• 18
    Shares

MOJOK.CO Dikit-dikit bilang “Twitter please do your magic” dan minta retweet—apakah ini semacam survival kit untuk bertahan di kehidupan berbasis teknologi???

Seorang teman mengabari saya sesuatu: ia baru saja mengirim email pada mantannya gara-gara terpacu tagar #SapaMantan yang tempo hari ramai di Twitter. Hebat sekali, batin saya. Menyapa mantan—apalagi yang meninggalkan kita dengan kejam karena perselingkuhan—adalah hal yang mungkin tak akan pernah saya lakukan.

Tapi, teman saya baik-baik saja, tuh. Mantannya membalas email sedikit lebih panjang dan saya bisa merasakan aroma penyesalan di sana. Haha. Kapok kowe, Mas.

Meski begitu, yang patut saya soroti di sini adalah keberanian teman saya: menghubungi mantannya kembali untuk mengobrol tanpa mengemis retweet di Twitter.

Eh, gimana, gimana?

Jadi begini, Pemirsa sekalian. Saya rasa, masa-masa ini sudah tiba: masa-masa di mana kita sangat tergantung pada media sosial. Gejalanya tentu sudah kita rasakan sejak lama: orang-orang pergi ke kafe yang bagus bukan untuk mengobrol dengan kawannya, melainkan untuk update location dan di-share di Path; orang-orang lain memesan makanan di restoran bukan untuk langsung dimakan, melainkan difoto-foto dulu dan di-update ­ke Instagram Story; hingga orang-orang menampilkan foto-foto mesra dengan kekasihnya hanya demi komentar “relationship goals”, padahal aslinya mereka punya komunikasi paling buruk sedunia.

Nah, gejala-gejala ini kini mulai mewarnai Twitter jauh lebih sering.

Setelah media sosial yang satu ini ramai dengan thread skandal para selebtwit berisi pengakuan followers mereka yang diajak berhubungan intim, ada lagi tren annoying di Twitter: budaya minta retweet yang tak kenal lelah!!!!11!!1!!!!!

Bukan, ini bukan soal kebiasaan seseorang yang mengambil gambar bapak-bapak atau ibu-ibu tua penjual kue putu, keranjang bambu, atau barang apa saja yang dilengkapi dengan caption menyayat hati dan mengundang komentar “Duh, aku nggak tega”, lantas mengajak kita untuk bersyukur dan berhenti mengeluh karena ada orang yang berada di posisi “lebih sulit”—meskipun saya juga bertanya-tanya kenapa untuk bersyukur saja kita harus “mengasihani” orang lain yang tampak sedang kesulitan, alih-alih langsung bersyukur beneran dan, bila perlu, membantu yang ingin kita bantu tanpa menghujaninya dengan pandangan kasihan.

Baca juga:  Nggak Segera Ditembak Gebetan, Padahal Udah PDKT Dua Tahun

Ini, Teman-teman sekalian, adalah soal kebiasaan aneh pengguna Twitter yang “apa-apa-minta-retweet”. Persamaannya, mereka sama-sama menggunakan kalimat mantra “Twitter please do your magic.”

Hadeeeeh~

Pernah, kan, kalian lihat ada orang di Twitter yang tahu-tahu meminta retweet hingga 1.000 dengan tujuan yang, katakanlah, tidak berdampak signifikan bagi seluruh hidup manusia??? Misalnya, untuk potong rambut gundul separuh, mengajak nonton gebetannya, mengakui perasaan cintanya pada seseorang, atau bahkan menghubungi mantan kembali—pernah, kan???

Saya pernah membaca thread yang maniiiis sekali soal kisah seorang anak perempuan SMA yang berkencan dengan gebetannya. Dan yang penting, dia nggak butuh 1.000 retweet untuk berbagi kisahnya yang hangat ini. Dia juga nggak butuh 1.000 retweet untuk meminta gebetannya nonton bareng, dan gebetannya pun cukup normal dengan tidak balas mensyaratkan si perempuan untuk memiliki ribuan retweet supaya dia bisa dibonceng naik sepeda motor.

Kisah si anak perempuan yang manis ini nyatanya jauuuuuh lebih berkesan daripada utas lain soal laki-laki yang meminta retweet dengan target angka tertentu hanya untuk mengirimkan pesan berbunyi: “Kamu disukai sama yadi, alias yadiriku. Hehe.” pada anak perempuan yang disukainya.

Maksud saya, memangnya 1.000 retweet ini bakal jadi pencapaian yang “wah”, ya, di mata sang gebetan??? Apakah di zaman sekarang, kalau lagi PDKT, bakal ditanyain, “Kamu punya apa, kok, berani-beraninya naksir saya?” dan harus dijawab, “Saya punya 1.000 retweet!” agar proses menuju jadian berjalan dengan lancar dan mulus??? Apakah nanti pas mau nembak, dia juga perlu ribuan retweet lainnya??? Terus pas mau ngelamar, apa dia bakal minta retweet lagi—hingga menikah???

Baca juga:  Pengakuan dari Pelaku dan Korban Ghosting: Apa yang Kamu Lakukan Itu Jahat!

Saya curiga, jangan-jangan, nanti kalau mereka nikah, si laki-laki bakal bilang, “Saya terima nikah dan kawinnya Anu binti Ini dengan mas kawin 1.000 retweet…” dan dokumentasi pernikahannya disebar dengan caption “Twitter please do your magic”. Hadeh!

Padahal, belajar dari teman saya yang secara berani mengirimkan email pada mantannya dan anak perempuan SMA yang manis di atas, seluruh “pengemis” retweet tadi semestinya mengerti bahwa konten-konten di media sosial memang seru kalau jadi bahan pembicaraan banyak orang dan mendapat banyak like dari followers. Tapi, satu hal yang sering luput dari mereka adalah…

…bahwa apa yang semestinya bisa kamu lakukan karena memang ingin kamu lakukan sama sekali tak memerlukan pembenaran dari orang lain, begitu pula sebaliknya.

Kalau kamu memang menyukai seseorang dan ingin mengatakan padanya, ya katakan saja. Buat apa, sih, menunggu 1.000 orang asing menekan tombol retweet-mu? Kalau yang nge-retweet cuma 999 orang, apakah kamu bakal menyerah dan memilih menutupi perasaanmu sendiri dan rela-rela saja kehilangan orang yang kamu suka?

Kalau kamu memang tidak ingin mengajak seseorang nonton film bareng, ya nggak usah diajak. Pergi nonton saja sendiri. Nggak perlulah kamu membuat tantangan di Twitter dengan meminta 1.000 retweet dan membual soal kamu akan mengajak pergi mantan kekasihmu. Kalau retweet-nya beneran sampai 1.000 dan kamu belum siap mental ketemu mantan, masa iya kamu mau memaksakan diri demi orang-orang yang bahkan nggak tahu perjuanganmu move on dari si brengsek mantan kekasihmu itu?

Tapi, yah, tahu apa saya soal kamu sampai ngatur-ngatur gini? Yang penting kamu bahagia, dan itu sudah cukup bagi saya.

(Ini apaan dah, kenapa jadi baper gini closing-nya???)

  • 18
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles