MOJOK.CO Semakin lama hidup di Planet Bumi, saya jadi paham satu hal: ada beberapa jenis teman yang—siap-siap saja—bisa kamu temui dalam circle-mu sendiri.

Saya pernah terobsesi memiliki teman yang banyak jumlahnya. Sewaktu SD, saya—yang saat itu jauh lebih percaya diri dari saya hari ini—kerap berusaha berbaik-baik hati dan menghibur teman-teman di kelas. Dengan cara ini, saya yakin pertemanan kami tak bakal putus.

Tapi tiba-tiba, masa-masa dewasa datang. Menyerang.

*JENG JENG JENG*

Dulu, saya pikir, teman adalah orang yang bakal selalu kamu hubungi, atau menghubungimu. Tapi, semakin lama hidup di Planet Bumi yang belakangan ini lagi panas banget naudzubillah, saya jadi paham satu hal: seorang teman tak bisa sesederhana itu.

Nyatanya, ada beberapa jenis teman yang—siap-siap saja—bisa kamu temui dalam circle-mu sendiri.

Pertama, jenis teman yang ya-udah-kenal-aja-gitu.

Saya pernah ngobrolin seorang teman, bernama Anto, dengan teman saya yang lain, yang bernama Hoed. Dari Hoed, saya tahu bahwa Anto kini bekerja di sebuah media massa. Saya kagum dan bertanya-tanya, apakah Anto mengenal saya, karena saya jadi ingin mengobrol dengannya.

Hoed geleng-geleng kepala, “Anto itu kenal kamu. Kan kita semua temen satu fakultas, gimana sih?!”

Saya geleng-geleng kepala. Ini beneran, bukan karena saya nggak kreatif cari diksi. Anto itu mahasiswa populer, sedangkan saya nggak. Jangankan di kalangan temen, lah wong anak kos saya aja kadang lupa nama saya.

Baca juga:  Standar Kenyamanan Hidup Itu Nonton Mamah Dedeh

Tapi, mendengar jawaban Hoed, saya jadi mengerti: dalam dunia pertemanan, seseorang bisa saja menganggapmu teman (begitu juga sebaliknya) karena kalian saling tahu nama, meski mungkin tanpa ada interaksi langsung yang intens. Uwuwu, so sweet~

Kedua, jenis teman yang dipertemukan kebutuhan.

Selalu berulang: seorang teman yang menghubungimu karena ada keperluan—atau mungkin kamu yang menghubungi mereka karena suatu kepentingan. Tapi, jangan misuh-misuh dulu dan nge-judge mereka sebagai manusia-manusia egois. Ayolah, ada masa-masa di mana kita memang harus menghubungi orang tertentu demi sesuatu, kok!

Saya punya teman yang jago benerin laptop. Dia nggak keberatan kalau saya tiba-tiba menghubunginya untuk membantu memperbaiki laptop setelah kami nggak mengobrol 3 minggu. Saya juga pernah dihubungi seorang teman yang menangis gara-gara dipukul oleh pacarnya (brengsek betul!), meski kami hampir tak saling bicara selama satu bulan.

Saya butuh laptop saya diperbaiki. Teman saya butuh tempat untuk bercerita.

Tidak ada yang salah. Semakin dewasa, pertemanan memang semakin absurd. Kadang-kadang, kamu bakal bertemu hanya karena ada perlu, lalu kembali menghilang hingga keperluan berikutnya.

Yaaaah, sesekali marah karena merasa dimanfaatkan dan diingat hanya kalau ada perlu juga nggak apa-apa, sih. HAHAHA.

Ketiga, jenis teman yang “kantong ajaib”-nya kelewat penuh.

Di serial anime Doraemon, Nobita kerap ditolong oleh Doraemon—apa pun keadaannya. Nobita dapet nilai 0, dikasih pensil ajaib dan roti penghafal catatan biar nilai ulangannya naik. Nobita digangguin Jaian, dikasih pasukan robot untuk balik melawan. Nobita pengin deketin Shizuka, dibantuin dengan alat pemanggil ke rumah.

Baca juga:  Merayakan Ulang Tahun Nobita, Bucin Pemalas Nomor Satu di Jagat Raya

Yah pokoknya, kalau ada orang ngeluh sedikit aja, pasti segera dikasih solusinya sama temen-tipe-Doraemon ini.

Hmmm. Coba kalau kita punya jenis teman setipe Doraemon: kayaknya nggak ada lagi, deh, itu akun Nanti Kita Sambat tentang Hari Ini atau acaranya Mamah Dedeh setiap pagi habis Subuh di tivi. Semua masalah, kelar tanpa sambat!

BACA JUGA 7 Tipe Teman dalam Geng Pertemanan, Termasuk Geng Kru Mojok atau artikel Aprilia Kumala lainnya.