Lim Wen Sin, Tionghoa yang Memilih Bersama Petani di Kaki Merapi

Saya berjanji kepada Lim Wen Sin untuk datang ke Sekretariat Konservasi Burung Hantu Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Kabupaten Sleman pukul 7 pagi. Saya terlambat 30 menit dari waktu yang saya janjikan.

Dari tempat parkir motor di bawah pohon beringin, saya melihat Lim Wen Sin (44) atau biasa dipanggil Pak Lim tengah duduk di samping limasan bersama penduduk setempat. Namanya Mbah Nan, lengkapnya Nahan Sumarno (56).

Ditemani teh hangat, saya ikut nimbrung dalam obrolan mereka tentang makanan zaman dulu yang kini banyak menghilang atau tidak lagi dikonsumsi. Menurut diskusi mereka, makanan kalau tidak dikonsumsi lagi oleh generasi sekarang, akan sangat mungkin tidak lagi dikenali generasi setelahnya.

“Kecipir itu bijinya dulu dibuat minuman seperti sari kedelai, proteinnya lebih tinggi dari kedelai yang bahannya sekarang kebanyakan impor,” kata Pak Lim, Kamis (25/2). Mbah Nan menyahut, bahwa menanam kecipir gampang. Asal ada tempat buat menjalar, cipir bisa hidup.

Mbah Nan juga mengingat dulu ia masih makan sayur dari kulit benguk, sejenis kacang. Kata Mbah Nan, rasanya kenyil-kenyil.

“Nah dulu, kulit benguk itu sebagai pengganti krecek (kulit sapi yang dikeringkan). Biar terasa ada dagingnya, kasih kacang tolo. Itu taste-nya ada rasa daging,” kata Pak Lim.

Cara masaknya juga tidak sembarangan, kulit benguk tersebut harus direndam beberapa waktu dulu untuk menghilangkan racunnya. Pak Lim mengatakan kalau mau cari macam-macam kara benguk, adanya di Pasar Sentolo, Kabupaten Kulonprogo. Ada satu pedagang yang menyediakan koro benguk dari berbagai daerah yang karakter benguknya beda-beda. “Ada benguk dari Gunungkidul, Purwodadi, Madiun, Banyuwangi dan lainnya, itu karakternya beda-beda,” katanya.

Obrolan pagi itu begitu acak, mulai dari bahan pangan di Dusun Cancangan hingga bagaimana leluhur Pak Lim datang dari Tiongkok ke Indonesia. Obrolan dengan Mbah Nan dan Pak Lim terhenti ketika Pak Lim harus segera memberi pakan tikus dan marmut. Dua hewan itu dipakani agar bisa jadi pakan lagi bagi burung hantu yang tengah dirawat di Pusat Konservasi Burung Hantu/Serak Jawa Cangkringan.

Pak Lim berbincang dengan Mbah Nan membicarakan tentang pangan di Dusun Cancangan.

Pak Lim dan Mbah Nan berbincang tentang pangan lokal di kediaman mereka. Semua foto oleh Agung Purwandono/Mojok.co

Obrolan pagi ini sekaligus menyambung obrolan beberapa hari sebelumnya ketika saya datang ke tempat Lim Wen Sin dan bertemu dengan Catur Pamungkas, seorang petani buah tin dan anggur di Godean, serta Yulia Hartoyo, seorang rekan pengrajin minuman fermentasi. Pak Lim juga dikenal sebagai pembuat aneka minuman fermentasi

Baca juga:  Penyedia Jasa Open BO dan Bagaimana Mereka Menjalankannya

Pak Lim lalu bercerita tentang orang-orang sepuh di Dusun Cancangan yang dahulu mendapatkan asupan protein dengan makan berbagai jenis ulat dan serangga, seperti orong-orong, gangsir, tarantula Jawa, belalang, jangkrik, hingga gendon kelapa. Tapi anak-anak muda di dusun tersebut kini tidak tahu bahwa serangga-serangga itu bisa dimakan.

“Pengetahuan seperti itu tidak diturunkan ke anak-anak mereka. (Sekarang) cari gampang, yang nggak mau repot,” katanya, menyesalkan.

***

Burung hantu dan sosok Lim Wen Sin tidak bisa dilepaskan. Burung bernama latin Tyto alba javanica atau Serak Jawa itulah yang membuatnya meninggalkan ingar bingar kota lalu menyepi di kaki Gunung Merapi. Sejak 2013, laki-laki yang biasa dipanggil Pak Lim ini tinggal di Dusun Cancangan, Wukirsari, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi DIY.

Di dusun itu dulunya, Lim Wen Sin tinggal bersama anak istrinya di rumah kosong yang dipinjamkan penduduk setempat. Semenjak berpisah dengan istrinya, Pak Lim lebih banyak menghabiskan waktunya di Sekretariat Kawasan Studi dan Konservasi Burung Serak Jawa di dusun tersebut. Ia mengawal program Burung Hantu Sahabat Petani yang dijalankan petani setempat.

Bagaimana ia bisa jadi pawang burung hantu, semua berawal di 2009, saat Pak Lim memutuskan tidak aktif lagi di kegiatan pengamatan burung yang ia tekuni sejak 2000. Kegiatan yang ia tekuni sejak masih kuliah di jurusan Biologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta itu ia tinggalkan karena ingin fokus mengurusi bengkel keluarganya di daerah Sedayu, Bantul.

Namun, ada keresahan yang memanggilnya terkait burung. Saat itu ia berpikir, apa yang bisa ia lakukan setelah kesibukannya siang hari di bengkel?

“(Saya ingin punya) kegiatan di malam hari, tapi yang bermanfaat bagi orang lain. Saat itu kepikiran burung hantu,” kata Pak Lim yang di tahun itu pula ikut membidani lahirnya Raptor Club Indonesia (RCI) karena prihatin dengan kondisi burung predator di Indonesia.

Burung hantu, atau masyarakat Jawa mengenalnya dengan Serak Jawa, merupakan burung nokturnal yang aktif di malam hari. Ia masuk jenis burung predator atau burung pemangsa, khususnya memangsa tikus. Saat itu pula terpikir oleh Pak Lim untuk membantu petani melalui burung hantu.

Pak Lim tidak ingin setengah-setengah. Bersama beberapa temannya, ia mengamati burung hantu. Tidak tanggung-tanggung, pengamatan dan penelitian itu berlangsung hingga tiga tahun lamanya.

“Awalnya saya melakukan pengamatan di Jogja National Museum, melihat bagaimana aktivitas burung hantu keluar, mencari mangsa, membangun sarang,” katanya.

Baca juga:  Burung Hantu dan Perang Antargeng di Cancangan

Pak Lim juga datang ke Mojokerto dan Trowulan di Jawa Timur untuk melihat aktivatas petani di sana yang menjadikan burung hantu sebagai pengontrol serangan tikus di persawahan. Ia tidak begitu saja percaya, sarang burung yang dibuat petani bisa langsung dihuni burung hantu. Ia meminta petani setempat membuktikannya dengan membuat sarang burung hantu baru.

“Saya minta dibuatkan sarang, saya tanya berapa harganya, saya bayari, asal bisa tahu cara buatnya. Cukup mahal saat itu karena pakai kayu jati lama,” katanya.

Dari situ, Pak Lim jadi tahu trik agar burung hantu mau datang dan betah di sarang. Mulai dari tinggi sarang, letak pintu, tertutup atau terbuka, akan menentukan burung hantu bakal datang atau tidak. Selain mempelajari karakter burung hantu, Pak Lim juga belajar tentang karakter tikus sawah.

***

Pak Lim lahir di Yogyakarta dari keluarga Tionghoa. Kakeknya datang dari Tiongkok dengan menggunakan kapal dan tiba di Kalimantan Selatan. Tahun tepatnya Pak Lim tidak tahu.

“Pokoknya zaman Wong Fei Hung,” katanya mengingat cerita kakeknya. Iya, Wong Fei Hung, jagoan kungfu yang terkenal dengan Tendangan Tanpa Bayangan itu tokoh nyata yang hidup di China antara tahun 1874-1925.

Dalam nada bercanda, Pak Lim mengatakan mungkin kakeknya saat naik kapal tertidur sehingga bukannya turun di Singapura, tapi malah di Kalimantan Selatan. Sang kakek dan dua saudaranya kemudian menetap di Kalimantan Selatan sembari berdagang dan bertani, sebelum kemudian pindah ke Surabaya. Orang tua Pak Lim sendiri saat dewasa bekerja di Jakarta, lalu memutuskan tinggal di Yogyakarta setelah mereka menikah.

“Saya anak keempat dari lima bersaudara. Saya lahirnya di daerah Pasar Tela, Karangkajen, pindah ke Kalibayem, kemudian pindah di daerah Sedayu, Bantul,” katanya.

Lalu apa alasan Pak Lim mau mendampingi petani, yang ia lakukan secara swadaya? “Kalau saya ngurusi duit, cukup saya ngurusi bengkel saja, saya sudah dapat duit gede. Ngapain coba saya ngurusi petani seperti ini, bukan sawah saya juga,” katanya.

Jawabannya, menurut Pak Lim, adalah mendengar kata hati.

Pak Lim menyadari hidup sebagai petani itu berat. Ia bisa melihat kehidupannya keluarga kakeknya. Namun, ada yang berbeda dengan petani di Tiongkok dengan di Indonesia. Ia melihat ada satu hal yang membuatnya prihatin sehingga mantap untuk terus mendampingi petani di Cangkringan.

Pak Lim bersama dua tamu yang datang ke Konservasi Burung Hantu di Cancangan.

Pak Lim bersama dua tamu yang datang ke Konservasi Burung Hantu di Cancangan.

“Petani kita tidak bangga identitas dirinya sebagai petani. Salah satunya bisa dilihat dari kemauan untuk meneruskan tradisi,” katanya. Itu juga yang menjadi alasannya ikut nguri-nguri budaya dan tradisi Jawa melalui berbagai aktivitas. Salah satunya mengadakan tradisi wiwitan di Dusun Cancangan. Dulunya tradisi ini masih dilakukan secara diam-diam di sore menuju malam karena tidak semua masyarakat setuju.

Baca juga:  Di Hari Tani Nasional 2018, Mahasiswa Pingsan Saat Unjuk Rasa

“Sebuah bangsa akan musnah kalau mereka melupakan tradisi. Tiongkok itu besar hingga kini karena mereka tidak melupakan tradisi. Imlek itu tradisi, tidak peduli yang tertulis di KTP-nya apa,” kata Pak Lim.

Selain wiwitan, Pak Lim juga mulai memunculkan satu tradisi yang juga sudah dilupakan petani, yaitu njenangi. Jika wiwitan dilakukan sebelum panen sebagai wujud syukur kepada Tuhan, njenangi dilakukan saat petani menabur benih. “Itu harusnya satu kesatuan dengan wiwitan, tapi banyak orang Jawa yang tidak tahu, malah ini orang Cina yang ngasih tahu,” katanya tertawa.

Lewat upacara wiwitan, Pak Lim mengenalkan makanan yang mungkin judah jarang dikenali. Misalnya botok yuyu/ketam, nasi megono, dan meniran. Upacara wiwitan di Dusun Cancangan kemudian “dijual” kepada orang-orang yang ingin merasakan bagaimana tradisi dilakukan.

***

“Sampai kapan akan tinggal di Cancangan, Pak Lim?”

Mendapat pertanyaan tersebut, Pak Lim tersenyum. “Sampai tidak dibutuhkan oleh petani di sini,” katanya.

Saat ini serangan tikus relatif sudah bisa dikendalikan. Ia ingin membantu petani di Cancangan lebih percaya diri dengan identitasnya sebagai petani. Salah satunya untuk tidak sepenuhnya menggunakan pupuk kimia.

Tanah di Cancangan sebenarnya subur karena banyak mata air. Oleh karena itu, sebenarnya pertanian organik cocok dilakukan. Namun, ia menyadari hal itu tidak mudah. Doktrin sejak ’70-an ketika pupuk kimia mulai masuk ke Indonesia kadung mengakar pada cara berpikir petani.

Rasa percaya diri yang kurang itu terlihat di antaranya saat petani masih saja memberi pupuk kimia, padahal tanaman sudah subur. “Pasti beberapa hari setelah dipupuk, akan ada serangan tikus. Selain itu batang padi menjadi tidak kokoh, mudah roboh,” kata Pak Lim.

Beberapa petani ia lihat mulai menggunakan pupuk berimbang. Ada yang membawa batang-batang padi dan kotoran ternak untuk difermentasi. Menebarkannya menjadi pupuk saat musim tanam tiba. Pak Lim masih memiliki harapan untuk tinggal lebih lama di Kaki Merapi, melihat warga Cancangan, bangga dengan identitasnya sebagai petani.

BACA JUGA bagian kedua liputan ini, Burung Hantu dan Perang Antargeng di Cancangan, dan kisah-kisah menarik lainnya di rubrik SUSUL.