakni ketika mendengar kabar listrik mati di Kota Jambi setelah Valentino Rossi jatuh di sirkuit Motegi, Jepang. Ada dua hal yang bisa saya petik dari momentum ini.

Pertama, betapa mati lampu sesungguhnya adalah ujian serius dari Tuhan kepada umat-Nya. Kedua, disadari atau tidak, mati lampu menyelamatkan orang-orang Jambi dari kecewa yang berat karena idola seluruh kota seperti Rossi harus dipecundangi musuh bebuyutannya, Marc Marquez.

Saya kira, sesungguhnya mati lampu adalah paksaan dari Tuhan agar kita bisa mengikhlaskan apa yang tidak pernah bisa kita ubah.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2017 oleh

Tags: JambilistrikMati lampuPLN
Arif Utama

Arif Utama

Artikel Terkait

Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO
Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO
Aktual

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Cerita Pekerja Jakarta yang Dulu Jadi Pengawas Gajah di Jambi, Harus Siap Ketemu Kuntilanak dan Siaga Menahan Nafas karena Harimau
Ragam

Cerita Pekerja Jakarta yang Dulu Jadi Pengawas Gajah di Jambi, Harus Siap Ketemu Kuntilanak dan Siaga Menahan Nafas karena Harimau

16 Mei 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang! MOJOK.CO

Berhenti Menyalahkan Anak Skena Jalan Gajahmada Semarang!

30 Maret 2026
anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026
Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.