Bertani Rumput Mendulang Rupiah

Rumput yang saya injak masih menyisakan embun ketika kaki saya menekannya. Seperti biasa, petani rumput itu, Walijo (53) tersenyum lebar setiap ada orang datang ke kebunnya  di kawasan Jalan Kabupaten, Jambon, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.

Meski sebagai petani rumput, Walijo sepertinya punya standard operating procedure atau SOP sebagai betuk pelayanan prima pada para pembelinya. Sudah beberapa kali saya ke kebunnya untuk membeli rumputnya, sikapnya sama. Selalu menyapa dan tersenyum. Senyumnya tulus, sehingga saya selalu merasakan energi positif yang menular.

Bertani rumput gajah mini 

Saya memintanya untuk meneruskan pekerjaannya yang saat itu menyiangi gulma di kebun rumput gajah mininya dengan arit atau sabit. Rumput teki dan jenis rumput-rumput lainnya cepat sekali tumbuh di sela-sela rumput gajah mininya. Sampai masa panen, sekitar 2 bulan, ia harus menyiangi rumput-rumput yang menganggu itu sebanyak 2-3 kali.

“Sudah 8 tahun ini jadi petani rumput, lumayan lah hasilnya, Mas,” katanya. Sebelum bertani rumput gajah, Walijo atau sesuai nama di KTPnya Sudaryanto jualan sosis dan martabak di pasar pagi Kricak. Ia berjualan dari tahun 1996 hingga 2012.

“Dulu masih sepi yang jualan sosis goreng, sekarang banyak sekali,” kata Walijo ketika ditanya alasannya berhenti jualan sosis dan martabak.

Perjumpaan Walijo dengan rumput gajah mini berawal saat dia bekerja sebagai buruh bangunan. Saat itu tugasnya membersihkan taman yang ditanami rumput Jepang Manila. Dari situ, Walijo jadi tahu bagaimana membeli dan merawat rumput untuk taman.

“Saya ingat, waktu itu pake hape jadul menghubungi toko taman di Magelang, membeli rumput gajah mini,” kata Walijo. Rumput itu kemudian yang ia gunakan jadi indukan dan berkembang biak sampai saat ini.

Saat awal memulai usaha, Walijo menyewa tanah seluas 180 meter persegi. Tanah tersebut ia tanami rumput 50 meter persegi. “Setelah tiga bulan, ternyata dari modal Rp 1 juta ia mendapatkan Rp 3 juta,” kata Walijo. Melihat prospek budidaya rumput gajah mini, ia kemudian fokus di situ.

Baca juga:  Jalan Jihad Petani Garam Tradisional

Ia kemudian menyewa tanah yang lebih luas lagi, 800 meter persegi. Tanah itu ia sewa selama 2,5 tahun. Usai menyewa tanah tersebut ia kemudian menyewa dua lahan sawah, masing-masing seluas 450 meter persegi. Sekarang ada dua petak sawah lagi yang baru saja ia sewa seluas 800 meter persegi dan 712 meter persegi.

“Satu petak itu ada yang sistemnya bagi hasil, setiap panen rumput yang punya saya kasih Rp 3 juta. Dia senang sekali karena kalau untuk menanam padi paling cuma panen sekali, tapi kalau rumput bisa panen dua kali,” katanya.

Rumput gajah mini menopang ekonomi keluarga

Dengan wajah berseri-seri, Walijo bercerita bagaimana jualan rumput bisa menopang ekonomi keluarganya. Sebagai orang yang hanya lulus SD ia sangat senang akhirnya bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus SMA dan SMK. “Itu saya bahagia banget Mas, sudah mentas,” kata Walijo.

Anak pertamanya yang lulusan SMK Jurusan Mesin memilih jadi pemotong rambut, anak keduanya yang lulusan SLB membantunya merawat rumput dan mempromosikan usaha rumput gajah mini melalui media sosial. Anak ketiganya, yang juga lulusan SMK saat ini bekerja di Kantor Pos.

“Anak-anak saya yang promosi lewat Facebook dan Instagram,” kata Walijo fasih menyebut dua media sosial itu. Ia mengakui pelanggannya kebanyakan berasal dari orang-orang yang menghubungi anaknya melalui dua media sosial yang tidak ia kuasai itu. Ia cuma bisa WA saja.

“Paling banyak yang pesan lewat WA, saya pasang di toko Facebook,” kata Haryanto, putra kedua Walijo yang saat itu menemani ayahnya menyiangi rumput.

