• 68
    Shares

MOJOK.CO Setidaknya, ada tiga alasan penting mengapa ngobrol di kereta bukan ide yang bagus-bagus amat untuk dilakukan dengan tujuan berbasa-basi.

Dalam perjalanan merantau saya selama kurang lebih 9 tahun, transportasi umum menjadi salah satu aspek familiar. Di jalur darat, misalnya, andalan saya adalah bus Efisiensi jurusan Cilacap-Jogja yang dulu harga tiketnya cuma 40 ribu rupiah (sudah dapat roti dan bebas pilih jenis minuman yang ditawarkan) hingga kini harganya 70 ribu rupiah dan hanya dapat air mineral satu botol.

Di jalur darat lain yang agak lancar, saya juga suka naik kereta. Harganya memang lebih mahal, tapi bebas dari kendala macet. Paling-paling yang bikin lama cuma kalau ada keharusan berhenti di stasiun tertentu yang cukup lama karena jalurnya digunakan bergantian dengan kereta lain.

Sebentar, sebentar—karena saya tidak menulis ini untuk rubrik Otomojok, jadi saya akan langsung ke intinya saja.

Jadi, gini. Mau naik kereta, bus, travel, kapal, atau pesawat sekalipun, masalah yang sering saya rasakan dalam menaiki transportasi umum adalah: harus nggak sih ngajakin orang di sebelah kita ngobrol??? Kalau harus, kita sebenarnya mesti ngobrolin apa dan sampai seberapa lama??? Kalau memang nggak harus, tolong kasih tahu saya kenapa ibu-ibu di sebelah saya ini ngajakin ngobrol terus nggak berhenti-berhenti???

Ya, ya, ya, problematika ini terus menghiasi kepala saya setiap kali duduk di Efisiensi atau kereta-kereta tujuan Cilacap. Karena sayanya pelor alias nempel-molor, kebiasaan yang biasa saya teladani adalah duduk, pasang headphone, lalu tidur. Tapi, kadang-kadang, hal ini tidak bisa dilakukan, terutama kalau ada hal menyebalkan yang terjadi lebih dulu: orang di sebelah saya bertanya, “Mau ke mana, Mbak?”

Betul, Saudara-saudara, pertanyaan “Mau ke mana, Mbak?” adalah pertanda bahwa sebuah obrolan panjang bisa saja terjadi jika kita tidak berhati-hati. Meski sudah jelas kita naik bus menuju Cilacap atau kereta dengan tujuan akhir Cilacap, pertanyaan tersebut tetap tidak akan basi dilemparkan oleh orang lain. Yah, siapa tahu turun di Kebumen, begitu mungkin pikir mereka.

Baca juga:  Mau Bus Mustika Atau Mila Sejahtera, 7 Situasi Menyebalkan Ini Bisa Terjadi

“Cilacap, Bu/Pak/Mas/Mbak.”

“Kuliah, Mbak? Semester berapa?” tanya orang di sebelah kita lagi.

Nah, ini dia, another pertanyaan dilematis yang menjebak!!!!!1!!!1!!

Eh, tapi kenapa saya sebut dilematis?

Perlu dicatat, saya adalah tipe penumpang yang nggak suka-suka amat ngobrol di kereta, bus, atau alat transportasi lainnya, khususnya dengan orang asing. Jadi, jenis pertanyaan yang kian bertambah sesungguhnya cukup ‘mengganggu’ bagi saya yang udah ngantuk banget dan cuma pengin tidur. Tapi di sisi lain, pertanyaan di atas cukup menggelitik rasa GR saya: kok saya dikira masih kuliah??? Memangnya muka saya masih semuda itu, ya??? Duh, kan saya jadi senang!!! Hehe~

Berkat pertanyaan yang bikin GR ini, saya pun kembali menjawab dan mengurungkan niat pura-pura ketiduran. Hadeh, lemah memang~

FYI, tidak semua orang benci aktivitas ngobrol di kereta. Pemred Mojok, Agus Mulyadi, pernah menyebutkan bahwa dirinya adalah tipe penumpang yang merasa hampa dan tidak sah menjadi penumpang kereta kalau tidak berbasa-basi mengajak ngobrol di kereta pada mereka-mereka yang beruntung duduk di sebelahnya.