Walijo dengan anak tengahnya, Haryanto bercanda saat membersihkan rumput. Foto oleh Agung PW/Mojok.co

Walijo dengan anak tengahnya, Haryanto bercanda saat membersihkan rumput. Foto oleh Agung PW/Mojok.co

Selain rumput gajah mini, Walijo sempat membudidayakan rumput Jepang Manila, namun tidak laku. “Itu ada sebagian yang masih saya tanam, tapi nggak laku seperti rumput gajah mini,”kata Walijo menunjuk salah satu sudut sawah yang disewanya.

Baca juga:  Bambu yang Masih Sedulur sama Rumput Teki

Meski tak pernah mengikuti pelatihan layanan prima atau service excellent, Walijo tahu betul untuk tidak mau mengecewakan pelanggannya. Salah satunya ia menolak melayani jika ada pembeli yang membeli dalam jumlah banyak. Bukan bermaksud menolak rezeki, ia tidak ingin mengecewakan pelanggan lain karena stok rumputnya habis.

“Kasihan nanti yang lain nggak kebagian,” kata Walijo tersenyum. Menurutnya lebih penting yang terjual sedikit, tapi rutin. Saat ini rata-rata setiap hari, rumputnya terjual empat karung besar. Satu karung besar itu ia jual Rp 40 ribu, sedang yang karung keci ia hargai setengahnya.

Satu karung besar itu bila ditanam bisa mencakup untuk tanah seluas 4-5 meter, sedangkan untuk yang dihargai Rp 20 ribu, bisa digunakan untuk tanah seluas 2 meter dengan jarak tanam yang sedang.

Walijo sudah memiliki pelanggan tetap. Setidaknya ada tiga toko tanaman yang setiap dua hari sekali mengambil rumput darinya. Aktivitasnya tiap hari adalah memberi pakan sapiya sekitar pukul 05.00. Selanjutnya pukul 06.00 ia akan berangkat ke sawah yang tidak jauh dari rumahnya. Pukul 10.00 ia akan pulang ke rumah.

“Tidur Mas, tapi kalau anak saya ngabari ada pembeli ya langsung ke sawah lagi,” katanya.
Sore hari sekitar pukul 14.00 ia akan kembali ke sawah sampai pukul 16.00. Sampai rumah, ia akan kembali memberi makan satu ekor sapinya. “Rumput-rumput ini saya bawa pulang untuk pakan sapi,” kata Walijo menunjuk rumput gulma yang ia kumpulkan.

Baca juga:  Simbah Penjual Pisang dan Cerita Mereka Berjualan di Pakem

Baginya kepuasan pelanggan nomor satu. Meski matahari sedang panas-panasnya, ia akan datang ke sawah untuk menyiapkan rumput yang dipesan pembelinya. Tak heran, kemudian banyak pelanggan-pelanggannya dari berbagai kota. Sebelum Covid, ada pembeli dari Solo yang rutin ke kebunnya untuk membeli rumput. Ada juga dari Pacitan yang rutin membeli.

Rata-rata mereka membeli 10-20 karung. Namun, ada juga yang pernah membeli rumputnya hingga 100 karung. “Katanya untuk lapangan di Purworejo,” kata Walijo. Permintaan pembeli ia sanggupi karena saat itu stok rumput di sawah yang ia sewa mencukupi.

Ingin membuatkan warung taman untuk anaknya

Walijo tidak muluk-muluk dalam menjalani hidupnya. Saat ini ia ingin bisa menjalani hidupnya dengan nyaman sebagai petani rumput. Ia tengah mempersiapkan anak keduanya yang lulusan SLB untuk meneruskan usaha bertani rumput yang sebenarnya menjanjikan. “Saya ingin menyewa tanah di pinggir jalan untuk usaha anak yang kedua, semacam warung taman yang jualan tanaman untuk taman,” kata Walijo memandang Haryanto yang saat itu bersamanya

Meski banyak orang yang tidak melirik usaha ini, bagi Walijo bertani rumput itu menyenangkan. Selama masa tanam, perawatan yang ia lakukan paling hanya memupuk dan menyiangi rumput.

“Kalau jualan makanan seperti saya dulu, kalau nggak laku ya BS,” katanya.

“Apa itu BS pak,” tanya saya.

“Bosok!” katanya tertawa. Dulu, saat berjualan martabak dan sosis, Walijo biasa menitipkan makanan tersebut dilapak-lapak penjual makanan. Ketika makanan itu tidak habis, maka risikonya tidak bisa lagi dimakan. Bebrbeda saat ia berjualan rumput, kalaupun hari ini tidak laku, rumput itu tetap akan tumbuh dan bisa dipanen hari-hari berikutnya.

BACA JUGA bagian kedua liputan ini,  Lim Wen Sin, Tionghoa yang Memilih Bersama Petani di Kaki Merapi dan kisah-kisah menarik lainnya di rubrik SUSUL.