Prinsip beliau patut-patut saja dihargai, tapi saya jelas berada di pihak berseberangan. Bahkan sejak pemilihan tiket saat proses pembelian pun saya berusaha memilih kursi yang sebelahnya belum terisi.

Biar apa? Ya biar nggak ribet diajak ngobrol panjang-panjang pas lagi ngantuk, lah~

Setidaknya, ada tiga alasan penting mengapa ngobrol di kereta bukan ide yang bagus-bagus amat dilakukan menurut saya. Apa sajakah itu?

*JENG JENG JENG*

Pertama, ada hal yang bernama privasi, Gaes. Coba dipikir-pikir lagi: apa, sih, tujuannya bertanya hal-hal yang kelewat jauh, seperti soal alamat tinggal, pekerjaan orang tua, status perkawinan, capres pilihan dalam Pilpres 2019, dan lain sebagainya?

Meski pertanyaan tersebut bisa dijawab asal-asalan oleh orang lain, kenapa juga harus sampai menanyakan hal itu saat ngobrol di kereta??? Kenapa nggak ngobrolin hal yang lain aja, misalnya soal alasan kenapa AC kereta dingin banget??? Apakah ini karena AC-nya ngambek dan nggak pernah diberikan kasih sayang???

Tapi, yaaaah, kenapa nggak sekalian aja diam dan nggak usah ngobrol biar kita bisa tidur? Hehe~

Baca juga:  Menggantikan Rio Haryanto dan Sederet Karier Lain untuk Sopir Sumber Kencono

Kedua, kalau terlalu asik mengobrol dan, tanpa sadar, bersuara cukup keras, kita justru akan mengganggu penumpang lainnya.

Pernah, kan, berada dalam satu kereta, atau satu bus, atau satu kendaraan dengan seseorang yang seenaknya saja menyetel lagu-lagu ST12 keras-keras dari hapenya, atau seseorang yang menelepon orang lain dengan loud speaker dan mengomel seenaknya, sampai-sampai semua orang di gerbong kereta atau bus tersebut tahu permasalahan pribadi macam apa yang sedang ia alami???

Nah, Saudara-saudara, jika aktivitas ngobrol di kereta atau kendaraan umum lainnya dilakukan terlalu bersemangat, risiko mengganggu orang lain ini justru bisa menyerang kita. Bayangkan rasanya jadi penumpang lain yang terganggu: tidakkah hati nuranimu merasa tercabik-cabik, wahai tukang basa-basi di kereta???

Ketiga, ngantuk. Iya, alasannya cuma satu: ngantuk.

Beberapa orang hanya berbasa-basi sebentar untuk ngobrol di kereta, sebelum akhirnya mulai meneruskan kontemplasi sambil memandang ke luar jendela. Sialnya, ada juga orang-orang yang memilih untuk meneruskan obrolan panjaaaaaaaang sekali, sampai-sampai tidak melihat kantong mata kita (hah, kita???) sudah menghitam karena kelamaan lembur sejak seminggu sebelum naik kereta.

Awalnya, sih, kita bisa menjawab dengan semangat dan sopan santun yang melimpah. Namun, karena obrolan kian panjang, jawaban kita pun ikut-ikutan lemes, persis kayak saat-saat kita diajak ngobrol driver ojek online, tapi suaranya nggak kedengeran sama sekali, jadi kita cuma jawab, “Hehehe, iya, Pak.”

Maksud saya, memangnya orang-orang yang hobinya ngobrol di kereta ini nggak ngantuk, ya???

Tapi, yaaah, namanya juga hidup: kadang berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan, tapi kadang nggak. Kita mungkin ogah diajak ngobrol di kereta lama-lama, tapi siapa tahu penumpang di sebelah kita cuma kebanyakan baca novel Critical Eleven.

Ya mau gimana lagi; di novel itu, tokoh Aldebaran Risjad dan Tanya Baskoro diceritakan duduk bersebelahan dan mengobrol selama tujuh jam penerbangan Jakarta-Sydney, sampai-sampai Mas Aldebaran-nya yakin setengah mati bahwa dia menginginkan Mbak Tanya sejak delapan menit sebelum mereka berpisah.

Duh, tapi plis lah—tangi, Mblo, tangi!!!!1!!!1!!!!

  • 68
    Shares


Loading...



No more articles